Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa

Yang disimpan oleh PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA

Saya persembahkan bagi semua teman, tepat menjelang hari ulang tahun saya. Semoga berkenan.

Bagian : 1

Purwaka

Pupuh I
Mijil
(Pembukaan, Kumpulan Syair I, Lagu ber-irama Mijil)

1. Prana putek kapetek ngranuhi, wiyoganing batos, raosing tyas karaos kekese, temah bangkit upami nyelaki, rudah gung prihatin, nalangsa kalangkung.

Oleh sebab sesak yang semakin menjadi-jadi, yang muncul dalam hati, terasa bagai diiris-iris, bangkit semakin tak tertahan lagi, gelisah dan gundah, nelangsa berlebih-lebih.

2. Jroning kingkin sinalamur nulis, serat Gatholoco, cipteng nala ngupaya lejare, tarlen muhung mrih ayeming galih, ywa kalatur sedhih, minangka panglipur.

Ditengah keresahan sengaja aku menulis untuk menghibur, (menulis) serat Gatholoco, maksud hati mencari kejelasan, sehingga bisa menentramkan hati, supaya tidak sedih berlarut-larut, sebagai sarana menghibur diri.

3. Kang kinarya bebukaning rawi, Rejasari pondhok, wonten Kyai jumeneng Gurune, tiga pisan wasis muruk ilmi, kathah para santri, kapencut maguru.

Sebagai cerita pembuka, (tersebutlah sebuah) pondok (pesantren) Rejasari, ada Kyai berkedudukan sebagai guru, berjumlah tiga orang sangat pandai mengajarkan ilmu, banyak para santri, terpikat untuk berguru.

4. Bakda subuh wau tiga Kyai, rujuk tyasnya condhong, Guru tiga ngrasuk busanane, arsa linggar sadaya miranti, duk wanci byar enjing, sareng angkatipun.

Seusai (shalat) Subuh ketiga Kyai (tersebut), sepakat bersama-sama, ketiga Guru berganti busana, hendak melakukan perjalanan semua (santri) telah menanti, tepat ketika pagi menjelang, berangkatlah bersama-sama.

5. Murid nenem umiring tut wuri, samya anggegendhong, kang ginendhong kitab sadayane, gunggung kitab kawan likur iji, ciptaning panggalih, tuwi mitranipun.

Diiringi enam orang murid mengikut dibelakang, masing-masing membawa, yang dibawa banyak kitab, jumlah kitab sebanyak dua puluh empat buah, tujuan perjalanan, hendak bertandang ke tempat seorang sahabat.

6. Ingkang ugi dadya Guru santri, ing Cepekan pondhok, Kyai Kasan Besari namane, wus misuwur yen limpad pribadi, putus sagung ilmi, pra Guru maguru.

Yang juga berkedudukan sebagai seorang Guru dari banyak para santri, di pondok (pesantren) Cepekan, bernama Kyai Kasan Besari (Hassan Bashori), sudah terkenal akan kepandaiannya, menguasai segala macam ilmu, sehingga para Guru-pun berguru (kepadanya).

7. Datan wonten ingkang animbangi, pinunjul kinaot, langkung ageng pondhokan santrine, krana saking kathahipun murid, ujaring pawarti, pinten-pinten atus.

Tak ada yang mampu mengimbangi, terkenal dan dihormati, sangat besar pondok pesantrennya, karena memang muridnya-pun sangat banyak, menurut kabar, beratas-ratus (orang).

8. Amangsuli kang lagya lumaris, sadaya mangulon, sepi mendhung sumilak langite, saya siyang lampahnya wus tebih, sunaring hyang rawi, saget benteripun.

Kembali menceritakan mereka yang tengah berjalan, bergerak ke barat, tak ada mendung bergelayut sangat terang langit dikala itu, semakin siang perjalanan mereka semakin jauh, sinar hyang rawi (matahari), terasa menyengat panas.

9. Marma reren sapinggiring margi, ngandhap wringin ayom, ayem samya anyereng kacune, tinamakken ayoming waringin, pan kinarya linggih, jengkeng semu timpuh.

Oleh karenanya memutuskan untuk berhenti dipinggir jalan, tepat dibawah pohon beringin yang sejuk, segar terasa semua mengeluarkan sapu tangan ( pada jaman itu sapu tangan yang dipakai kebanyakan berukuran besar, seukuran handuk mini pada jaman sekarang), dibentangkan dibawah beringin, dipakai sebagai alas duduk, berjongkok setengah bersimpuh.

10. Ecisira cinublesken siti, murid sami lunggoh, munggeng ngarsa ajejer lungguhe, kasiliring samirana ngidid, pating clumik muji, tesbehnya den etung.

Tongkat ditancapkan diatas tanah, para murid telah duduk semua, mengambil posisi duduk didepan ( dan menghadap Kyai Guru) berjajar-jajar, diterpa hembusan angin, bibir (ketiga Kyai Guru) berkomat-kamit melantunkan doa, sembari menghitung tasbih (masing-masing).

11. Murid nenem ambelani muji, dikir lenggak-lenggok, manggut-manggut sirah gedheg-gedheg, dereng dangu nulya aningali, mring sajuga janmi, lir dandang lumaku.

Keenam murid mengikut berdoa, berdzikir kepalanya melenggak-lenggok, mengangguk-angguk kadang bergeleng-geleng pula, belum begitu lama lantas melihat, seorang manusia, (buruk rupa) bagaikan seekor burung gagak yang tengah berjalan.

Pupuh II
Dandanggula
(Kumpulan Syair II, Lagu ber-irama Dandanggula)

1. Endhek cilik remane barintik, tur aburik wau rainira, ciri kera ing mripate, alis barungut tepung, irung sunthi cangkeme nguplik, waja gingsul tur pethak, lambe kandel biru, janggut goleng semu nyenthang, pipi klungsur kupingira anjepiping, gulu panggel tur cendhak.

Berpostur pendek dan kecil dengan rambut keriting, kulit wajahnya kasar, bermata kera (arah pandang mata yang tidak normal), alisnya tebal dan bertemu ujung keduanya, hidung pesek mulut maju, gigi gingsul besar berwarna putih, bibirnya tebal berwarna biru, janggut tumpul (tidak runcing) dan melebar jelek, pipinya kempot bentuk daun telinga maju (seperti telinga gajah), sedangkan leher besar dan pendek.

2. Pundhak brojol semune angempis, punang asta cendhak tur kuwaga, ting carenthik darijine, alekik dhadhanipun, weteng bekel bokongnya canthik, semu ekor dhengkulnya, lampahipun impur, kulit ambesisik mangkak, ambengkerok napasira kempas-kempis, sayak lesu kewala.

Pundak turun seperti luruh kebawah, tangannya pendek dan besar, jari jemarinya tidak rapi jelek, dadanya kempis, perut buncit kecil pantat kecil, lututnya kecil, tidak rapi saat berjalan, kulit tubuh seolah bersisik dengan warna gelap, saat bernafas suaranya terdengar dan tersengal-sengal, bagaikan orang yang tengah kelelahan.

3. Bedudane pring tutul kinisik, apan blorok kuninge semu bang, asungsun tiga ponthange, bongkot tengah lan pucuk, timah budheng ingkang kinardi, cupak ireng tur tuwa, gripis nyenyepipun, meleng-meleng semu nglenga, labet saking kenging kukus saben ari, pangoturik den asta.

Pipa rokok yang dibawa berasal dari pohon bambu berukuran kecil yang digosok, warnanya kuning bersemu merah, diberikan hiasan pada tiga tempat, dibagian pangkal tengah dan ujung, timah hitam yang dipakai hiasan, terlihat jelek berwarna hitam pekat, dibagian untuk menghisap telah gripis (sedikit rusak), berminyak kehitam-hitaman, karena setiap saat terkena asap, walaupun begitu tetap saja dipakai.

4. Kandhutane klelet gangsal glindhing, alon lenggah caket Guru tiga, sarwi angempos napase, kapyarsa senguk-senguk, gandanira prengus asangit, tumanduk mring panggenan, santri ingkang lungguh, Gatholoco ngambil sigra, kandhutane tegesan kang aneng kendhit, gya nitik karya brama.

Bekal yang dibawa adalah candu tiga gelintir, pelan mengambil duduk dekat dengan ketiga Guru, terdengar suara nafasnya, tercium bau badan yang tidak sedap, prengus (istilah Jawa untuk mendefinisikan jenis bau yang mirip dengan bau kambing) sangit (istilah Jawa untuk mendefinisikan bau dari sisa pembakaran), menebar ke sekeliling, ditempat mana para santri tengah duduk, Gatholoco segera mengambil, bekal yang tersimpan dalam buntalan yang terikat dipinggangnya, lantas memantik korek api.

5. Nulya udut kebulnya ngebuli, para santri kawratan sedaya, asengak sanget sangite, murid nenem tumungkul, mergo sarwi atutup rai, saweneh mithes grana, kang saweneh watuk, mingser saking palenggahan, samya pindhah neng wurine guruneki, nyingkiri punang ganda.

Seketika asap rokok menyebar, semua santri terganggu, sengak (istilah Jawa untuk mendefinisikan bau dari benda yang kotor) sangat sangit (lihat keterangan di syair: 5 diatas), kontan keenam murid mengalihkan pandangan dari Gatholoco, sembari menutup wajah (karena terganggu asap berbau tidak sedap), seorang lagi memencet hidung, seorang lagi terbatuk-batuk, segera mereka bergeser, duduk dibelakang para guru mereka, menghindari bau yang tak sedap.

6. Guru tiga waspada ningali, mring Wajuja ingkang lagya prapta, kawuryan mesum ulate, sareng denira nebut, astagapirullah-hal-ngadim, dubillah minas setan, ilaha lallahu, lah iku manusa apa, salawase urip aneng dunya iki, ingsun durung tumingal.

Ketiga guru memperhatikan dengan seksama, kepada Wajuja (diambil dari nama sekelompok makhuk bar-bar pengganggu yang tertulis dalam Al-Qur’an, yaitu Ya’juj wa Ma’juj) yang baru datang ini, terlihat tidak patut tingkahnya, hampir bersamaan mereka berucap, Astaghfirullahal ‘adzim (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung), Audzubillahiminassyaithon (Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan), Laillahailallahu (Tiada Tuhan selain Allah), Manusia apakan ini? selama hidupku didunia ini, aku belum pernah menjumpai.

7. Janma ingkang rupane kayeki, sarwi noleh ngandika mring sabat, Padha tingalana kuwe, manusa kurang wuruk, datan weruh sakehing Nabi, neng dunya wus cilaka, iku durung besuk, siniksa aneng akherat, rikel sewu siksane neng dunya kuwi, mulane wekas ingwang.

Manusia yang berwujud seperti ini, sembari menoleh berkatalah kepada para sahabat (para santri), Lihatlah itu, manusia kurang pengajaran, tidak mengenal Para Nabi, didunia sudah celaka, belum kelak, disiksa di akherat, berlipat seribu siksaannya lebih dari siksaan didunianya kini, oleh karenanya aku berpesan.

8. Ingkang pethel sinauwa ngaji, amrih weruh sarak Rasulullah, slamet dunya akherate, sapa kang neja manut, ing saringat Andika Nabi, mesthi oleh kamulyan, sapa kang tan manut, bakale nemu cilaka, Ahmad Ngarip mangkana denira eling, Janma iku sun kira.

Yang rajin dalam mengaji, supaya mengetahui syari’at Rasulullah, akan selamat dunia akhirat, barangsiapa yang berkehendak menurut, kepada syari’at Baginda Nabi, pastilah akan mendapatkan kemuliaan, barangsiapa yang tak menurut, bakal menemukan celaka, begitulah pesan dari Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif), Manusia itu aku duga.

9. Dudu anak manusa sayekti, anak Belis Setan Brekasakan, turune Memedi Wewe, Gatholoco duk ngrungu, den wastani yen anak Belis, langkung sakit manahnya, nanging tan kawetu, ngungkapi gembolanira, kleletipun sajebug sigra ingambil, den untal babar pisan.

Bukan anak manusia sesungguhnya, akan tetapi anak Iblis Setan Brekasakan (makhluk yang tidak karu-karuan hidupnya), keturunan Memedi (makhluk yang menakutkan) atau Wewe (Jin perempuan yang berwujud jelek), Gatholoco mendengar akan hal itu, disebut sebagai anak Iblis, sangat-sangat sakit hatinya, akan tetapi didiamkan saja, membuka gembolannya kembali, diambilnya candu sekepal, dimakan sekaligus semuanya.

10. Pan sakala endeme mratani, mrasuk badan kulit dagingira, ludira otot bayune, balung kalawan sungsum, kekiyatan sadaya pulih, kawistara njrebabak, cahyanipun santun, Guru tiga wrin waspada, samya eram tyasnya ngungun tan andugi, pratingkah kang mangkana.

Seketika mabuklah dia, candu merasuk badan kulit dan dagingnya, darah otot dan kekuatannya, tulang dan sumsumnya, seluruh kekuatan terasa pulih, dapat dilihat dari wajahnya yang memerah, cahaya wajahnya kembali, ketiga Guru waspada mengamati, heran hati mereka tak bisa memahami, kelakuan yang seperti itu.

11. Abdul Jabar ngucap mring Mad Ngarip, Lah ta mara age takonana, apa kang den untal kuwe, lan sapa aranipun, sarta maneh wismane ngendi, apa panggotanira, ing sadinanipun, lan apa tan adus toya, salawase dene awake mbasisik, janma iku sun kira.

Abdul Jabar berkata kepada (Ah)mad Ngarip (Ahmad ‘Arif), Segeralah kamu tanyai, apa yang dimakannya barusan, dan siapa namanya, dan lagi rumahnya dimana, apa pekerjaannya, pekerjaan sehari-harinya, dan apakah tidak pernah mandi, sehingga kulitnya bersisik, manusia ini aku kira.

12. Ora ngreti nyarak lawan sirik, najis mekruh batal lawan karam, mung nganggo senenge dhewe, sanajan iwak asu, daging celeng utawa babi, angger doyan pinangan, ora nduwe gigu, tan pisan wedi duraka, Ahmad Ngarip mrepeki gya muwus aris, Wong ala ingsun tannya.

Tidak mengetahui syari’at dan larangannya, najis makruh batal apalagi haram, hanya menuruti kesenangan sendiri, walaupun daging anjing, daging celeng maupun babi, kalau suka pasti dimakannya, tak memiliki rasa jijik, tak takut akan durhaka, Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif) mendekat dan segera berkata, Hai manusia jelek aku hendak bertanya.

13. Lah ta sapa aranira yekti, sarta maneh ngendi wismanira, kang tinannya lon saure, Gatholoco aranku, ingsun janma Lanang Sujati, omahku tengah jagad, Guru tiga ngrungu, sareng denya latah-latah, Bedhes buset aran nora lumrah janmi, jenengmu iku karam.

Siapakah namamu sesungguhnya? Dan lagi dimanakah rumahmu? Yang ditanya menjawab pelan, Gatholoco namaku, aku manusia Lanang Sujati ( Lelaki Sejati ), rumahku ditengah-tengah jagad, Ketiga Guru mendengar, bersamaan mereka tertawa terbahak-bahak, Monyet! Busyet! Nama tidak umum dipakai manusia, namamu saja itu sudah haram!

