Hadirmu bagai sinar mentari pagi. Menerangi lorong kelam lagi sunyi yang selama ini ku lalui. Melenyapkan kedukaan yang bagai berkurun lama memenjara jiwaku dalam sepi. Terasa kini, bahagia ada di mana-mana. Hanya dirimu yang bertakhta di hati.

Pandanglah ke dalam mataku. selamilah jauh hingga ke dasranya. Pasti yang akan kau lihat adalah rinduku terhadapmu. Tapi, apakah getaran cinta yang meruntun hati hanya aku saja yang merasakannya?

Mengapa kau terus membisu pada ketika aku amat yakin yang aku bukan berbayang seorang diri? Aku tahu cintaku berbalas, tapi mengapa tak pernah sekalipun kau melafazkannya? Aku tahu perkahwinan bukan janji syurga. bukan janji bahagia, tapi sepenuh hati dan jiwa aku pertaruhkan.

Aku sangka kita berkongsi impian yang serupa dalam membina istana bahagia, tapi rupa-rupanya kehadiranku bagai tak bermakna apa-apa. Reaksimu dingin dan beku.

Menghampakan. Melontar diriku ke lembah duka nestapa.Sungguh kesucianku tak tercela, tapi. aku difitnah oleh siapa sehingga kau tak mahu ‘menyentuhku’?

Aku ibarat musafir di padang pasir yang dahagakan setitis kasihmu. Menanti saat kau datang kepadaku dengan penuh rindu.

Aku tak mengerti, sandiwaramu. Rahsia apakah yang cuba kau sembunyikan hingga segalanya terus terpendam menjadi misteri?

cinta terhadap lawan jenis dan impian menggapai ridha Allah. Tidak diragukan lagi, inilah problem krusial dan dilematis setiap remaja muslimah yang ingin menjaga kesuciannya di tengah fitnah jaman yang serba permisif.

Dilema remaja muslimah yang berusaha menapak perjalanan batinnya secara manusiawi dengan keanggunan ruhani.tetapi cinta dengan tetap komitmen menjaga aturan agama.

Sebuah liku perjalanan cinta yang mendebarkan, mengharukan sekaligus sangat mengagumkan. Begitu dahsyatnya belaian sang cinta, justeru cinta menimbulkan energi dan kekuatan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Akhirnya tidak ada pilihan lain bagi saya, kecuali sebuah keputusan untuk menunggu MU, sang bidadari hati, hanya di pelaminan. Bukan dengan berasyik masyuk dalam lamunan hayalan, cinta monyet atau pacaran yang membakar gejolak birahi setan.

saya bukan sekedar nekat meraih mimpi-mimpi indah dalam ikatan suci pernikahan. Tetapi ia berangkat dari sebuah motivasi besar untuk membangun rumah tangga dengan penuh tanggung jawab. Untuk sebuah kesucian, untuk sebuah kedamaian, untuk cinta dalam ikatan sakral dan untuk sebuah masa depan yang diridhai Tuhan. Ya, dengan kekuatan imannya, saya berani menanggung segala resiko dan konsekwensi kehidupan dan lika-liku cintanya, meski dalam usia yang masih remaja .

Laki-laki itu bertanggung jawab terhadap rumahnya(keluarganya) (HR. Bukhari dan muslim)

Segala sesuatu yang diberikan /diinfakkan oleh seorang laki-laki dalam rumah tangganya untuk istrinya
anaknya dan pelayannya maka itu menjadi shadaqah baginya. (HR Thabrani)

“Bukankah untuk ibadah kita menikah?” tanya saya kepada ukhti dalam suratnya.

Perjuangan menjaga komitmen menjadikan pernikahan benar-benar sebagai ladang ibadah. Inilah yang mewarnai pasangan muda ini di awal-awal rumah tangganya. Lebih memilih kondisi ekonomi pas-pasan demi kemandirian dan tanggung jawab atas pilihan hidup untuk menikah disaat kuliah. Pernak-pernik yang mengharu biru meramu perjuangan meraih sukses kuliah, menjaga komitmen ibadah dan dakwah, serta menikmati romantisme sebagai pengantin muda.

Untuk mereka yang mengharap cinta yang tidak membuahkan nista dan cerita sukanya tidak berakhir sengsara. Untuk mereka yang menghasratkan cinta tetapi tanpa menodainya, tidak meminggirkan etika, tidak mengabaikan norma, dan tidak melangkahi agama. Untuk mereka yang mendambakan cintanya benar-benar indah, berharga, bermakna, serta mengalirkan bahagia yang sesungguhnya.

Untuk mereka yang mengangankan cintanya penuh cita rasa tetapi juga menjadi ladang ibadah kepada-Nya dan ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasul-Nya. Untuk mereka yang memperjuangkan cintanya menjadi harmoni antara pemenuhan hak diri dengan amal shalih. Untuk mereka yang sedang meniti cinta yang menjanjikan ketenteraman di kehidupan dunia ini dan kedamaian di Akhirat nanti.

Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.

Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan
hanya yang baik buat kita. Amin.

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukanmereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)

Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memeliharakehormatannya” . (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majahhadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu ʽalaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasihdan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)

semoga Allah akan mentakdirkan cinta kita di dalam rumah -Nya , rumah dan tempat paling suci di muka bumi. Tempat segenap umat Islam melakukan ibadah dan kebaikan. Tempat yang paling dicintai Allah, tempat tujuan orang-orang shalih.

“Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah : 214)

Itulah janji hamba Allah untuk menggapai ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dan Allah tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun Allah tidak / belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih sayang Allah yang lebih besar buat kita. Kita harus berbaik sangka kepada Allah. Inilah keyakinan yang harus ada pada setiap muslim.

Yang sedang mengalami, bisa jadikan kisah ini sebagai teman berbagi. Yang sedang di ambang pintu menjalan pernikahan i, kuatkan keteguhan anda untuk memasuki. Yang belum membayangkan, cermati Artikel ini karena mungkin sebentar lagi andalah pelakunya.

Wassalam ,

Andi .Muhammad