Pencipta: Gesang
dipopulerkan oleh penyanyi; waljinah

Dhek jaman berjuang
njur kelingan anak lanang
mbiyen tak openi
ning saiki ana ngendi

Jarene wis menang
keturutan sing digadhang
mbiyen ninggal janji
ning saiki apa lali

Reff:
Ning gunung
tak cadhongi sega jagung
yen mendhung
tak silihi caping gunung
sokur bisa nyawanggunung ndesa dadi reja
dene ora ilang nggone padha lara lapa

Terjemahan

CAPING GUNUNG

Ketika (mengingat) zaman berjuang
Lalu aku teringat seorang pemuda
Dulu kurawat
Tapi sekarang entah dimana

Konon kita (Indonesia) sudah menang (merdeka)
Tercapai yang diinginkan
Dulu pernah berjanji
Apakah sudah dilupakan

Reff

Di Gunung
kuberi ransum nasi jagung
Jika mendhung (Hujan)
kupinjami caping (topi jerami) gunung
Senang rasanya (bersyukur) masi bisa menyaksikan
Gunung dan desa menjadi ramai
Akan tetapi kemiskinan dan kelaparan masih melanda.

Bagi Saya Lagu “Caping Gunung” memberikan barbagai gambaran yang menggelayuti pikiran:
1. Keterasingan seorang patriot yang tercerabut dari zamannya. Zaman dimana hitam dan putih adalah jelas adanya, menjadi seorang patriot yang rela mati demi negaranya atau seorang pengecut yang terus berlari dan bersembunyi, atau bahkan menjadi penghianat hina yang menjual negerinya demi keselamatan pribadi atau segelintir harta. Zaman dimana setiap orang saling bertegur sapa dan meneriakkan pekik merdeka, gotong royong, bersatu padu dan bahu membahu demi sebuah harapan baru, harapan untuk hidup mandiri sebagai sebuah bangsa. Zaman dimana hanya ketulusan dan keberanian demi negeri yang membuat seseorang mampu berjalan tegap membusungkan dada, bukan karena harta yang diperoleh dari menggerogoti ibu pertiwi. Dan masih banyak zaman2 lain yang mungkin hanya akan kita temui dari cerita2 para pendiri negeri ini.
2. Penantian seorang pejuang usang akan janji2 hidup dalam kemerdekaan. Hidup dalam kesejahteraan dan kemakmuran. Tiada lagi kelaparan, kerja keras tanpa upah yang memadahi. Sebuah kehidupan dimana para pendiri ini dihargai, dihormati dengan cara yang paling bersahaja. Sebuah kehidupan dimana meraka, para prajurit tua, bisa turut merasa memiliki negeri ini, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ibu pertiwi. Bukan disingkirkan dengan paksa, dicaci, dianggap pesakitan yang membebani negeri ini.

Bila para pejuang pendiri bangsa saja sudah tidak lagi dipedulikan, akan seperti apa negeri ini kelak?
Bila hanya untuk menghapuskan kemiskinan dan kelaparan seperti yang dicita-citakan para pejuang saja tidak bisa terlaksana, lantas apakah makna kemerdekaan?
Bila mereka yang dulu dengan gagah berani mengangkat senjata demi negeri kini hanya mampu mengangkat tongkat dengan pakaian compang-camping di pinggir jalan, dimanakah nurani negeri ini?
Dan akhirnya sebuah pertanyaan besar terlintas dibenak saya :
Di manakah jiwa nasionalisme dan patriotisme anak-anak bangsa kini?