14. Gatholoco ngucap tannya aris, Dene sira padha latah-latah, anggeguyu apa kuwe, Kyai Guru sumaur, Krana saking tyasingsun geli, gumun mring jenengira, Gatholoco muwus, Ing mangka jeneng utama, Gatho iku tegese Sirah Kang Wadi, Loco Pranti Gosokan.

Gatholoco tenang bertanya, Kenapa kalian terbahak-bahak? Mentertawai apakah? Kyai Guru menjawab, Hatiku sangat geli, heran kepada namamu, Gatholoco berkata, Padahal itu adalah nama utama, Gatho itu artinya Kepala Yang Dirahasiakan ( Gathel : Penis ), Loco artinya Dikocok.

15. Marma kabeh padha sun lilani, sakarsane ngundang marang ingwang, yekti sun sauri bae, tetelu araningsun, kang sawiji Barang Kinisik, siji Barang Panglusan, nanging kang misuwur, manca pat manca lelima, iya iku Gatholoco aran mami, prasaja tandha priya.

Maka aku rela jika kalian semua, mau memanggil aku apa, pasti aku akan terima, tiga namaku, yang pertama Barang Kinisik ( Barang yang sering digosok-gosokkan kepada lobang), satunya lagi Barang Panglusan (Barang yang sering dihaluskan dengan cara dikeluar masukkan), akan tetapi yang terkenal, di empat penjuru angin bahkan di-lima penjuru angin, ialah Gatholoco, tanda seorang pria sejati.

16. Kyai Guru mangsuli Tan becik, jenengira iku luwih ala, jalaran banget sarune, karam najis lan mekruh, iku jeneng anyilakani, jeneng dadi duraka, jeneng ora patut, wus kasebut jroning kitab, nyirik karam yen mati munggah suwargi, kang karam manjing nraka.

Kyai Guru menjawab Tidak patut, namamu itu sangat-sangat jelek, karena sangat tabunya, bukah hanya makruh tapi sudah najis bahkan haram! Itu nama yang mencelakakan, nama yang membuat orang menjadi durhaka, nama yang tidak patut, sudah disebutkan didalam kitab, apabila menghindari hal-hal yang haram jika meninggal kelak pasti akan naik ke surga, yang tidak menghindari hal-hal yang haram pasti kelak masuk neraka.

17. Gatholoco menjep ngiwi-iwi, gya gumujeng nyawang Guru tiga, sarwi mangkana ujare, Sarak-ira kang kliru, sapa bisa angelus wadi, yekti janma utama, iku apesipun, priyayi kang lungguh Demang, myang Panewu Wadana Kliwon Bupati, liyane ora bisa.

Gatholoco mencibir memperolok-olok, lantas tertawa memperhatikan ketiga Guru, sembari berkata demikian, Pemahamanmu atas syari’at salah! Siapa saja yang mampu mengerti rahasia (proses penciptaan melalui sexualitas), dialah manusia utama, hal inilah kelemahan, seluruh manusia walaupun berpangkat Demang, berpangkat Panewu berpangkat Wadana berpangkat Kliwon maupun Bupati sekalipun, semuanya tidak ada yang memahami.

(Bersambung ke Bagian 2 )

(8 April 2010, by Damar Shashangka)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa

Yang disimpan oleh :

PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :

RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :

DAMAR SHASHANGKA

Bagian : 2 (Ulasan)

Sebelum melanjutkan ke-Pada (Syair) berikutnya (akan saya posting pada catatan bagian tiga), maka perlulah kiranya kita ulas beberapa Pada (Syair) yang telah saya posting pada catatan bagian pertama. Beberapa Pada (Syair) penting yang patut diulas agar tidak menimbulkan kesalah pemahaman adalah sebagai berikut :

1. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 9 :

Dudu anak manusa sayekti, anak Belis Setan Brekasakan, turune Memedi Wewe, Gatholoco duk ngrungu, den wastani yen anak Belis, langkung sakit manahnya, nanging tan kawetu, ngungkapi gembolanira, kleletipun sajebug sigra ingambil, den untal babar pisan.

Bukan anak manusia sesungguhnya, akan tetapi anak Iblis Setan Brekasakan (makhluk yang tidak karu-karuan hidupnya), keturunan Memedi (makhluk yang menakutkan) atau Wewe (Jin perempuan yang berwujud jelek), Gatholoco mendengar akan hal itu, disebut sebagai anak Iblis, sangat-sangat sakit hatinya, akan tetapi didiamkan saja, membuka gembolannya kembali, diambilnya candu sekepal, dimakan sekaligus semuanya.

Penulis Gatholoco tampaknya mengambil pola pikir dari ajaran Shiwa Tantrayana yang sangat populer ditanah Jawa pada masa lampau. Dalam kitab Mahanirvana Tantra jelas disebutkan sebagai berikut :

“Pautvaa pitvaa punah pitvaa yaavat patati bhuutale, Punarutyaaya dyai potvaa punarjanma ga vidhate.”

“Minum, teruslah minum hingga kamu terjerembab ke tanah. Lantas berdirilah kembali dan minum lagi hingga sesudah itu kamu akan terbebas dari punarjanma (kelahiran kembali) dan mencapai kesempurnaan (Moksha).”

Maksud dari sutra ini, tak lain adalah meminum minuman spiritual, bukan minuman berwujud fisik yang mengandung alkhohol. Seseorang yang terus meminum anggur spiritualitas hingga jatuh bangun, dan tetap tidak jera untuk terus mereguknya, maka hanya dengan jalan seperti itu, dapat dipastikan, Kesadaran akan tertempa, terbangun dan terasah.

Meminum anggur spiritualitas sehingga mabuk, atau dalam syair diatas digambarkan memakanCANDU SPIRITUALITAS, sehingga terikat betul dengan Ke-Illahi-an, sehingga KECANDUANbetul dengan Kesempurnaan, adalah prasyarat mutlak bagi siapa saja yang ingin menggapai Kesadaran Purna.

2. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 11 :

Abdul Jabar ngucap mring Mad Ngarip, Lah ta mara age takonana, apa kang den untal kuwe, lan sapa aranipun, sarta maneh wismane ngendi, apa panggotanira, ing sadinanipun, lan apa tan adus toya, salawase dene awake mbasisik, janma iku sun kira.

Abdul Jabar berkata kepada (Ah)mad Ngarip (Ahmad ‘Arif), Segeralah kamu tanyai, apa yang dimakannya barusan, dan siapa namanya, dan lagi rumahnya dimana, apa pekerjaannya, pekerjaan sehari-harinya, dan apakah tidak pernah mandi, sehingga kulitnya bersisik, manusia ini aku kira.

Masyarakat awan atau dalam istilah Tassawuf Islam disebut Mukmin ‘Am (seringkali ditulis dengan logat Mukmin Ngam dalam setiap sastra Jawa klasik) atau Walaka dalam istilah Shiwa Buddha, sudah barang tentu akan keheran melihat tingkah laku manusia-manusia aneh yang kecanduan spiritualitas seperti Gatholoco. Mereka akan bertanya-tanya, apa yang di-‘makan’-nya? Apa yang di-‘telan’-nya sehingga demikian ‘gila’-nya itu orang? Fenomena ini digambarkan secara konotatif dalam adegan diatas. Dimana sosok manusia Gatholoco menelan candu didepan para agamawan sehingga membuat keheranan mereka.

Manusia Gatholoco akan membuat logika spiritual orang awam terjungkir-balikkan, bahkan mereka yang mengaku agamawan sekalipun akan dibuat kalang-kabut olehnya. Manusia Gatholoco sangat unik karena benar-benar mabuk oleh candu Illahi. Siapapun yang mabuk candu Illahi, maka Kesadarannnya akan terayun kesegala arah bagai Palu Illahi yang tanpa ampun akan menggedor sekat-sekat sempit pemahaman awam tentang syari’at. Fenomena yang dialami oleh manusia Gatholoco, akan sulit dipahami oleh mereka yang tidak mau menikmati candu yang sama.

3. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 13 :

Lah ta sapa aranira yekti, sarta maneh ngendi wismanira, kang tinannya lon saure, Gatholoco aranku, ingsun janma Lanang Sujati, omahku tengah jagad, Guru tiga ngrungu, sareng denya latah-latah, Bedhes buset aran nora lumrah janmi, jenengmu iku karam.

Siapakah namamu sesungguhnya? Dan lagi dimanakah rumahmu? Yang ditanya menjawab pelan, Gatholoco namaku, aku manusia Lanang Sujati ( Lelaki Sejati ), rumahku ditengah-tengah jagad, Ketiga Guru mendengar, bersamaan mereka tertawa terbahak-bahak, Monyet! Busyet! Nama tidak umum dipakai manusia, namamu saja itu sudah haram!

Manusia Gatholoco akan menyatakan dirinya sebagai Lanang Sujati (Hal ini akan diuraikan dalam syair ke-18 pada bagian tiga) yang bertempat tinggal di TENGAH-TENGAH DUNIA.Tengah-tengah dunia menyiratkan bahwa DIA TIDAK DITIMUR TIDAK DIBARAT TIDAK DIUTARA TIDAK DISELATAN TIDAK PULA DI ATAS, DITENGAH ATAU DIBAWAH. SEMUA ARAH ADALAH TEMPATNYA.

Dualitas duniawi, senang-sedih, panas-dingin, tinggi-rendah, nikmat-sakit, hidup-mati dan sebagainya akan menyeret manusia awam kearah salah satu kutub-nya. Namun bagi manusia Gatholoco, dia telah mampu berpijak ditengah-tengah keduanya. Berpijak dalam keadaan seimbang total! Manusia Gatholoco telah melampaui dualitas duniawi!

Manusia Gatholoco tidak condong ke kanan maupun kekiri. Manusia Gatholoco telah melampaui dualitas duniawi (Rwabhineda) sehingga tepatlah jika dikatakan KEDUDUKAN DIA BERADA DITENGAH-TENGAH JAGAD atau DUNIA!

4. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 14 :

Gatholoco ngucap tannya aris, Dene sira padha latah-latah, anggeguyu apa kuwe, Kyai Guru sumaur, Krana saking tyasingsun geli, gumun mring jenengira, Gatholoco muwus, Ing mangka jeneng utama, Gatho iku tegese Sirah Kang Wadi, Loco Pranti Gosokan.

Gatholoco tenang bertanya, Kenapa kalian terbahak-bahak? Mentertawai apakah? Kyai Guru menjawab, Hatiku sangat geli, heran kepada namamu, Gatholoco berkata, Padahal itu adalah nama utama, Gatho itu artinya Kepala Yang Dirahasiakan ( Gathel : Penis ), Loco artinya Dikocok.

Inilah pernyataan Gatholoco yang sangat vulgar tentang arti namanya. Gatho atau GATHEL (maaf) dalam bahasa Jawa berarti PENIS, sedangkan LOCO artinya KOCOK. Gatholoco tak lebih berarti KOCOKAN DARI PENIS. Dan akibat dari aktifitas KOCOKAN ini, pada ujungnya memuncak pada fenomena TERPANCARNYA CAIRAN SPERMA. Arti nama Gatholoco sangatlah tabu jika hal ini dikaitkan dengan etika masyarakat pada umumnya. Namun bagaimana-pun juga, manusia yang terdiri dari tiga bentukan badan (sarira) sesuai dengan mantra-mantra yang ada dalam ATMOPANISHAD, yaitu Badan Fisik atau ‘STHULA SARIIRA’, Badan Halus atau ‘SUKSMA SARIIRA’ dan Badan Sejati atau ‘ATMA SARIIRA’, semua memang tercipta dari fenomena ‘PANCARAN’ ini.

Dalam istilah Tassawuf Islam, Badan Fisik (STHULA) disebut ‘JASAD’ dan dalam istilah Islam Kejawen, disebut ‘DHINDHING JALAL ARAN KIJAB (Dinding Agung Yang Disebut Hijab ; Penghalang/Tabir/Tirai)’.

Sedangkan Badan Halus (SUKSMA) dalam istilah Tassawuf Islam disebut ‘NAFS (Pribadi/personil)’ dan dalam Islam Kejawen disebutROH ILAPI (Ruh Idlafi), DAMAR ARAN KANDHIL (Pelita bernama Kandil) dan SESOTYA ARAN DARAH (Cahaya bernama Darah)

Badan Sejati (ATMA) dalam istilah Tassawuf Islam disebut ‘RUH’ dan dalam Islam Kejawen disebut ‘KAYU SAJARATUL YAKIN (Hayyu Syajaratul Yaqin ; Hidup Sebagai Pohon/Akar Keyakinan Utama)’ , NUR MUHAMMAD (Cahaya Terpuji) dan KACA ARAN MIRATULKAYAI (Cermin bernama Mir’atul Haya’; Mir’ah = Cermin, Haya’ = Malu) atau cukup disebut ‘KANG NGURIPI (Yang membuat manusia hidup)’.

Dalam istilah Kristiani, Badan Fisik (STHULA) dan Badan Halus (SUKSMA) , keduanya di sebut tataran ‘DAGING’. Dan Badan Sejati (ATMA) disebut ‘ROH KUDUS’!

Dalam tataran materi (Skala), proses terbentuknya Badan Fisik dan Badan Halus tidak bisa lepas dari fenomena ‘TERPANCARNYA SPERMA KEDALAM RAHIM SEBAGAI PUNCAK DARI SEBUAH AKTIFITAS SEXUAL’. Tak jauh beda pula pada tataran Immateri (Niskala), terciptanya Atma dan seluruh semesta ini tak lepas pula dari fenomena dahsyat ‘PANCARAN ENERGI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEPADA APA YANG DINAMAKAN PRAKRTI.

BRAHMAN yang mutlak atau PARAMASHIWA, yaitu SUMBER SEGALA SUMBER HIDUP INIatau HIDUP itu sendiri (Tassawuf Islam menyebutnya ‘ALLAH’, Kejawen menyebutnya ‘URIP’yang artinya adalah ‘Hidup’, Kristiani menyebutnya ‘ALLAH BAPA’), Yang Melampaui Segalanya, Mengatasi Segalanya, Tidak diketahui apa sesungguhnya Dia, Mengatasi segala pribadi, Sempurna, Yang Murni dan sebagainya, pada suatu saat, berkehendak mempersempit ke-Mutlak-an-Nya.

Proses ini dinamakan DOSHA atau KESALAHAN. Sebuah DOSHA yang memang disengaja oleh-Nya. BRAHMAN atau PARAMASHIWA yang mempersempit ke-Mutlak-an-Nya ini lantas mengenakan sifat MAHA. MAHA ADA, MAHA KUASA, MAHA AGUNG, MAHA SUCI dan sebagainya. Dia lantas dikenal dengan nama PURUSHA yang artinya YANG BERKEHENDAKatau SADASHIWA (Tassawuf Islam menyebutnya ‘NURUN ‘ALA NUURIN’ yang artinya‘Cahaya Diatas Cahaya’. Kejawen menyebutnya ‘KANG GAWE URIP’ yang artinya ‘Yang Menyebabkan adanya kehidupan material’. Kristiani menyebutnya ‘ALLAH PUTRA’).

