Gesang belajar musik secara otodidak. Ia lahir di kota Surakarta, Jawa Tengah pada 1 Oktober 1917. Ayahnya seorang pengusaha batik, saat Gesang beranjak remaja pabrik batik milik ayahnya bangkrut. Gesang yang berbakat di bidang musik kemudian mencari cara untuk membantu ekonomi keluarganya dengan membuat lagu dan menyanyi di berbagai acara termasuk acara pernikahan.

Pada usia 23 tahun, Gesang yang tidak bisa membaca notasi musik menciptakan lagu Bengawan Solo, lagu keroncong tersebut langsung populer di Jawa. Saat itu, Bengawan Solo kerap diputar di radio. Karena sering diputar, tentara Jepang yang sedang menjajah Indonesia pun ikut gandrung. Bahkan lagu Bengawan Solo dialihbahasakan ke Bahasa Jepang. Pada 1947, Toshi Matsuda membuat rekaman lagu ini dalam bahasa Jepang, Bengawan Solo pun semakin populer.

Saat peluncuran album karya emas Gesang, dua tahun lalu, Tempo sempat mewawancarai khusus. “Keroncong harus tetap eksis,” ujarnya dengan intonasi tegas. Dia tidak rela jika keroncong yang berasal dari Indonesia kemudian hilang karena sudah tidak disukai masyarakat.

Menurut Gesang, orang-orang usia 40 tahun ke atas sudah tidak cocok dengan lagu pop, apalagi dangdut. “Keroncong inilah yang pas, yang sebenarnya digemari segala bangsa,” katanya dengan pengucapan yang agak terbata-bata.

pada 23 Mei 2008, sertifikatnya baru keluar 31 Agustus 2009. Biayanya pun tidak sedikit, Rp 500 ribu per lagu. Saat merayakan ulang tahun yang ke-72 pada 1 Oktober 2009, Gesang mengaku gembira dan lega karya-karyanya sudah didaftarkan hak ciptanya.

Lagu Gesang yang telah didaftarkan seperti Bengawan Solo ciptaan tahun 1940, Jembatan Merah ciptaan 1943, dan Sebelum Aku Mati yang diciptakan 1963.