Yogyakarta (ANTARA News) – Penelitian kehidupan orang Jawa-Suriname masih sedikit sehingga sering ada persepsi salah mengenai kondisi kekinian budaya Jawa di Surinam, kata antropolog Universitas Gadjah Mada Lono Lastoro Simatupang di Yogyakarta.

“Pemilihan objek penelitian tentang budaya Jawa di Suriname menghadapi hambatan keuangan, karena jarak antara Jawa dengan Suriname cukup jauh,” kata Lono di sela sarasehan “pentingnya penelitian kontemporer Orang Jawa-Suriname sebagai media refleksi kultural”.

Dia menilai, ketersediaan dukungan dana tidak mungkin bisa diakses dengan mudah oleh mahasiswa di Jawa.

“Potensi beasiswa, jika itu tersedia juga terserap oleh mereka yang berprofesi dosen. Penelitian antropologi membutuhkan dukungan semua pihak,” kata Ketua Jurusan Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya UGM ini.

Dia meminta penelitian bersifat kemanusiaan yang menghubungkan Suriname dengan keluarga di daerah asalnya, Jawa, perlu diperbanyak untuk menghilangkan bayangan aneh karena kurangnya komunikasi.

Ia mengatakan, hingga 120 tahun pascaimigrasi orang Jawa ke Suriname, penelitian kehidupan dan upaya membangun identitas kaum muda keturunan Jawa masih sedikit dilakukan.

Penelitian tentang Jawa-Suriname terakhir kali dilakukan s40 tahun lalu oleh antropolog Parsudi Suparlan dari Universitas Indonesia yang menyoroti masalah sistem sosial yang terbangun.

“Budaya Jawa tetap dihidupkan oleh keturunan Jawa-Suriname hingga kini. Bahkan, kaum muda di Suriname masih lekat membangun identitas budaya Jawa dengan lagu,” katanya. (*)