Bersamaan proses mempersempit ke-Mutlak-an-Nya tersebut, tercipta bayangan BRAHMANatau PARAMASHIWA yang disebut PRAKRTI. PRAKRTI inilah cikal-bakal bahan materi seluruh alam semesta. (PRA : Sebelum, KRTI : Membuat). PRAKRTI mengandung unsur negatif dan positif semesta, PRAKRTI inilah yang sesungguhnya dalam tradisi agama timur tengah disebut PENGHULU MALAIKAT dan IBLIS itu sendiri!

Bahan-bahan positif dari PRAKRTI yang kelak membentuk Badan Halus dan Badan Kasarmanusia dengan unsur positif-nya, inilah yang disimbolkan sebagai MALAIKAT YANG MENJAGA MANUSIA. Sedangkan bahan-bahan negatif PRAKRTI yang kelak membentukBadan Halus dan Badan Kasar manusia dengan unsur negatif-nya, inilah yang disimbolkan sebagai SETAN-SETAN YANG MENGGODA MANUSIA!

UNSUR POSITIF ALAM DIDALAM PRAKRTI ITULAH PARA PENGHULU MALAIKAT! UNSUR NEGATIF ALAM DIDALAM PRAKRTI ITULAH IBLIS.

SEGALA HAL YANG TERDAPAT DALAM BADAN HALUS DAN BADAN KASAR ANDA YANG MENUNJANG KEARAH KEBENARAN, ITULAH MALAIKAT PENDAMPING ANDA! SEGALA HAL YANG TERDAPAT DALAM BADAN HALUS MAUPUN BADAN KASAR ANDA YANG SENANTIASA MENGGANGGU ANDA BERJALAN DIJALAN KEBENARAN, ITULAH ANAK-ANAK IBLIS YANG DISEBUT SETAN! BUKALAH KESADARAN ANDA SAAT INI JUGA!

MALAIKAT tercipta dari CAHAYA. IBLIS tercipta dari API. CAHAYA dan API tidak bisa dipisahkan! Mengapa masih juga anda tidak mengerti dengan simbolisasi seperti ini?

Akibat PANCARAN ENERGI DARI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEPADA PRAKRTI, maka terperciklah tak terhitung ATMA-ATMA sebagai percikan PURUSHA. Bagai API dengan PERCIKANNYA. Bagai AIR dengan TETESANNYA.

Bahkan dari proses PANCARAN ENERGI ini, tercipta pula bahan-bahan material alam semesta sebagai bakal wadah bagi Atma-Atma.

Dari PURUSHAatau SADASHIWA terciptalah ATMA-ATMA, dan dari bahan-bahan material akibat PANCARAN ENERGI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEPADA PRAKRTIterciptalah kelak Badan Halus (SUKSMA) dan Badan Fisik (STHULA).

PRAKRTI HANYA SEKEDAR SEBAGAI TEMPAT PENAMPUNGAN SEMUA ITU. PRAKRTI IBARAT RAHIM SEMESTA!

Dan semua proses ini tak lain berawal dari PANCARAN ENERGI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEPADA PRAKRTI.

Dan proses ini diulang kembali, dalam bentuk aktifitas badaniah antara laki-laki dan wanita yang dinamakan sexualitas. Dimana penis makhluk jantan harus dikocok didalam vagina makhluk wanita (Gatholoco) agar memancarlah sperma yang penuh dengan berjuta-juta bibit kehidupan (Atma) kedalam rahim.

Proses sexualitas, adalah proses pematangan agar Atma benar-benar dibungkus oleh Badan Halus (Suksma) dan Badan Fisik (Sthula) didalam kandungan seorang wanita selama rentang waktu sembilan bulan sepuluh hari.

Nama Gatholoco sangat tabu, tapi dari Gatholoco-lah seluruh kehidupan tercipta. Maka sesungguhnya benar apa yang dikatakan Gatholoco, bahwa nama yang dipakainya adalah namaRahasia Yang Mulia.

5. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 15 :

Marma kabeh padha sun lilani, sakarsane ngundang marang ingwang, yekti sun sauri bae, tetelu araningsun, kang sawiji Barang Kinisik, siji Barang Panglusan, nanging kang misuwur, manca pat manca lelima, iya iku Gatholoco aran mami, prasaja tandha priya.

Maka aku rela jika kalian semua, mau memanggil aku apa, pasti aku akan terima, tiga namaku, yang pertama Barang Kinisik ( Barang yang sering digosok-gosokkan kepada lobang), satunya lagi Barang Panglusan (Barang yang sering dihaluskan dengan cara dikeluar masukkan), akan tetapi yang terkenal, di empat penjuru angin bahkan di-lima penjuru angin, ialah Gatholoco, tanda seorang pria sejati.

Nama lain GATHOLOCO adalah BARANG KINISIK (Benda yang digosok-gosokkan didalam lobang) dan satunya lagi BARANG PANGLUSAN (Benda yang dihaluskan dengan cara dikeluar masukkan). Maknanya tiada beda, tak lain adalah PENIS YANG DIKOCOK.

KESADARAN MANUSIA GATHOLOCO MAMPU MEMAHAMI, bahwasanya cikal bakal kehidupan manusia dan beberapa makhluk yang mulai berkembang Kesadaranya, HARUS MELALUI PROSES PANCARAN SPERMA KEDALAM RAHIM.

Lebih tinggi dari itu, KESADARAN MANUSIA GATHOLOCO JUGA MEMAHAMI, bahwaSELURUH SEMESTA RAYA INI TERCIPTA JUGA AKIBAT PANCARAN ENERGI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEDALAM KANDUNGAN PRAKRTI!

Proses ini adalah sebuah proses yang SAKRAL dan SUCI. Jadi sangat-sangat tidak patut jika aktifitas sexual hanya dipergunakan untuk sekedar mengejar sensasi kenikmatan belaka!

Manusia-manusia Gatholoco hanya akan MENGKOCOK PENIS MEREKA KEDALAM LIANG VAGINA sekedar untuk memberikan jalan bagi kelahiran kembali para Atma yang hendak melanjutkan proses evolusinya dialam manusia.

Manusia-manusia yang bukan manusia Gatholoco hanya akan melakukan PENGKOCOKAN PENIS MEREKA KEDALAM VAGINA sekedar untuk menikmati sensasi kenikmatannya belaka!

Laki-laki yang memahami hal ini, patut disebut PRIA SEJATI. Begitu juga wanita yang memahami akan hal ini, sepatutnya juga disebut WANITA SEJATI.

ITULAH BEDA MANUSIA GATHOLOCO DAN YANG BUKAN MANUSIA GATHOLOCO! SEMOGA ANDA SEMUA MEMAHAMI MAKSUD PENULIS GATHOLOCO DAN TIDAK SALAH MENGERTI KARENANYA!

(Bersambung)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa yang disimpan
oleh PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA

Bagian : 3

18. Rehning ingsun tan dadi priyayi, mung jênêngku jênêng Wadi Mulya, supaya turunku têmbe, dadi priyayi agung, Abdul Jabar angucap bêngis, Dhapurmu kaya luwak, nganggo sira ngaku, lamun Sujatine Lanang, Gatholoco gumujêng alon nauri, Ucapku nora salah.

Walaupun aku bukan priyayi (bangsawan), akan tetapi namaku adalah Rahasia Mulia, supaya kelak para keturunanku, akan menjadi priyayi (bangsawan) besar (maksud Gatholoco, bangsawan spiritualitas), Abdul Jabar berkata bengis, Rupamu saja seperti Luwak (binatang sejenis musang yang berwujud jelek)! Bisa-bisanya mengaku, sebagai Sujatine Lanang (Sejatinya Lelaki), Gatholoco tertawa dan menjawab pelan, Ucapanku tidak salah.

19. Ingsun ngaku wong Lanang Sujati, basa Lanang Sujati têmênan, wadiku apa dhapure, Sujati têgêsipun, ‘ingSUn urip tan nêJA maTI’, Guru tiga angucap, Dhapurmu lir antu, sajêge tan kambon toya, Gatholoco macucu nulya mangsuli, Ewuh kinarya siram.

Aku mengaku sebagai Lanang Sujati (Lelaki Sejati), arti dari Lanang Sujati (Lelaki Sejati) sesungguhnya adalah, aku disebut LANANG karena memahami Rahasia Mulia barang (penis)-ku, sedangkan SUJATI (Sejati) artinya ‘ingSUn urip tan nêJA ma TI’ (Aku Yang Hidup Tak Dapat Mati Selamanya). Ketiga Guru berkata, Rupamu seperti hantu, tak pernah tersentuh air, Gatholoco cemberut lantas menjawab, Aku bingung hendak mandi dengan apa.

20. Upamane ingsun adus warih, badaningsun wus kaisen toya, kalamun adus gênine, jro badan isi latu, yen rêsika sun gosok siti, asline saking lêmah, sun dus-ana lesus, badanku sumbêr maruta, tuduhêna kinarya adus punapi, ujarnya Guru tiga.

Jikalau aku harus mandi menggunakan air, tubuhku sudah penuh dengan unsur air, jikalau harus mandi menggunakan api, didalam badan penuh unsur api, jikalau harus membersihkan diri dengan menggunakan tanah, sudah jelas daging ini berasal dari tanah, aku mandi menggunakan angin leysus, badanku sumber dari angin, beritahu kepadaku apa yang harus aku pakai untuk mandi? Ketiga Guru menjawab.

21. Asal banyu yêkti adus warih, dimen suci iku badanira, Gatholoco sru saure, Sira santri tan urus, yen suciya sarana warih, sun kungkum sangang wulan, ora kulak kawruh, satêmêne bae iya, ingsun adus Tirta Tekad Suci Êning, ing tyas datan kaworan.

Tubuhmu berasal dari cairan (sperma) sudah layak jika mandi menggunakan air, agar suci dirimu itu, Gatholoco lantang menjawab, Kalian santri bodoh! Jikalau bisa suci karena mandi dengan air, aku akan berendam selama sembilan bulan saja, tidak perlu mencari ilmu (Ke-Tuhan-an), ketahuilah bahwa sesungguhnya, aku telah mandi Air Tekad Suci yang Jernih, yaitu jernihnya hati tanpa dikotori oleh.

22. Bangsa salah kang kalêbu ciri, iya iku adusing manusa, ingkang sabênêr-bênêre, Kyai Guru sumaur, Wong dhapure lir kirik gêring, sapa ingkang pracaya, nduwe pikir jujur, sira iku ingsun duga, ora nduwe batal karam mêkruh najis, wêruhmu amung halal.

Segala macam perbuatan yang salah, itulah mandi yang sesungguhnya bagi manusia, mandi yang sebenar-benarnya mandi, Kyai Guru menyahut, Rupamu saja seperti kirik gêring (anjing penyakitan), siapa yang bakalan mempercayai, jika kamu memiliki kejujuran? Jika tak salah dugaanku, kamu pasti tidak mengenal peraturan tentang batal haram makruh najis, yang kamu ketahui hanya halal saja.

23. Najan arak iwak celeng babi, anggêr doyan mêsthi sira pangan, ora wedi durakane, Gatholoco sumaur, Iku bênêr tan nganggo sisip, kaya pambatangira, najan iwak asu, sun titik asale purwa, lamun bêcik tan dadi sêriking janmi, najan babi celenga.

Walaupun arak daging celeng dan babi, asal kamu doyan pasti kamu makan, tidak takut dosa, Gatholoco menyahut, Benarlah dan tidak salah, semua dugaanmu kepadaku itu, walaupun daging anjing, aku teliti asal usulnya, manakala diperoleh dengan jalan yang tidak menyakiti sesama manusia, begitupun juga walau daging babi dan celeng.

24. Ngingu dhewe awit saking cilik, sapa ingkang wani nggugat mring wang, halal-e ngungkuli cêmpe, sanajan iwak wêdhus, yen asale srana tan bêcik, karam lir iwak sona, najan babi iku, tinilik kawitanira, yen purwane ngingu dhewe awit gênjik, luwih saking maenda.

Apabila didapat dari hasil beternak sendiri (bukan hasil curian), siapa yang bakalan berani melarangku (untuk memakannya)? Halal-nya melebihi daging kambing, walaupun daging kambing, jika diperoleh dengan jalan tidak baik, itu haram melebihi daging anjing, telitilah asal usulnya, jika daging tersebut berasal dari binatang yang kita pelihara sendiri semenjak kecilnya, halal-nya melebihi kambing!

25. Najan wêdhus nanging nggonmu maling, luwih babi iku karam-ira, najan mangan iwak celeng, lamun asale jujur, mburu dhewe marang wanadri, dudu celeng colongan, halal-e kalangkung, sanajan iwak maesa, yen colongan luwih karam saking babi, ujarnya Guru tiga.

Walaupun kambing namun hasil dari mencuri, melebihi babi itu haram-nya, walaupun memakan daging celeng, tapi jika diperoleh dengan cara yang jujur, berburu sendiri dihutan, bukan celeng curian, halal-nya luar biasa, walaupun daging kerbau, namun hasil curian lebih haram dari babi, Ketiga Guru berkata.

26. Luwih halal padune si Bêlis, pantês têmên uripmu cilaka, kamlaratan salawase, tan duwe bêras pantun, sandhangane pating saluwir, kabeh amoh gombalan, sajêge tumuwuh, ora tau mangan enak, ora tau ngrasakake lêgi gurih, kuru tan darbe wisma.

Memang halal menurut Iblis! Pantas jika hidupmu celaka, melarat selamanya, tak memiliki makanan cukup, busana-pun compang camping, semua hanya gombal lusuh, selama hidup, tak pernah memakan makanan enak, tidak pernah menikmati rasa manis dan gurih, makanya kurus kering dan tak memiliki rumah.

27. Gatholoco ngucap anauri, Ingkang sugih sandhang lawan pangan, pirang kêthi momohane, kalawan pirang tumpuk, najis ingkang sira simpêni, Guru tiga duk myarsa, gumuyu angguguk, Sandhangan ingkang wus rusak, awor lêmah najisku kang tibeng bumi, kabeh wus awor kisma.

Gatholoco menjawab, Yang kaya akan busana dan makanan, berapa peti jumlah busananya, berapa tumpuk persediaan makanannya, itu najis jika cuma kamu simpan sendiri, Ketiga Guru begitu mendengar, seketika tertawa geli, Pakaian yang sudah kotor dan jelek, kami jadikan satu ditanah bersama kotoranku, semua sudah kubuang menjadi satu ke tanah! (Lantas mana yang disebut najis dalam hal semua pakaian yg kumiliki?)

28. Gatholoco anauri malih, Yen mangkono isih lumrah janma, ora kinaot arane, beda kalawan Ingsun, kabeh iki isining bumi, sakurêbing akasa, dadi darbek-Ingsun, kang anyar sarwa gumêbyar, Sun kon nganggo marang sanak-sanak mami, Ngong trima nganggo ala.

Gatholoco menyahuti lagi, Jikalau begitu jelas kalian hanya manusia lumrah, bukan manusia pilihan namanya, berbeda dengan-Ku, sesungguhnya semua yang ada dibumi, dan yang ada dibawah langit, adalah milik-Ku, yang baru dan gemerlap, sengaja Aku berikan kepada saudara-saudaraku (semua makhluk hidup), Aku rela memakai yang jelek-jelek saja.

