“Ketua Umum GP Jamu Charles Saerang meminta BPOM memberikan kemudahan registrasi bagi produsen Jamu untuk memajukan industri Jamu Indonesia kaya akan bahan alam, khususnya tanaman obat dan herbal yang bisa diolah menjadi jamu. Daerah Cilacap, Jawa Tengah, salah satunya, menyimpan potensi luar biasa di industri rumahan jamu. Namun, sayangnya, beberapa tahun lalu, ulah sejumlah oknum menghancurkan citra jamu Cilacap.

Sejak tahun 2004 dan dimatangkan 2009, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui iptek daerah berhasil menciptakan alat penepung jamu tersebut. Penciptaan alat ini tidak hanya menghidupkan kembali mata pencarian masyarakat, tetapi juga menghasilkan jamu berkualitas. Sebab, selain menggunakan peralatan yang lebih aman, produksi jamu juga melibatkan tenaga farmasi guna memastikan kandungan jamu berkhasiat dan aman bagi kesehatan sesuai standar Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Koordinator Kegiatan Pasca Iptekda Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik (Puslit Telimek) LIPI Dr. Ir. Agus Hartanto, M.Eng.Sc mengatakan, kontrol pengolahan jamu dengan peralatan penepung jamu cukup ketat, guna menghalau penggunaan bahan kimia. Kehadiran alat ini ternyata mampu meningkatkan kapasitas produksi perajin jamu hingga 100 kg per hari. Pelaksana Iptekda Puslit Telimek LIPI Dalmasius Ganjar Subagyo menjelaskan, bahan dasar jamu seperti temu hitam, kencur, temulawak, kedawung, kayu manis, cabai jawa, pala, dan tanaman obat lainnya dicuci kemudian bisa dikeringkan dengan sinar matahari atau oven yang juga dibuat LIPI, dibuat menjadi tepung kemudian dimixer.

Tanaman obat lainnya, seperti daun sirih, kumis kucing, keji beliung, sambiloto juga diolah dengan cara serupa. Setelah menjadi tepung jamu yang mengombinasi antarbahan itu, jamu pun siap dikemas. Sebelum ada alat penepung jamu, tambahnya perajin jamu melakukannya dengan cara penggilingan tradisional. Hasilnya pun kurang maksimal.

Baru 69 Produsen

Obat tradisional seperti jamu-jamuan dan herbal mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, lebih dari 900 industri kecil dan 130 industri menengah. Namun, hanya 69 di antaranya mendapatkan sertifikat Cara Pengolahan Obat Tradisional yang Baik (Good Traditional Medicine Manufacturing Practices).“Perkembangan sektor usaha jamu dan obat tradisional masih menghadapi masalah dengan terdapatnya sejumlah produk yang mengandung bahan kimia obat atau tidak memenuhi standar kualitas,” kata Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Sri Indrawaty, ketika membuka rapat kerja nasional pengusaha jamu di Jakarta, Selasa (1/6).

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu) Charles Saerang dalam kesempatan ini mengatakan, dengan dibukanya perdagangan bebas Tiongkok-ASEAN industri jamu mendapatkan ancaman yang sangat serius. Karena itu, Charles meminta BPOM memberikan kemudahan registrasi bagi produsen jamu untuk memajukan industri jamu. [R-15/D-11]

Ari Supriyanti Rikin
Suara Pembaharuan, 10 Juni 2010