bumi tiada cantik tanpa rembulan, wanita tak bersinar tanpa riasan, lalu sipakah yang pantas bergelar lelanangane jagad yang mampu menyihir segenap kaum hawa untuk tertarik padanya. Menjadi tergila gila akan bayangannya.
Sosok figur yang terbayang olehku hanyalah arjuna, yang juga punya nama samaran Janaka ( banyak istri ).
Sosok satria yang lembah manah lemah lembut budi pekerti trengginas dan sakti madraguna, suka menolong kaum lemah khususnya wanita.
The perfect Gentelman i Gues.
Dengan ketampanan dan kelemah lembutannya dia dapat memikat 15 istri yaitu :

1. Dewi Subadra, berputra
Raden Abimanyu;
2. Dewi Larasati, berputra
Raden Sumitra dan
Bratalaras;
3. Dewi Ulupi atau Palupi,
berputra Bambang Irawan;
4. Dewi Jimambang, berputra
Kumaladewa dan Kumalasakti;
5. Dewi Ratri, berputra
Bambang Wijanarka;
6. Dewi Dresanala, berputra
Raden Wisanggeni;
7. Dewi Wilutama, berputra
Bambang Wilugangga;
8. Dewi Manuhara, berputra
Endang Pregiwa dan Endang
Pregiwati;
9. Dewi Supraba, berputra
Raden Prabakusuma;
10. Dewi Antakawulan,
berputra Bambang Antakadewa;
11. Dewi Juwitaningrat,
berputra Bambang Sumbada;
12. Dewi Maheswara;
13. Dewi Retno Kasimpar;
14. Dewi Dyah Sarimaya;
15. Dewi Srikandi.
Ia adalah petarung tanpa tanding di medan laga, meski bertubuh ramping berparas rupawan sebagaimana seorang dara, berhati lembut meski berkemauan baja, kesatria dengan segudang istri dan kekasih meski mampu melakukan tapa yang paling berat, seorang kesatria dengan kesetiaan terhadap keluarga yang mendalam tapi kemudian mampu memaksa dirinya sendiri untuk membunuh saudara tirinya. Bagi generasi tua Jawa, dia adalah perwujudan lelaki seutuhnya. Sangat berbeda dengan Yudistira, dia sangat menikmati hidup di dunia. Petualangan cintanya senantiasa memukau orang Jawa, tetapi secara aneh dia sepenuhnya berbeda dengan Don Juan yang selalu mengejar wanita. Konon Arjuna begitu halus dan tampan sosoknya sehingga para puteri begitu, juga para dayang, akan segera menawarkan diri mereka. Merekalah yang mendapat kehormatan, bukan Arjuna. Ia sangat berbeda dengan Wrekudara. Dia menampilkan keanggunan tubuh dan kelembutan hati yang begitu dihargai oleh orang Jawa berbagai generasi.