29. Apan Ingsun trima nganggo iki, pêpanganan ingkang enak-enak, kang lêgi gurih rasane, pêdhês asin sadarum, Sun kon mangan mring sagung janmi, ingkang sinipat gêsang, dene Ingsun amung, ngawruhi sadina-dina, Sun tulisi sastrane salikur iji, Sun simpên jroning manah.

Cukuplah Aku memakan yang ini saja, segala makanan yang enak-enak, yang manis gurih rasanya, pedas dan asin semuanya, Aku berikan untuk dimakan oleh seluruh manusia, dan semua makhluk yang bersifat hidup, sedangkan Aku hanyalah, meneliti setiap hari, Ku catat dalam sebuah sastra sebanyak Duapuluh Satu buah (angka Dua melambangkan mereka yang masih terikat Dualitas duniawi, angka Satu melambangkan mereka yang telah lepas dari Dualitas duniawi. Manusia yang Kesadarannya tinggi, mampu meneliti dan mengamati kedua jenis tingkatan kesadaran para manusia tersebut. Inilah makna Sastra Salikur Iji atau Sastra Duapuluh Satu yang dimaksud Gatholoco), dan Aku simpan didalam hati.

30. Ingsun dhewe mangan sabên ari, Ingsun milih ingkang luwih panas, sarta ingkang pait dhewe, najise dadi gunung, kabeh gunung ingkang ka-eksi, mulane kang bawana, padha mêtu kukus, tumuse gêni Sun pangan, ingkang dadi padhas watu lawan curi, klelet ingkang sun pangan.

Yang Ku-makan setiap hari, Ku-pilih yang sangat panas, dan yang terlampau pahit (maksudnya semua unsur-unsur negatif Alam yang terlalu ekstrim), kotoran (batin)-Ku menjadi gunung, seluruh gunung yang terlihat, (maksudnya, semua unsur negatif yang terlalu ekstrim dari Alam, mampu didaur ulang menjadi unsur yang lebih positif melalui olah batin dari manusia-manusia yang berkesadaran tinggi. Dilambangkan dengan keberadaan sebuah gunung yang menyimpan api menakutkan, namun lava dari gunung berapi, sangat bermanfaat menyuburkan tanah, sehingga tanaman apapun akan gampang tumbuh disekeliling gunung berapi. Jelasnya, dari sesuatu yang menakutkan semacam gunung berapi, mampu didaur ulang menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi manusia. Begitu pula proses daur ulang yang secara tidak disadari telah dilakukan oleh manusia-manusia berkesadaran tinggi semacam Gatholoco kepada semua unsur negatif alam yang terlalu ekstrim), apa sebabnya dunia diliputi asap saja (maksudnya, banyak unsur api terlampau ekstrim yang sesungguhnya melingkupi dunia ini, namun berkat manusia-manusia yang penuh kesadaran semacam Gatholoco, secara tidak sengaja, mereka-mereka ini menyerap unsur api yang terlalu ekstrim tersebut dan didaur ulang menjadi unsur api positif yang lebih bermanfaat. Jika tidak ada manusia-manusia berkesadaran tinggi semacam Gatholoco, dapat dipastikan, meteor-meteor raksasa dan hal-hal ekstrim lainnya, akan menghantam dan mengacaukan bumi tanpa ada penghalang lagi! Sadarilah ini!), sebab api telah Aku makan, kotoran (batin)-Ku menjadi batu cadas (seperti halnya dipilihnya ‘Gunung’ sebagai sebuah perumpamaan proses pendaur ulang-an unsur ektrim Alam agar menjadi lebih bermanfaat, ‘Batu Cadas’ dipilih pula karena identik dengan kekokohan, sesuatu yang kokoh kuat. Maksudnya jelas, unsur ekstrim alam, bisa diubah menjadi sesuatu yang stabil demi keberlangsungan semesta sebagai tempat berevolusi. Berterima kasihlah kepada manusia-manusia berkesadaran tinggi seperti Gatholoco!) Aku cukup memakan candu ini. (maksudnya candu spiritualitas)<

31. Sadurunge Ingsun ngising najis, gunung iku yêkti durung ana, benjang bakal sirna maneh, lamun Ingsun wus mantun, ngising tai mêtu têka silit, titenana kewala, iki tutur-Ingsun, Guru tiga duk miyarsa, gya micara astane sarwi nudingi, Layak kuru tan pakra.

Sebelum Aku membuang kotoran (batin), seluruh gunung belumlah tercipta (maksudnya, dunia tidak akan stabil sebagai tempat yang sesuai bagi proses evolusi jiwa jika tidak ada manusia-manusia berkesadaran tinggi yang mampu mendaur ulang unsur-unsur ekstrim Alam seperti Gatholoco), kelak akan sirna kembali, jika Aku sudah tidak lagi, membuang kotoran lewat dubur, nyatakanlah kelak, apa yang Aku katakan ini. (maksudnya jika manusia-manusia yang berkesadaran tinggi hilang dari muka bumi, dapat dipastikan kiamat dunia akan tercipta!). Ketiga Guru begitu mendengar, segera berkata sembari menuding, Makanya kurus kering tidak lumrah manusia (tubuhmu).

32. Gatholoco sigra anauri, Mila ingsun kurune kalintang, krana nurut mring karsane, Gusti Jêng Nabi Rasul, sabên ari ingsun turuti, tindak mênyang ngêpaken, awan sore esuk, mundhut candhu lawan madat, dipun dhahar kalawan dipun obongi, Allah kang paring wikan.

Gatholoco segera menjawab, Tubuhku kurus disebabkan, karena menuruti perintah, Gusti (Kang)jêng Nabi Rasul(lullah), setiap hari aku turuti, bertandang ke tempat madat, siang sore pagi, mengambil candu dan madat, dimakan langsung maupun dibakar lalu dihisap, Allah yang memberikan ijin. (Maksudnya Kangjêng Nabi Rasul dalam kesadaran Gatholoco, bukanlah Nabi Muhammad, melainkan Ruh-nya sendiri, Atma-nya sendiri. Suara Atma, suara Ruh, yang sering diistilahkan dengan SUARA NURANI, memerintahkan manusia-manusia seperti Gatholoco untuk terus mabuk spiritual, agar terus ke-Candu-an dengan Ke-Illahi-an. Dan Allah-pun me-ridloi!)

33. Kangjêng Rasul yen tan den turuti, muring-muring bangêt nggone duka, sarta bangêt paniksane, ingsun tan bisa turu, Guru tiga samya nauri, Mung lagi tatanira, Kangjêng Nabi Rasul, karsa tindak mring ngêpaken, Kangjêng Rasul pêpundhene wong sabumi, aneng nagara Mekah.

Kangjêng Rasul(lullah) manakala tidak ditaati perintahnya, marah-marah sangat berang, dan kejam menyiksa, membuat aku tak bisa tidur. (Maksud Gatholoco, jika SUARA NURANI-nya yang berasal dari Ruh-nya sendiri, dari Atma-nya sendiri tidak dia dengarkan, dampaknya akan terjadi konflik batin yang berujung pada ketidaknyamanan diri, keresahan diri, sehingga membuat dia tidak bisa tidur!) Ketiga Guru segera menjawab, Ucapan tidak pantas, mengatakan Kangjêng Nabi Rasul(lullah), mengutus agar bertandang ketempat madat! Kangjêng Rasul(lullah) adalah sosok yang diagungkan oleh seluruh manusia, berada di negara Makkah!

34. Gatholoco anauri aris, Rasul Mêkah ingkang sira sêmbah, ora nana ing wujude, wus seda sewu taun, panggonane ing tanah Arbi, lêlakon pitung wulan, tur kadhangan laut, mung kari kubur kewala, sira sêmbah jungkar-jungkir sabên ari, apa bisa tumêka.

Gatholoco menjawab pelan, Rasul yang ada di Mekkah yang kamu agungkan, sudah tidak ada lagi wujudnya (Telah mencapai Kesempurnaan), sudah meninggal seribu tahun yang lalu, makamnya di tanah Arab, perjalanan selama tujuh bulan untuk kesana, harus menyeberangi lautan, sekarang hanya tinggal kuburannya saja, kamu agungkan setiap hari sembari berjungkir balik, tidak mungkin beliau menemuimu? (Nabi Muhammad telah mencapai Kesempurnaan. Sebelum mencapai tingkat ini, beliau telah meninggalkan PETUNJUK bagi para pengikutnya, yaitu Al-Qur’an dan Hadist demi pegangan sebagai acuan peningkatan Kesadaran mereka. Dari kedua petunjuk ini, para pengikut beliau harus mampu meneladani, mengamalkan dan HARUS MANDIRI! SEKALI LAGI, HARUS MANDIRI! KESADARAN TIDAK BISA DIBUAT OLEH ORANG LAIN! MAKA NABI MUHAMMAD TIDAK AKAN MUNGKIN TERUS HADIR MEMBERIKAN PETUNJUK, KARENA APA YANG TELAH BELIAU TINGGALKAN SUDAH CUKUP! BERSIKAPLAH DEWASA! JANGAN KAYAK ANAK KECIL YANG TERUS MEREPOTKAN ORANG TUA! MANDIRILAH! ITU MAKSUD GATHOLOCO! )

35. Sêmbahira dadi tanpa kardi, luwih siya marang raganira, tan nêmbah Rasule dhewe, siya marang uripmu, nêmbah Rasul jabaning dhiri, kabeh sabangsanira, iku nora urus, nêbut Allah siya-siya, pating brêngok Allah ora kober guling, kabrêbêgên suwara.

Pujianmu tiada guna, menyusahkan diri sendiri, tak mengagungkan Rasul (Utusan) sendiri ( Rasul sendiri, maksudnya adalah Atma, Ruh, Percikan Tuhan yang merupakan inti sari setiap makhluk! Ruh kita, Atma kita inilah UTUSAN YANG SESUNGGUHNYA), menyia-nyiakan hidupmu, mengagungkan Rasul diluar diri, semua orang yang sepertimu, tidak memahami yang sebenarnya (Disini sebenarnya sebuah rahasia Sahadat Sejati telah diuraikan oleh Gatholoco, YAITU…………………………………….-maaf saya belum berani menguraikan disini-…………………………………), menyebut nama Allah dengan sia-sia, teriak-teriak membuat Allah tidak sempat tidur, terganggu suara kalian yang sangat berisik (Ungkapan keprihatinan untuk mengkritik kebiasaan mukmin awam yang suka beribadah disertai rasa pamer, riya’. Ibadah tidak perlu ditunjuk-tunjukkan. Lakukan diam-diam. Tidak usah berteriak-teriak! Itu maksud Gatholoco!)

36. Rasulullah seda sewu warsi, sira bêngok saking wisma-nira, bok kongsi modot gulune, masa bisa karungu, tiwas kêsêl tur tanpa kasil, Guru tiga angucap, Ujare cocotmu, layak mêsum ora lumrah, anyampahi pêpundhene wong sabumi, Gatholoco manabda.

Rasulullah telah meninggal seribu tahun yang lalu, kamu teriaki dari rumahmu (dengan harapan ditemui oleh beliau), walaupun sampai melar lehermu, tidak akan berkenan hadir menemuimu? Hanya melelahkan diri sendiri tiada guna ( maksud Gatholoco hanya melelahkan diri sendiri dan tiada guna jika memuji nama beliau dengan harapan agar ditemui dan mendapat tuntunan. Al-Qur’an dan Hadist, itu sudah cukup beliau berikan bagi acuan peningkatan Kesadaran para pengikut beliau!), Ketiga Guru berkata, Ucapan yang keluar dari cocot (bacot)-mu, adalah ucapan orang bingung dan tidak sopan, menghina sesembahan manusia se-dunia! Gatholoco berkata.

37. Bênêr mêsum saking susah mami, kadunungan barang ingkang gêlap, awit cilik têkeng mangke, kewuhan jawab-ingsun, yen konangan ingkang darbeni, supaya bisa luwar, ingsun njaluk rêmbug, kapriye bisane jawab, aywa nganti kêna ukum awak mami, Guru tiga miyarsa.

Memang benar aku bingung disebabkan karena keprihatinanku, karena ketempatan barang yang bukan punyaku, semenjak aku kecil hingga sekarang ini, sulit aku memberikan jawaban, manakala nanti ditanya oleh yang punya, agar aku mampu terlepas dari masalah ini, bisakah aku meminta pendapat kalian, bagaimanakah jawabanku, jangan sampai aku terkena hukuman, Ketiga Guru begitu mendengar ucapan itu.

38. Asru ngucap Nyata sira maling, ora pantês rembugan lan ingwang, sira iku wong munapek, duraka ing Hyang Agung, lamun ingsun gêlêm mulangi, pakartine dursila, mring panjawabipun, ora wurung katularan, najan ingsun datan anglakoni maling, yen gêlêm mulangana.

Keras berkata Ternyata kamu maling! Tidak pantas meminta pendapat kami! Kamu orang munafik! Berdosa kepada Hyang Agung! Jika kami sampai bersedia memberikan pendapat, tidak urung bakal ketularan (dosanya)! Walaupun kami tidak ikut mencuri, manakala bersedia memberikan pendapat.

39. Nalar bangsat paturane maling, yêkti dadi melu kêna siksa, Gatholoco pamuwuse, Yen sireku tan purun, amulangi mring jawab maling, payo padha cangkriman, nanging pamintengsun, badhenên ingkang sanyata, lamun sira têlu pisan tan mangrêti, guru tanpa paedah.

Sama saja menyetujui perbuatan bangsat seorang maling! Pasti akan ikut terkena siksa! Gatholoco berkata, Apabila kalian tidak bersedia, memberikan pemecahan masalah yang dihadapi seorang maling, baiklah mari kita bermain teka-teki, akan tetapi permintaanku, jawablah sungguh-sungguh, jika kalian bertiga tidak mampu menjawab, nyata kalian adalah Guru yang tiada guna!

40. Kyai Guru samya anauri, Mara age saiki pasalna, cangkrimane kaya priye, manira arsa ngrungu, yen wus ngrungu sayêkti bangkit, masa bakal luputa, ucapna den gupuh, angajak cangkriman apa, sun batange dimen padha den sêkseni, santri murid nom noman.

Para Kyai Guru menyetujui, Baiklah sekarang berikan, teka-teki yang seperti apa, kami akan mendengarkan, manakala sudah mendengar pasti akan paham, dan tidak mungkin salah menjawab, cepat ucapkan, mengajak bermain teka-teki yang seperti apa? Akan kami jawab dengan disaksikan, para murid santri yang masih muda-muda (kata muda dlm bahasa Jawa adalah Anom, menandakan syair berikutnya harus dilagukan dengan irama Sinom).

(Bersambung ke Bagian 4 – Ulasan)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA

Bagian : 4 (Ulasan)

Ada beberapa Pada (Syair) yang terdapat pada Pupuh II, Dandanggula, yang harus diulas. Seperti dibawah ini :

1. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 19 :

Ingsun ngaku wong Lanang Sujati, basa Lanang Sujati têmênan, wadiku apa dhapure, Sujati têgêsipun, ‘ingSUn urip tan nêJA maTI’, Guru tiga angucap, Dhapurmu lir antu, sajêge tan kambon toya, Gatholoco macucu nulya mangsuli, Ewuh kinarya siram.

Aku mengaku sebagai Lanang Sujati (Lelaki Sejati), arti dari Lanang Sujati (Lelaki Sejati) sesungguhnya adalah, aku disebut LANANG karena memahami Rahasia Mulia barang (penis)-ku, sedangkan SUJATI (Sejati) artinya ‘ingSUn urip tan nêJA ma TI’ (Aku Yang Hidup Tak Dapat Mati Selamanya). Ketiga Guru berkata, Rupamu seperti hantu, tak pernah tersentuh air, Gatholoco cemberut lantas menjawab, Aku bingung hendak mandi dengan apa.

Gatholoco menyadari bahwa siapapun yang meningkat Kesadarannya, berhak menyandang predikat sebagai Lanang Sujati (Lelaki Sejati) atau Wadon Sujati (Wanita Sejati). Pada ‘Pada’ (Syair) diatas, arti kata Lanang Sujati diuraikan oleh Gatholoco. Siapapun Lelaki yang memahami Kemuliaan Proses Penciptaan melalui Penis (Gathel)-nya, sebuah proses vital yang menjadi mata rantai sebuah perjalanan panjang evolusi jiwa, proses yang mampu ‘menarik’ kembali Atma atau Ruh dari ranah ‘kematian’ menuju ‘kehidupan kembali’ atau Reinkarnasi(dalam istilah Sanskerta disebut PUNARBHAWA : Kelahiran Kembali, atau PUNARJANMA : Manusia Yang Kembali hidup dari ranah kematian), proses berkesinambungan untuk menjadi penyebab ‘bangkitnya’ Atma atau Ruh agar kembali berjuang ditengah samudera kehidupan demi untuk melanjutkan peningkatan kembali KESADARAN mereka melalui tempaan badai dualitas duniawi (suka-duka, kaya-miskin, sakit-sehat, dll), maka siapapun mereka, kalau Lelaki berhak menyandang predikat LANANG. Kalau Wanita berhak menyandang predikatWADON! Selama anda belum memahami kemuliaan dan pentingnya proses ini, maka sesungguhnya anda belumlah pantas disebut LANANG atau WADON. Anda hanyalah sekedar spesies makhluk hidup yang melakukan sebuah aktifitas sexual tanpa kesadaran. Anda belumlahMANUSIA.

Kata ‘SUJATI’, Gatholoco mengartikan ‘ingSUn urip tan neJA maTI’ yang artinya ‘Aku Yang Hidup Tak Dapat Mati’. Siapakah itu? INGSUN (AHAM/AKU). Siapakah INGSUN (AHAM/AKU) tersebut? Tak lain adalah Atma atau Ruh kita!

Atma atau Ruh tidak diciptakan oleh siapapun! Atma atau Ruh adalah Percikan Brahman dalam definisi Weda atau Tiupan/Hembusan Nafas Allah dalam definisi Al-Qur’an atauPencitraan/Duplicate Allah dalam definisi Injil dan Taurat!

Atma dan Ruh adalah bagian langsung dari BRAHMAN, dari ALLAH, dari BAPA itu sendiri! Tidak ada yang menciptakan Ruh atau Atma. Yang diciptakan adalah Badan Halus (Suksma Sariira/Nafs) dan Badan Kasar (Sthula Sariira/Jasad)! Sadarkah anda sekarang? Telitilah dengan seksama kitab suci anda, adakah firman yang menyatakan Ruh itu diciptakan?
LANANG SUJATI artinya, Manusia yang memahami kemuliaan proses penciptaan melalui penis/vagina-nya, yang merupakan lantaran untuk kelahiran kembali para Atma atau Ruh!

2. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 20 :

Upamane ingsun adus warih, badaningsun wus kaisen toya, kalamun adus gênine, jro badan isi latu, yen rêsika sun gosok siti, asline saking lêmah, sun dus-ana lesus, badanku sumbêr maruta, tuduhêna kinarya adus punapi, ujarnya Guru tiga.

Jikalau aku harus mandi menggunakan air, tubuhku sudah penuh dengan unsur air, jikalau harus mandi menggunakan api, didalam badan penuh unsur api, jikalau harus membersihkan diri dengan menggunakan tanah, sudah jelas daging ini berasal dari tanah, aku mandi menggunakan angin leysus, badanku sumber dari angin, beritahu kepadaku apa yang harus aku pakai untuk mandi? Ketiga Guru menjawab.

Ini adalah jawaban yang merupakan kritik kepada para agamawan yang terlampau mementingkan syari’at. Mereka-mereka yang terpaku pada tata lahir dan procedural belaka. Begitu sudah tunai, mereka merasa sudah cukup dan sempurna! Gatholoco menyengaja memberikan gambaran, bahwa AIR tidaklah cukup untuk mensucikan diri secara menyeluruh.AIR hanya mampu menggelontor kotoran LAHIR semata! Maka Gatholoco menyatakan, apa yang hendak aku gunakan untuk men-sucikan diri ini? Jikalau memakai AIR, bukankah JASAD FISIK atau STHULA SARIIRA ini berasal dari unsur AIR. Jikalau memakai API, bukankahJASAD FISIK atau STHULA SARIIRA ini juga berasal dari unsur API. Pun jikalau memakaiANGIN, bukankah JASAD FISIK atau STHULA SARIIRA inipun berasal dari unsur ANGIN? Begitu juga jika hendak disucikan dengan TANAH, bukankah JASAD FISIK atau STHULA SARIIRA inipun berasal dari unsur TANAH?

Keempat Unsur yang disebutkan Gatholoco, umum dipahami sebagai empat pembentuk JASAD FISIK manusia. Empat unsur Alam yang sangat vital, yaitu TANAH/LOGAM (PRTIWI), AIR (APAH), API/CAHAYA (TEJA) dan ANGIN (WAYU) .

Namun sesungguhnya ada satu unsur lagi yang juga sangat vital membentuk JASAD FISIKmanusia, yaitu RUANG (AKASHA). Tanpa ada RUANG, maka tidak akan ada celah dan rongga dalam susunan anatomi JASAD FISIK. Sesungguhnya unsur RUANG menempati bagian yang penting. Dan RUANG menurut Weda, masih juga dikategorikan sebuah MATERI! Masih merupakan BENDA FISIK! Para saintis modern telah pula mulai melakukan pengujian untuk membuktikan hipotesa bahwa RUANG masih juga merupakan MATERI.

Semesta ini terus mengembang. Terus membentuk ciptaan-ciptaan baru. Kemanakah segala benda ciptaan itu mengembang kalau tidak menuju RUANG. Berarti, begitu Semesta ini mengembang, maka akan terus tercipta RUANG baru!

Jauh-jauh hari, sebelum manusia modern bisa membuktikan bahwa semesta ini terus mengembang, dalam Weda telah disebutkan secara jelas tanpa harus ditafsir-tafsirkan lagi :

“Semoga Brahman, yang bagaikan laba-laba dengan jejaringnya yang terus keluar dari dalam diri-Nya, yang dihasilkan oleh PRADHANA/PRAKRTI-Nya, sehingga terus tercipta Alam Semesta ini, berkenan memberikan berkah kepada kami, sehingga kami dapat kembali menyatu dengan-Nya.”
(Swetaswatara Upanishad:6:10)

Namun teori yang menyatakan bahwa RUANG termasuk dalam unsur vital pembentuk JASAD FISIK, tidak begitu bisa dipahami oleh masyarakat Jawa setelah ajaran Shiwa Buddha meninggalkan Pulau Jawa. Sampai detik ini, masyarakat Jawa sudah terbiasa meyakini hanya ada empat unsur vital pembentuk JASAD FISIK manusia yaitu, TANAH/LOGAM (Sanskerta :PRTIWI, Jawa : BUMI), AIR (Sanskerta : APAH, Jawa : BANYU), API/CAHAYA (Sanskerta :TEJA, Jawa : GENI), UDARA (Sanskerta WAYU, Jawa : ANGIN). Sedangkan RUANG (AKASHA), terlupakan.

Masyarakat Bali masih bisa memahami. Mereka mengenalnya dengan istilah PANCA MAHA BHUTA (LIMA MAHA UNSUR MAKHLUK)!

Dan Gatholoco, tidak menyinggung tentang unsur RUANG karena dia tengah berdialog dengan masyarakat Jawa pasca Majapahit runtuh! Bahkan mereka yang tengah berdialog dengan Gatholoco ini, hanya mengenal keyakinan bahwa manusia tercipta dari AIR dan TANAH saja!

3. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 21 :

Asal banyu yêkti adus warih, dimen suci iku badanira, Gatholoco sru saure, Sira santri tan urus, yen suciya sarana warih, sun kungkum sangang wulan, ora kulak kawruh, satêmêne bae iya, ingsun adus Tirta Tekad Suci Êning, ing tyas datan kaworan.

Tubuhmu berasal dari cairan (sperma) sudah layak jika mandi menggunakan air, agar suci dirimu itu, Gatholoco lantang menjawab, Kalian santri bodoh! Jikalau bisa suci karena mandi dengan air, aku akan berendam selama sembilan bulan saja, tidak perlu mencari ilmu (Ke-Tuhan-an), ketahuilah bahwa sesungguhnya, aku telah mandi Air Tekad Suci yang Jernih, yaitu jernihnya hati tanpa dikotori oleh.

AIR masih juga dianggap sebagai sarana mutlak sebagai alat pensuci. Gatholoco tertawa dan menjawab dengan cerdas. Jikalau memang hanya dengan memakai AIR aku bisa menjadi suci, bukankah lebih baik aku berendam selama sembilan bulan saja, tidak perlu mencari ilmu Ke-Tuhan-an? Pensuci yang sesungguhnya, tak lain adalah TIRTA TEKAD SUCI ÊNING (AIR TEKAD SUCI JERNIH) . Sebuah AIR ABSTRAK YANG KELUAR DARI TEKAD UNTUK MENSUCIKAN DAN MENJERNIHKAN SEGALA KEKOTORAN BATIN MANUSIA! ITULAH AIR YANG BISA MENGGELONTOR SELURUH KEKOTORAN BATIN!

4. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 28 :

Gatholoco anauri malih, Yen mangkono isih lumrah janma, ora kinaot arane, beda kalawan Ingsun, kabeh iki isining bumi, sakurêbing akasa, dadi darbek-Ingsun, kang anyar sarwa gumêbyar, Sun kon nganggo marang sanak-sanak mami, Ngong trima nganggo ala.

Gatholoco menyahuti lagi, Jikalau begitu jelas kalian hanya manusia lumrah, bukan manusia pilihan namanya, berbeda dengan-Ku, sesungguhnya semua yang ada dibumi, dan yang ada dibawah langit, adalah milik-Ku, yang baru dan gemerlap, sengaja Aku berikan kepada saudara-saudaraku (semua makhluk hidup), Aku rela memakai yang jelek-jelek saja.

Atma adalah Percikan Brahman. Semesta ini adalah materi baru yang tercipta dari proses‘Persempitan ke-Mutlak-an Brahman’.

Atma adalah percikan. Semesta adalah ciptaan. Atma tak berawal dan berakhir. Langgeng abadi. Semesta ini mempunyai awal dan akhir. Tiada abadi. Makanya Semesta ini disebut pula sebagai ALAM MAYA!

Jika Atma dan Brahman itu sesungguhnya adalah SATU KESATUAN TUNGGAL, maka seluruh benda ciptaan ini sesungguhnya adalah milik Sang Atma juga.

Manakala dalam kenyataannya, kini Sang Atma kadangkala tidak mampu menikmati apa yang sesungguhnya merupakan milik-nya sendiri diseluruh Semesta raya ini, hal itu dikarenakan Sang Atma tengah terikat oleh Buah Karma-nya! Buah Karma yang dibuat-nya dan harus dinikmati-nya sendiri! Jika Sang Atma telah lepas dari jeratan Buah Karma, maka Sang Atma akan kembali memperoleh KESADARAN PURNA-NYA, KESADARAN MUTLAK-NYA. Sang Atma akan mampu merengkuh kembali segala milik-nya tanpa harus dibatasi lagi oleh takdir. Takdir yang sesungguhnya dia buat sendiri tanpa disadari!

Seluruh PEMIKIRAN (MANASIKA) Sang Atma, seluruh UCAPAN (WACIKA) Sang Atma, seluruhTINDAKAN (KAYIKA) Sang Atma, sesungguhnya adalah aktifitas pembuatan sebuah takdir bagi diri Sang Atma sendiri. Jika seluruh PEMIKIRAN, UCAPAN dan PERBUATAN Sang Atma cenderung positif, Sang Atma sesungguhnya telah menguntai takdir positif bagi diri-nya. Jika seluruh PEMIKIRAN, UCAPAN dan PERBUATAN Sang Atma cenderung negatif, sesungguhnya Sang Atma telah menguntai takdir negatif pula bagi diri-nya sendiri. Takdir bukan dibuat oleh Tuhan dari atas langit sana! Tidak ada Malaikat yang bertugas mencatat takdir anda! Yang ada, seluruh aktifitas anda yang keluar dari PEMIKIRAN, UCAPAN dan PERBUATAN, secara otomatis terekam oleh PRAKRTI! Terekam oleh ALAM! Dan Alam yang akan menumbuhkan buahnya, BAIK maupun BURUK, tergantung apa yang anda tanam! MALAIKAT ITU TAK LAIN ADALAH ALAM ITU SENDIRI! Sadari itu!

Dan buah perbuatan anda (Karmaphala ; Karma : Perbuatan, Phala : Buah) tidak bisa tidak, harus kembali kepada anda! Siapa yang menanam akan memetik! Siapa yang menabur angin akan menui badai! Tidak ada orang yang akan menggantikan! Dalam ungkapan Al-Qur’an sangat indah dinyatakan : SETIAP ORANG AKAN MEMIKUL DOSANYA SENDIRI! WALAUPUN ITU SEKECIL DZARROH (DEBU)!

Dan jika Sang Atma telah mampu terlepas dari ikatan samsara, terlepas dari lingkaran‘penanaman’ dan ‘penuaian’ hasil aktifitas yang terus menerus tiada henti tersebut, sesungguhnya Sang Atma akan kembali memiliki segala apa yang ada di seluruh semesta raya ini!

Inilah maksud Gatholoco! Dan manusia-manusia semacam Gatholoco, sesungguhnya telah mampu ‘memenuhi segala apa yang dikehendakinya’. Namun apalah arti dunia bagi manusia-manusia semacam dia! Karena KESADARAN PURNA yang telah dicapainya, tidak bisa dibandingkan dengan seluruh kenikmatan dan gemerlapnya duniawi! KESADARAN PURNA lebihGEMERLAP DAN NIKMAT daripada segala macam gemerlap dan kenikmatan duniawi yang gampang menguap bagai embun di pagi hari!

5. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 29 :

Apan Ingsun trima nganggo iki, pêpanganan ingkang enak-enak, kang lêgi gurih rasane, pêdhês asin sadarum, Sun kon mangan mring sagung janmi, ingkang sinipat gêsang, dene Ingsun amung, ngawruhi sadina-dina, Sun tulisi sastrane salikur iji, Sun simpên jroning manah.

Cukuplah Aku memakan yang ini saja, segala makanan yang enak-enak, yang manis gurih rasanya, pedas dan asin semuanya, Aku berikan untuk dimakan oleh seluruh manusia, dan semua makhluk yang bersifat hidup, sedangkan Aku hanyalah, meneliti setiap hari, Ku catat dalam sebuah sastra sebanyak Duapuluh Satu buah (angka Dua melambangkan mereka yang masih terikat Dualitas duniawi, angka Satu melambangkan mereka yang telah lepas dari Dualitas duniawi. Manusia yang Kesadarannya tinggi, mampu meneliti dan mengamati kedua jenis tingkatan kesadaran para manusia tersebut. Inilah makna Sastra Salikur Iji atau Sastra Duapuluh Satu yang dimaksud Gatholoco), dan Aku simpan didalam hati.

Manusia yang telah mencapai KESADARAN PURNA, maka KASIH yang ada didalam dirinya meluap-luap bagai gelombang samudera! Dia akan terus mendaur ulang segala unsur-unsur ekstrim Alam yang hendak mengacaukan ke-stabil-an semesta sebagai tempat yang masih harus ada.

Tempat yang masih harus ada sebagai media ber-evolusi bagi Atma-Atma yang masih belum mencapai KESADARAN PURNA!

Manusia-manusia yang telah mencapai KESADARAN PURNA, selain terus ‘membantu proses ke-stabil-an’ semesta, kadang pula mereka akan membimbing Atma-Atma lain, memandu secukupnya, dengan tidak meninggalkan kemandirian dari mereka yang tengah di bimbing! Nabi Khidir, Babaji Maha Avatar, Semar, dll adalah contoh-contoh dari sosok manusia-manusia suci pembimbing ini!

Mereka akan mengamati, mana saja para Atma yang mulai mampu lepas dari Dualitas Duniawi, dilambangkan dengan angka SATU, dan mana saja para Atma yang masih saja terus terikat dalam Dualitas Duniawi, dan dilambangkan dengan angka DUA.

Inilah makna ucapan Gathoooco yang selalu mengamati seluruh Atma, dicatat dalam Sastra yang disebut SASTRA SALIKUR IJI atau SASTRA DUA PULUH SATU. DUA melambangkan mereka-mereka yang masih terikat Dualitas Duniawi dan belum saatnya mendapat bimbingan dari Manusia-Manusia Berkesadaran Purna. SATU melambangkan mereka-mereka yang mulai bisa lepas dari Dualitas Duniawi dan sudah saatnya dibimbing oleh Manusia-Manusia Berkesadaran Purna seperti Gatholoco!

6. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 30 :

Ingsun dhewe mangan sabên ari, Ingsun milih ingkang luwih panas, sarta ingkang pait dhewe, najise dadi gunung, kabeh gunung ingkang ka-eksi, mulane kang bawana, padha mêtu kukus, tumuse gêni Sun pangan, ingkang dadi padhas watu lawan curi, klelet ingkang sun pangan.

Yang Ku-makan setiap hari, Ku-pilih yang sangat panas, dan yang terlampau pahit (maksudnya semua unsur-unsur negatif Alam yang terlalu ekstrim), kotoran (batin)-Ku menjadi gunung, seluruh gunung yang terlihat, (maksudnya, semua unsur negatif yang terlalu ekstrim dari Alam, mampu didaur ulang menjadi unsur yang lebih positif melalui olah batin dari manusia-manusia yang berkesadaran tinggi. Dilambangkan dengan keberadaan sebuah gunung yang menyimpan api menakutkan, namun lava dari gunung berapi, sangat bermanfaat menyuburkan tanah, sehingga tanaman apapun akan gampang tumbuh disekeliling gunung berapi. Jelasnya, dari sesuatu yang menakutkan semacam gunung berapi, mampu didaur ulang menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi manusia. Begitu pula proses daur ulang yang secara tidak disadari telah dilakukan oleh manusia-manusia berkesadaran tinggi semacam Gatholoco kepada semua unsur negatif alam yang terlalu ekstrim), apa sebabnya dunia diliputi asap saja (maksudnya, banyak unsur api terlampau ekstrim yang sesungguhnya melingkupi dunia ini, namun berkat manusia-manusia yang penuh kesadaran semacam Gatholoco, secara tidak sengaja, mereka-mereka ini menyerap unsur api yang terlalu ekstrim tersebut dan didaur ulang menjadi unsur api positif yang lebih bermanfaat. Jika tidak ada manusia-manusia berkesadaran tinggi semacam Gatholoco, dapat dipastikan, meteor-meteor raksasa dan hal-hal ekstrim lainnya, akan menghantam dan mengacaukan bumi tanpa ada penghalang lagi! Sadarilah ini!), sebab api telah Aku makan, kotoran (batin)-Ku menjadi batu cadas (seperti halnya dipilihnya ‘Gunung’ sebagai sebuah perumpamaan proses pendaur ulang-an unsur ektrim Alam agar menjadi lebih bermanfaat, ‘Batu Cadas’ dipilih pula karena identik dengan kekokohan, sesuatu yang kokoh kuat. Maksudnya jelas, unsur ekstrim alam, bisa diubah menjadi sesuatu yang stabil demi keberlangsungan semesta sebagai tempat berevolusi. Berterima kasihlah kepada manusia-manusia berkesadaran tinggi seperti Gatholoco!) Aku cukup memakan candu ini. (maksudnya candu spiritualitas)

Uraian diatas saya kira sudah cukup jelas. Dengan penambahan sedikit. Sosok-sosok Manusia Berkesadaran Tinggi seperti Gatholoco, hingga detik ini, dan sampai nanti jika Para Atma masih banyak yang belum terseberangkan dari lautan Dualitas Duniawi, akan selalu ada dan hadir! Walau jumlah mereka akan berkurang dan bertambah, sesuai dengan siklus perputaran Jaman (Yuga). Dalam Jaman Kali Yuga ini, mereka akan semakin berkurang. Banyak dari mereka-mereka yang akan MELEBUR DENGAN SUMBER ABADI SEMESTA! Pada Jaman Satya Yuga kelak, jumlah mereka akan bertambah. Jumlah mereka bertambah karena banyak para Atma-Atma baru dari Jaman Kali Yuga yang meningkat KESADARANNYA!

Manusia-Manusia Suci seperti mereka bukanlah monopoli agama tertentu! Karena mereka telah lepas dari Dualitas Duniawi.

Status agama ‘A’atau ‘B’, adalah status DUNIAWI! Bagaimana bisa mereka membimbing kita melepaskan diri dari ikatan Dualitas Duniawi jikalau mereka sendiri masih terikat dengan status keduniawian?

SESUNGGUHNYA MEREKA-MEREKA TELAH TERLEPAS DARI SEGALA MACAM STATUS, ATRIBUT DAN TETEK BENGEK BENDERA DUNIAWI! JANGAN MENJADI BODOH DENGAN MEMPERCAYAI SEBUAH KEYAKINAN BAHWA MANUSIA YANG TELAH MENCAPAI KESEMPURNAAN SEPERTI GATHOLOCO MASIH JUGA MENJADI MILIK AGAMA ‘A’ ATAU ‘B’!

PARA MANUSIA ILLAHI SEMACAM GATHOLOCO AKAN TERTAWA MELIHAT KEKONYOLAN KEYAKINAN SEMACAM ITU!

7. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 31 :

Sadurunge Ingsun ngising najis, gunung iku yêkti durung ana, benjang bakal sirna maneh, lamun Ingsun wus mantun, ngising tai mêtu têka silit, titenana kewala, iki tutur-Ingsun, Guru tiga duk miyarsa, gya micara astane sarwi nudingi, Layak kuru tan pakra.

Sebelum Aku membuang kotoran (batin), seluruh gunung belumlah tercipta (maksudnya, dunia tidak akan stabil sebagai tempat yang sesuai bagi proses evolusi jiwa jika tidak ada manusia-manusia berkesadaran tinggi yang mampu mendaur ulang unsur-unsur ekstrim Alam seperti Gatholoco), kelak akan sirna kembali, jika Aku sudah tidak lagi, membuang kotoran lewat dubur, nyatakanlah kelak, apa yang Aku katakan ini. (maksudnya jika manusia-manusia yang berkesadaran tinggi hilang dari muka bumi, dapat dipastikan kiamat dunia akan tercipta!). Ketiga Guru begitu mendengar, segera berkata sembari menuding, Makanya kurus kering tidak lumrah manusia (tubuhmu).

Gatholoco hanya sekedar menegaskan, bahwa tanpa adanya Manusia-Manusia Berkesadaran Tinggi, Manusia-Manusia Illahi, yaitu Manusia-Manusia yang Merupakan Perwujudan Illahi, kestabilan semesta tidak akan tercipta. Jika Para Sadhu (Manusia Sempurna) seperti mereka mulai berkurang, maka dapat dipastikan, kekacauan semesta akan tercipta. Dan pada puncak chaos yang sedemikian, maka akan lahirlah seorang Buddha (Yang Tersadarkan) , seorang Awatara (Perwujudan Illahi) , seorang Mesias (Juru Selamat) , seorang Nabi (Manusia pilihan Tuhan) , yang akan kembali menstabilkan semesta diakhir Jaman Kali Yuga kelak!

Dalam Hindhuisme, Kalki Awatara kelak akan turun untuk menghancurkan Asura Kali dan mengakhiri Jaman Kali Yuga menuju ke Jaman Satya Yuga kembali. Dalam Buddhisme, Buddha Maitreya kelak akan turun manakala Dhamma sudah terlupakan! DalamKristianisme, Jesus akan turun untuk menghancurkan Lucifer dan mengakhiri dunia lama menuju dunia baru. Saat itulah Armagedon tengah tercipta! Dalam keyakinan Islam, Nabi Isa a.s. kelak akan turun untuk menghancurkan Dajjal!
Kalki, Maitreya, Jesus, Isa, apakah mereka pribadi yang beda? Mengapa masih ngotot menunjukkan keyakinannya sendiri yang paling benar? Sampai dibela-belain menumpahkan darah segala?

Sadarlah saudaraku!

8. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 32 :

Gatholoco sigra anauri, Mila ingsun kurune kalintang, krana nurut mring karsane, Gusti Jêng Nabi Rasul, sabên ari ingsun turuti, tindak mênyang ngêpaken, awan sore esuk, mundhut candhu lawan madat, dipun dhahar kalawan dipun obongi, Allah kang paring wikan.

Gatholoco segera menjawab, Tubuhku kurus disebabkan, karena menuruti perintah, Gusti (Kang)jêng Nabi Rasul(lullah), setiap hari aku turuti, bertandang ke tempat madat, siang sore pagi, mengambil candu dan madat, dimakan langsung maupun dibakar lalu dihisap, Allah yang memberikan ijin. (Maksudnya Kangjêng Nabi Rasul dalam kesadaran Gatholoco, bukanlah Nabi Muhammad, melainkan Ruh-nya sendiri, Atma-nya sendiri. Suara Atma, suara Ruh, yang sering diistilahkan dengan SUARA NURANI, memerintahkan manusia-manusia seperti Gatholoco untuk terus mabuk spiritual, agar terus ke-Candu-an dengan Ke-Illahi-an. Dan Allah-pun me-ridloi!)

Ruh ini, Atma ini, adalah Utusan, adalah Rasul yang sesungguhnya! Sebejat apapun manusia, searogan apapun manusia, sekejam dan sejahat apapun manusia, se-psikopat apapun manusia, pasti masih memiliki rasa bersalah! Dan rasa bersalah itu berasal dari SUARA RUH KITA! INILAH YANG SERING DIISTILAHKAN DENGAN SUARA HATI NURANI!

Masih terngiangkah anda semua dengan teriakan Jesus bahwa Dia datang bukan dengan hukum Taurat Musa, tapi Dia datang dengan Hukum Roh? Apakah itu? Tak lain adalah HUKUM YANG BERASAL DARI SUARA ROH. SUARA HATI NURANI!

Masih ingatkah anda sabda Bhagawan Manu melalui Bhagawan Bregu yang menyatakan bahwaATMANASTUTI (SUARA ATMA) adalah Hukum tertinggi, bahkan melebihi Weda sekalipun?

Lantas mengapakah anda memaksakan memberlakukan sebuah Hukum jika NURANI anda sendiri memberontak karenanya? Nurani anda adalah KEJUJURAN MURNI. Anda bisa menipu orang lain. Anda bisa menang berpekara dengan orang lain walau sebenarnya anda dipihak yang salah. Namun dalam kesendirian, pasti akan terdengar suara Ruh anda yang mengatakan bahwasanya sesungguhnya akulah yang salah. Ada sesal, ada kasihan dan ada rasa bersalah! Walaupun rasa itu kadang dengan mahirnya kita tepiskan melalui pembenaran-pembenaran dari Pikiran liar kita! Jika kita terbiasa menepis SUARA RUH, SUARA NURANI, anda akan menjadi orang MUNAFIK SEJATI! Manusia bisa membohongi manusia lain, tapi sesungguhnya tidak ada manusia yang bisa membohongi DIRINYA SENDIRI!

Dengan meditasi, volume SUARA NURANI ini akan semakin keras terdengar! Dengan membiasakan sikap KASIH kepada sesama, volume SUARA RUH ini-pun akan semakin nyaring! Dan dengan membiasakan mengikuti SUARA ini, dapat dipastikan anda telah berada dijalan yang benar!

Suara tersebut sebenarnya adalah SUARA ANDA YANG SEJATI. YAITU ANDA YANG LEPAS DARI KUNGKUNGAN KESADARAN RELATIF, PIKIRAN RELATIF, PERASAAN RELATIF DAN MEMORY RELATIF ANDA!

Sadarilah, selama ini anda hidup dengan Kesadaran, Pikiran, Perasaan dan Memory Relatif anda. Anda belum hidup dalam ROH!

Jesus Kristus, focus membahas tentang hal ini! Anda selama ini tengah hidup dalam DAGING!! Dan anda sesungguhnya bukanlah DAGING! Anda adalah ROH! Siapa yang mengikuti kemauanDAGING, dia akan hidup ditengah orang-orang mati! Yaitu kegelapan kesengsaraan duniawi. Terikat proses kelahiran dan kematian yang tiada henti. Dunia yang penuh gemeretak-nya gigi karena kesedihan! Dunia dibawah KUASA GELAP IBLIS yang tak lain sesungguhnya adalahKUASA DUALITAS DARI PRAKRTI! Siapa yang HIDUP DALAM ROH, dia patut bersuka cita. Karena pembebasan akhir menuju KEDIAMAN BAPA, yaitu KERAJAAN ALLAH, telah nyata! Inilah maksud Sang Mesias!

Weda jauh-jauh hari telah menegaskan bahwa ANDA SESUNGGUHNYA BUKANLAH KESADARAN RELATIF ITU, ANDA BUKANLAH PIKIRAN, ANDA BUKANLAH PERASAAN, ANDA BUKANLAH MEMORY, ANDA BUKANLAH TUBUH FISIK ITU. ANDA ADALAH ATMA!

Dan Gatholoco membahasakan bahwa Ruh-kita ini-lah, Atma-kita inilah Sang Utusan! Dan Sang Utusan memerintahkan dia untuk terus menikmati candu spiritualitas!

(Bersambung )

SERAT GATHOLOCO, diterjemahkan dan diulas oleh : Damar Shashangka, Bagian : 5
Bagikan
29 April 2010 jam 8:35

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA

PUPUH III

Sinom
(Kumpulan Syair III, Lagu ber-irama Sinom)

1. Gatholoco nulya ngucap, Dhalang Wayang lawan Kêlir, Balencong êndi kang tuwa, badhenên cangkriman iki, yen sira nyata wasis, mêsthi wêruh ingkang sêpuh, Ahmad Ngarip ambatang, Kêlir kang tuwa pribadi, sadurunge ana Dhalang miwah Wayang.

Gatholoco lantas berkata, Dalang Wayang dan Kêlir (Layar), serta Balencong (pelita yang dinyalakan pada jaman dulu selama pertunjukan wayang kulit digelar) mana yang lebih tua, jawablah teka-teki ini, apabila kalian nyata pandai, pasti akan tahu mana yang lebih tua, Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif) menjawab, Kêlir (Layar) yang lebih tua sendiri, sebelum adanya Dalang dan Wayang.

2. Balencong durung pinasang, Kêlir ingkang wujud dhingin, wus jumênêng keblat-papat, ngisor têngah lawan nginggil, mila tuwa pribadi, Abdul Jabar asru muwus, Heh Ahmad Ngarip salah, pambatangmu iku sisip, panêmuku tuwa dhewe Kaki Dhalang.

Sebab sebelum Balencong dipasang, Kêlir (Layar)-lah yang ada dahulu, sebagai perlambang empat penjuru mata angin, arah bawah tengah dan atas, makanya lebih tua sendiri, Abdul Jabar berkata lantang, Hai Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif) kamu salah, jawabanmu itu keliru, menurutku yang lebih tua adalah Ki Dalang.

3. Anane Kêlir lan Wayang, kang masang Balencong sami, Wayang gaweyane Dhalang, mulane tuwa pribadi, tan ana kang madhani, anane Dhalang puniku, ingkang karya lampahan, nyritakake ala bêcik, asor unggul tan liya saking Ki Dhalang.

Adanya Kêlir (Layar) dan Wayang, serta yang memasang Balencong, Wayang buatan Dalang, makanya lebih tua sendiri, tiada yang menyamai, keberadaan Dalang tersebut, bahkan yang menjalankan wayang, menceritakan hal yang buruk dan baik, kalah dan menang tak lain adalah Ki Dalang.

4. Nulya Kyai Abdul Manap, nambungi wacana aris, Karo pisan iki salah, padha uga durung ngêrti, datan bisa mrantasi, tur remeh kewala iku, mung nalar luwih gampang, ora susah nganggo mikir, sun ngarani tuwa dhewe Wayang-ira.

Lantas Kyai Abdul Manap (Abdul Manaf), menyahut dengan pelan, Jawaban kalian berdua itu salah, sama-sama tidak memahami, tidak bisa menjelaskan, padahal itu teka-teki yang remeh, gampang dijawab oleh akal, tidak perlu susah berfikir, aku menjawab yang paling tua sendiri adalah Wayang-nya.

5. Upama wong nanggap Wayang, isih kurang têlung sasi, Dhalange pan durung ana, panggonanane durung dadi, wus ngucap nanggap Ringgit, tutur mitra karuhipun, sun arsa nanggap Wayang, ora ngucap nanggap Kêlir, ora ngucap nanggap Balencong lan Dhalang.

Seumpama ada orang yang hendak mengundang hiburan Wayang kulit, masih dalam jangka waktu tiga bulan sebelumnya, Dalang belum ada, tempat pertunjukan belum dibuat, sudah diucapkan kemana-mana hendak mengundang hiburan Wayang kulit, diberitahukan ke teman dan keluarga, bahwa aku hendak mengundang hiburan Wayang kulit, tidak mengatakan hendak mengundang hiburan Kêlir (Layar), tidak mengucapkan hendak mengundang hiburan Balencong maupun mengundang hiburan Dalang.

6. Wus mupakat janma kathah, kang tinanggap apan Ringgit, durung paja-paja gatra, wus muni ananggap Ringgit, mila tuwa pribadi, Gatholoco alon muwus, Abdul Jabar Dul Manap, tanapi si Ahmad Ngarip, têlu pisan pambatange padha salah.

Sudah sepakat semua orang, yang hendak diundang adalah hiburan Wayang kulit, belum juga ada terlihat hadir, sudah dikabarkan hendak mengundang hiburan Wayang kulit, makanya Wayang itu tua sendiri, Gatholoco pelan berkata, Abdul Jabar (Ab)dul Manap (Abdul Manaf), apalagi si Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif), jawaban kalian semua salah.

7. Yen mungguh pamêtêkingwang, Balencong tuwa pribadi, sanajan Kêlir pinasang, gamêlan wus miranti, Dhalang niyaga linggih, yen maksih pêtêng nggenipun, sayêkti durung bisa, Dhalange anampik milih, nyritakake sawiji-wijining Wayang.

Menurut aku, Balencong itu lebih tua, walaupun Kêlir (Layar) telah dipasang, gamelan sudah ditata, Dalang dan para niyaga (penabuh gamêlan beserta sindhen-nya) sudah duduk, akan tetapi jika masih gelap tempatnya, pasti tidak bisa, Dalang memilah dan memilih, untuk menceritakan cerita satu-persatu dari tiap jenis wayang.

8. Kang nonton tan ana wikan, marang warnanira Ringgit, margane isih pêtêngan, ora kêna den tingali, yen Balencong wus urip, kanthar-kanthar katon murub, Kêlire kawistara, ing ngandhap miwah ing nginggil, kanan kering Pandhawa miwah Kurawa.

Yang menonton tak akan bisa melihat, kepada wujud setiap jenis Wayang, karena masih gelap gulita, tidak bisa dilihat mata, manakala Balencong sudah dinyalakan, menyala-nyala terlihat terang, Kêlir (Layar) akan tampak, dimana arah bawah dan arah atas, dimana kanan dan dimana kiri serta mana Pandhawa mana Kurawa.

9. Ki Dhalang neng ngisor damar, bisa nampik lawan milih, nimbang gêdhe cilikira, tumrap marang siji-siji, watake kabeh Ringgit, pinatês pangucap-ipun, awit pituduhira, Balencong ingkang madhangi, pramilane Balencong kang luwih tuwa.

Ki Dalang duduk dibawah pelita, mampu memilah dan memilih, menimbang besar kecilnya, terhadap setiap jenis, dari perwatakan tiap Wayang, sehingga mampu menyesuaikan ucapannya (dengan tiap karakter wayang kulit), sebab mendapat petunjuk, dari Balencong yang menerangi, oleh karenanya Balencong yang lebih tua.

10. Dene unining gamêlan, Wayange kang den gamêli, Dhalange mung darma ngucap, si Wayang kang darbe uni, prayoga gêdhe cilik, manut marang Dhalangipun, sinigêg gangsa ika, Kaki Dhalang masesani, nanging darma ngucap molahake Wayang.

Sedangkan bunyi gamêlan, mengiringi gerakan Wayang, Dalang hanya sekedar mengucapkan, dari suara tiap jenis Wayang, sedang tinggi atau rendah, menurut kehendak Dalang, berhentinya gamêlan, Ki Dalang yang berkuasa, akan tetapi sesungguhnya Dalang hanya sekedar mengucapkan dan menggerakkan Wayang sesuai dengan kisah yang telah ditentukan.

11. Parentahe ingkang nanggap, ingkang aran Kyai Sêpi, basa Sêpi Tanpa Ana, anane ginêlar yêkti, langgêng tan owah gingsir, tanpa kurang tanpa wuwuh, tanpa reh tanpa guna, ingkang luwih masesani, ing solahe Wayang ucape Ki Dhalang.

Kisah yang dikehendaki oleh orang yang mengundang, yang dinamakan Kyai Sêpi, kata Sêpi berarti Tidak Ada, akan tetapi Keberadaan-Nya sesungguhnya tergelar, langgeng tak berubah, tak bisa berkurang dan tak bisa ditambah, tanpa kehendak tanpa sifat, akan tetapi ada yang lebih berkuasa, diatas gerakan Wayang dan ucapan Ki Dalang.

12. Ingkang mêsthi nglakonana, ingkang ala ingkang bêcik, kang nonton mung ingkang nanggap, yeku aran Kyai Urip, yen damare wus mati, kabeh iku dadi suwung, tan ana apa-apa, lir Ingsun duk durung lair, têtêp suwung ora ana siji apa.

Yang membuat semua bisa bergerak, bergerak melakukan perbuatan jelek maupun baik, dari yang melihat hingga yang mengundang, yaitu Kyai Urip (Kyai Hidup), manakala pelita telah padam, semua jadi kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan Ingsun (Aku) ketika belum terlahirkan, tetap kosong tidak ada apapun juga.

13. Basa Kêlir iku Raga, Wayange Suksma Sujati, Dhalange Rasul Muhammad, Balencong Wahyune Urip, iku upama Widdhi, Cahyane Urip puniku, nyrambahi badanira, jaba jêro ngandhap nginggil, Wujudira Wujude Allah Kang Murba.

Layar itu sesungguhnya adalah Raga ini, Wayang sesungguhnya Suksma Sejati, Dalang sesungguhnya Rasul Muhammad, Balencong adalah Percikan Hidup, bagaikan Hyang Widdhi sendiri, Cahaya Hidup tersebut, merata didalam tubuhmu, diluar didalam diatas dan dibawah, Wujudmu tak lain adalah Wujud Allah Yang Kuasa.

14. Yen Wayang mari tinanggap, Wayange kalawan Kêlir, sinimpên sajroning kothak, Balencong pisah lan Kêlir, Dhalang pisah lan Ringgit, marang ngêndi paranipun, sirnane Blencong Wayang, upayanên den kêpanggih, yen tan wêruh sira urip kaya rêca.

Jikalau pertunjukan Wayang telah selesai, Wayang beserta Kêlir (Layar), disimpan didalam kotak, Balencong berpisah dengan Kêlir (Layar), Dalang berpisah dengan Wayang, kemanakan perginya, sirnanya Balencong dan Wayang? Carilah hingga ketemu, apabila tidak mengetahui hal itu hidupmu bagaikan arca batu semata.

15. Benjang yen sira palastra, urip-mu ana ing ngêndi, saikine sira gêsang, pati-mu ana ing ngêndi, uripmu bakal mati, pati nggawa urip iku, ing ngêndi kuburira, sira-gawa wira-wiri, tuduhêna dununge panggonanira.

Kelak jika kalian meninggal dunia, hidup-mu berada dimana? Saat ini kalian hidup, mati-mu berada dimana? Hidup-mu bakal menemui mati, mati akan membawa pergi hidup-mu, dimanakah kematian itu berada? Sesungguhnya telah kalian bawa kesana-kemari, tunjukanlah tempat kediamannya.

16. Guru tiga duk miyarsa, anyêntak sarwi macicil, Rêmbug gunêm ujarira, iku ora lumrah janmi, Gatholoco nauri, Dhasar sun-karêpkên iku, aja lumrah wong kathah, ngungkulana mring sasami, ora trima duwe kawruh kaya sira.

Begitu mendengarnya ketiga Guru, membentak sembari melotot, Apa yang telah kamu katakan, tidak lumrah diucapkan manusia! Gatholoco menjawab, Memang aku sengaja demikian, jangan sampai lumrah seperti manusia kebanyakan, sebaiknya mengungguli pengetahuan sesama, aku tidak akan terima jika hanya memiliki pengetahuan seperti pengetahuan kalian!

17. Santri padha ambêk lintah, ora duwe mata kuping, anggêre amis kewala, cinucup nganti malênthing, ora ngrêti yen gêtih, gandane amis tur arus, kinira madumangsa, yen wus warêg mangan gêtih, amalêngkêr tan mêtu nganti sawarsa.

Santri yang berperilaku seperti lintah, tidak memiliki mata dan telinga, asalkan mencium bau amis, dihisap hingga perutnya menggelembung, tidak tahu kalau itu darah, baunya amis dan arus (padanan kata amis), dikira madu, jika sudah kenyang meminum darah, meringkuk tak keluar-keluar lagi hingga setahun.

18. Wêkasan kaliru tampa, tan wruh têmah ndurakani, manut kitab mêngkap-mêngkap, manut dalil tanpa misil, amung ginawe kasil, sinisil ing rasanipun, rasa nikmating ilat, lan rasane langên rêsmi, rasanira ing kawruh ora rinasa.

Pada akhirnya salah terima, tidak memahami inti sari malah berbuat dosa tanpa disadari, menuruti kata-kata kitab begitu saja, menuruti dalil tanpa tahu makna sesungguhnya, hanya dibuat untuk memperoleh keuntungan duniawi, tersilap dengan keduniawian, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa lidah, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa bersenggama, makna sejati ilmu tidak dirasakan.

19. Têtêp urip tanpa mata, matamu mata soca pring, matamu tanpa paedah, matamu tan migunani, Kyai Guru mangsuli, muring-muring asru muwus, Apa sira tan wikan, mring mataku loro iki, Gatholoco sinaur Sireku bêja.

Kalian hidup tak memiliki mata! Matamu mata batang bambu! Matamu tak bermanfaat! Matamu tak berguna! Kyai Guru menjawab, marah-marah membentak keras, Apa kamu buta! Tidak melihat jikalau kami punya mata! Gatholoco menjawab, kalian sangat beruntung!

20. Dene padha duwe mata, loro-loro guru siji, apa sira wani sumpah, yen duwe mata kêkalih, Guru tiga nauri, Dhasar sayêktine ingsun, têtela duwe mata, têtêp loro mata-mami, Gatholoco gumujêng sarwi anyêntak.

Mempunyai biji mata, setiap orang dari kalian memiliki dua buah, apakah kalian berani bersumpah, benar-benar memiliki dua buah mata? Ketiga Guru menjawab, Benar-benar kami, nyata-nyata memiliki mata, berjumlah dua buah, Gatholoco tertawa sambil membentak.

21. Sireku wani gumampang, sayêkti balak bilahi, ngaku dudu matanira, sun-lapurkên pulisi, mêsthine den taleni, angaku loro matamu, yen nyata matanira, konên gilir gênti-gênti, prentahana siji mêlek siji nendra.

Kalian sangat berani menggampangkan sumpah, sungguh akan menuai balak dan celaka, mengaku memiliki mata yang jelas-jelas bukan mata kalian, sebenarnya bisa dilaporkan ke polisi (maksud Gatholoco adalah hukum alam semesta), pasti akan diikat tangan kalian, sebab mengaku memiliki dua buah mata, kalau memang benar demikian, coba suruh bergantian, perintahkan yang satu jaga dan yang satu tidur.

22. Dadi salawasmu gêsang, ora kêna dimalingi, Guru tiga samya ngucap, Êndi ana mata gilir, Gatholoco nauri, Tandhane nyata matamu, sira wênang masesa, saprentahmu den turuti, yen tan manut yêkti dudu matanira.

Sehingga selama kamu hidup, tidak bisa kecolongan oleh maling, Ketiga Guru berkata, Mana ada mata bergiliran? Gatholoco menjawab, Jika memang benar itu mata kalian, pastilah kalian berwenang menguasai, bisa diperintahkan sesuai keinginanmu, apabila tidak menurut nyata bukan mata kalian.

23. Guru tiga samya mojar, Aku wani sumpah yêkti, awit cilik prapteng tuwa, tan pisah lan rai-mami, Gatholoco mangsuli, Dene sira wani ngaku, matamu ora pisah, mata olehmu ing ngêndi, apa tuku apa gawe apa nyêlang.

Ketiga Guru berujar, Aku berani bersumpah, semenjak kecil hingga tua, tidak pernah terpisah dengan wajah kami, Gatholoco menjawab, Berani sekali kalian mengaku, bahwa mata kalian tidak pernah berpisah, mata dapat dari mana? Apakah beli apakah membuat sendiri ataukah meminjam?

24. Apa sira winewehan, iya sapa kang menehi, kalawan saksine sapa, dina apa aneng ngêndi, Guru tiga miyarsi, dhêlêg-dhêlêg datan muwus, wasana samya ngucap, Gaweyane bapa bibi, Gatholoco gumuyu alatah-latah.

Apakah kalian diberi? Lantas siapakah yang memberi? Dan lagi siapakah saksinya saat kalian diberi? Hari apa dimanakah tempatnya dan kapan waktu saat kalian diberi? Ketiga Guru mendengar akan hal itu, terbengong-bengong tanpa bisa menjawab, pada akhirnya berkatalah mereka, Buatan Bapak dan Ibu, Gatholoco tertawa terbahak-bahak.

25. Kiraku wong tuwanira, loro pisan padha mukir, karone ora rumasa, gawe irung mata kuping, lanang wadon mung sami, ngrasakake nikmatipun, iku daya jalaran, wujude ragamu kuwi, ora nêja gawe rambut kuping mata.

Aku yakin orang tua kalian, keduanya akan menolak (bila dikatakan telah membuat mata), kedua-duanya tidak pernah merasa, telah membuat hidung mata dan telinga, laki-laki dan perempuan hanyalah, sekedar menikmati nikmatnya (bersenggama) semata, (persetubuhan) mereka hanya sekedar lantaran, terwujudnya raga kalian, mereka tidak sengaja membuat rambut telinga dan mata.

26. Guru tiga nulya mojar, Allah Ingkang Maha Suci, ingkang karya raganingwang. Gatholoco anauri, Prênah apa sireki, kalawan Kang Maha Luhur, dene ta pinaringan, mata loro kanan-kering, têlu pisan pinaringan grana lesan.
Ketiga Guru lantas berkata, Allah Yang Maha Suci, yang telah membuat raga kami, Gatholoco menyahuti, Punya hubungan apa kalian, dengan Yang Maha Luhur? Sehingga kalian diberikan, kedua bola mata kanan dan kiri, yang ketiga bahkan diberikan hidung dan lesan.

27. Guru tiga saurira, Katrima pamuji-mami, Gatholoco asru nyêntak, Pujimu pujining Widdhi, sira ora nduweni, marang pangucap sadarum, iku ucaping Allah, yen mangkono sira maling, wani-wani kadunungan barang gêlap.

Ketiga Guru menjawab, Karena diterima doa kami, Gatholoco keras membentak, Bahkan doamu-pun adalah milik (Hyang) Widdhi! Kalian tidak punya hak untuk mengakui! Karena pengucapan kalian itu semua, itu ucapan Allah! Jikalau demikian kalian adalah maling! Telah berani ketempatan barang yang bukan milik kalian (namun kalian akui sebagai milik sendiri)!

28. Yen tan bisa ndunungêna, kajêdhêgan ingkang dhiri, mêsthine dadi sakitan, ora kêna sira mukir, mêloke wus pinanggih, têka ngêndi asalipun, yen asale tan wikan, matanira loro kuwi, ora kêna angukuhi matanira.

Jika tidak bisa menunjukkan asalnya dari mana, diri kalian patut dipersalahkan, pasti akan menjadi pesakitan, kalian tidak bisa memungkiri lagi, jelas-jelas telah nyata (kalian maling)! (Sekali lagi) darimanakah asalnya? Jika asalnya tidak tahu, asal mula pertama mata kalian, maka tidaklah pantas jika mengakuinya sebagai mata sendiri!

29. Sakehing reh lakonana, yen tan manut Sun gitiki, jalaran sira wus salah, kajêdhêgan sira maling, lah iku duwek Mami, sira anggo tanpa urus, saikine balekna, ilange duk Jaman Gaib, Ingsun simpên ana satêngahing jagad.

Segala perintah-Ku laksanakan, jika tak menurut pasti Ku dera, sebab kalian telah salah, patut dipersalahkan karena maling, itu semua milik-Ku, kalian pakai dengan tidak benar, sekarang kembalikan, dulu hilang dikala Jaman Gaib, Aku simpan di tengah-tengah jagad.

30. Saksine si Wujud Makna, cirine rina lan wêngi, Ingsun rêbut tanpa ana, saiki lagya pinanggih, sira ingkang nyimpêni, santri padha tanpa urus, yen sira tan ngulungna, sun lapurake pulisi, ora wurung munggah ing rad pêngadilan.

Saksinya adalah si Wujud Makna (Wujud dari segala inti sari makna kitab suci), bukti (dari keteledoran kalian memakai barang-Ku dengan tidak benar) telah dicatat oleh siang dan malam, Aku cari-cari tak ketemu, sekarang tengah Aku jumpai, ternyata kalian yang menyimpannya, para santri yang tidak benar! Jika tidak kalian kembalikan, Aku laporkan polisi (hukum alam), tak urung akan di naik perkara dipengadilan (semesta)!

31. Mêsthi sira kokum pêksa, yen wêngi turu ning buwi, lamun rina nambut karya, sabên bêngi den kandhangi, beda kalawan mami, salawase ngong tumuwuh, sadurunge tumindak, ingkang daya sêja-mami, agal alus kasar lêmbut ingsun nalar.

Pasti akan menerima hukuman, jika malam tidur didalam penjara (terkurung dalam kegelapan batin sehingga gelisah), jika siang kerja paksa (sengsara ditengah panasnya dualitas duniawi), tiap malam dikandangkan (terus terjerat dalam kegelapan batin), berbeda dengan aku, selama aku hidup, sebelum bertindak, untuk memenuhi keinginanku, kasar maupun halus pasti aku pikirkan terlebih dahulu.

32. Murih aja dadi salah, Ahmad Ngarip anauri, Gunêman karo wong edan, Gatholoco amangsuli, Edanku awit cilik, kongsi mangke prapteng umur, ingsun tan bisa waras, sabên dina owah gingsir, nampik milih panganan kang enak-enak.

Agar jangan sampai salah langkah, Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif) menjawab, Berbicara dengan orang gila! Gatholoco menyahut, Gilaku memang semenjak kecil, hingga saat usiaku tua, aku tidak bisa sembuh, setiap hari pikiranku tidak waras, menolak makanan yang enak-enak.

33. Panganggo kang sarwa endah, ingsun edan urut margi, nurut margane kamulyan, Abdul Jabar muring-muring, astu sumaur bêngis, Rêmbugan lan asu buntung, Gatholoco angucap, Bênêr olehmu ngarani, sakrabatku bapa kaki buyut canggah.

(Menolak) busana yang indah-indah, aku gila disepanjang jalan, gila dijalan kemuliaan! Abdul Jabar marah-marah, lantas berkata bengis, Berbicara dengan anjing buntung! Gatholoco berkata, Memang benar apa yang kamu tuduhkan, seluruh keluargaku mulai bapak-ku kakek-ku buyut (ayahnya kakek)-ku sampai canggah (kakeknya kakek)-ku.

34. Dhasare buntung sadaya, tan ana buntut sawiji, basa Asu makna Asal, Buntung iku wus ngarani, ingsun jinising janmi, ora buntut lir awakmu, balik sira wong apa, sira gundhul anjêdhindhil, apa Landa apa Koja apa Cina.

Memang buntung semua, tidak ada ekornya, Asu artinya Asal, arti Buntung sudah kalian ketahui (maksud Gatholoco dia memang berasal dari makhluk yang tanpa ekor), aku ini manusia, tidak berekor seperti kalian, sebaliknya kalian itu orang apa? Kepala kalian gundul licin, apakah orang Belanda apakah Koja apakah Cina.

35. Apa sira wong Benggala, Guru tiga anauri, Ingsun iki bangsa Jawa, Muhammad agama-mami, Gatholoco nauri, Sira wong kapir satuhu, Kristên agamanira, lamun sira bangsa Jawi, dene sira tan nêbut Dewa Bathara.

Apakah kalian orang Benggala (maksudnya India), Ketiga Guru menjawab, Kami ini orang Jawa, (ajaran) Nabi Muhammad agama kami! Gatholoco menjawab, Kalian manusia ‘Penentang’ sesungguhnya, seperti halnya orang Kristen (dalam pandangan kalian, begitu juga pandanganku terhadap kalian)! Jika memang kalian orang Jawa, mengapa tidak menyebut (Nama Tuhan dengan sebutan) Dewa Bathara?

36. Agama Rasul Muhammad, agamane wong ing Arbi, sira nêbut liya bangsa, têgêse sinipat kapir, tan sêbutmu pribadi, anggawe rusak uripmu, mulane tanah Jawa, kabawah mring liya jinis, krana rusak agamane kuna-kuna.

Agama Rasul(lullah) Muhammad, sesungguhnya adalah agama suci bagi orang Arab! Kalian mengikuti bangsa lain (dan mengingkari agama suci yang diperuntukkan bagi kalian ditanah Jawa)! Oleh karenanya pantas juga disebut ‘Penentang’! Tidak mengingat kepada kepribadian sendiri, membuat rusaknya kehidupan (di Jawa), oleh karenanya tanah Jawa, dijajah terus menerus oleh bangsa lain, karena telah rusak agama yang lama!

37. Wiwit biyen jaman purwa, Pajajaran Majapahit, wong Jawa agama Buda, jaman Dêmak iku salin, nêbut Rasulullahi, sêbute wong Arab iku, saiki sira tular, anilar agama lami, têgêsira iku Kristên bangsa Arab.

Semenjak awal (di tanah Jawa) dulu, (saat jaman) Pajajaran Majapahit, orang Jawa ber-agama Buda (Shiwa Buddha), semenjak jaman Dêmak lantas berganti, mengikuti ajaran Rasulullah, (yang sesungguhnya adalah) ajaran suci bagi orang Arab, sekarang kalian terus mengikuti pula, meninggalkan agama lama, artinya kalian itu Kristen dari Arab (maksudnya, jika mengikuti pola pikir manusia-manusia Jawa pasca keruntuhan Majapahit semacam orang yang tengah berdialog dengan Gatholoco saat itu, yang menganggap manusia-manusia Jawa lain yang beragama Kristen adalah ‘manusia penentang’, maka dengan pola pikir yang sama, Gatholoco bisa juga menganggap manusia-manusia Jawa pasca keruntuhan Majapahit semacam orang yang tengah berdialog dengan Gatholoco, pantas juga dianggap ‘Penentang’ oleh orang Jawa yang beragama Shiwa Buda. Gatholoco hanya sekedar membalikkan logika berfikir mereka saja. Pada gilirannya, jikalau mereka tersinggung dianggap sosok manusia-manusia ‘Penentang’, maka begitu juga perasaan orang Kristen dan orang Shiwa Buddha manakala dianggap ‘Penentang’ oleh mereka. Sebuah bentuk keegoisan yang tidak mereka sadari!)

(Bersambung ke bagian 6-ulasan)

03 Mei 2010 jam 8:12
Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA

Bagian : 6 (Ulasan)

1. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 7-13

Yen mungguh pamêtêkingwang, Balencong tuwa pribadi, sanajan Kêlir pinasang, gamêlan wus miranti, Dhalang niyaga linggih, yen maksih pêtêng nggenipun, sayêkti durung bisa, Dhalange anampik milih, nyritakake sawiji-wijining Wayang.

Menurut aku, Balencong itu lebih tua, walaupun Kêlir (Layar) telah dipasang, gamelan sudah ditata, Dalang dan para niyaga (penabuh gamêlan beserta sindhen-nya) sudah duduk, akan tetapi jika masih gelap tempatnya, pasti tidak bisa, Dalang memilah dan memilih, untuk menceritakan cerita satu-persatu dari tiap jenis wayang.

Kang nonton tan ana wikan, marang warnanira Ringgit, margane isih pêtêngan, ora kêna den tingali, yen Balencong wus urip, kanthar-kanthar katon murub, Kêlire kawistara, ing ngandhap miwah ing nginggil, kanan kering Pandhawa miwah Kurawa.

Yang menonton tak akan bisa melihat, kepada wujud setiap jenis Wayang, karena masih gelap gulita, tidak bisa dilihat mata, manakala Balencong sudah dinyalakan, menyala-nyala terlihat terang, Kêlir (Layar) akan tampak, dimana arah bawah dan arah atas, dimana kanan dan dimana kiri serta mana Pandhawa mana Kurawa.

Ki Dhalang neng ngisor damar, bisa nampik lawan milih, nimbang gêdhe cilikira, tumrap marang siji-siji, watake kabeh Ringgit, pinatês pangucap-ipun, awit pituduhira, Balencong ingkang madhangi, pramilane Balencong kang luwih tuwa.

Ki Dalang duduk dibawah pelita, mampu memilah dan memilih, menimbang besar kecilnya, terhadap setiap jenis, dari perwatakan tiap Wayang, sehingga mampu menyesuaikan ucapannya (dengan tiap karakter wayang kulit), sebab mendapat petunjuk, dari Balencong yang menerangi, oleh karenanya Balencong yang lebih tua.

Dene unining gamêlan, Wayange kang den gamêli, Dhalange mung darma ngucap, si Wayang kang darbe uni, prayoga gêdhe cilik, manut marang Dhalangipun, sinigêg gangsa ika, Kaki Dhalang masesani, nanging darma ngucap molahake Wayang.

Sedangkan bunyi gamêlan, mengiringi gerakan Wayang, Dalang hanya sekedar mengucapkan, dari suara tiap jenis Wayang, sedang tinggi atau rendah, menurut kehendak Dalang, berhentinya gamêlan, Ki Dalang yang berkuasa, akan tetapi sesungguhnya Dalang hanya sekedar mengucapkan dan menggerakkan Wayang sesuai dengan kisah yang telah ditentukan.

Parentahe ingkang nanggap, ingkang aran Kyai Sêpi, basa Sêpi Tanpa Ana, anane ginêlar yêkti, langgêng tan owah gingsir, tanpa kurang tanpa wuwuh, tanpa reh tanpa guna, ingkang luwih masesani, ing solahe Wayang ucape Ki Dhalang.

Kisah yang dikehendaki oleh orang yang mengundang, yang dinamakan Kyai Sêpi, kata Sêpi berarti Tidak Ada, akan tetapi Keberadaan-Nya sesungguhnya tergelar, langgeng tak berubah, tak bisa berkurang dan tak bisa ditambah, tanpa kehendak tanpa sifat, akan tetapi ada yang lebih berkuasa, diatas gerakan Wayang dan ucapan Ki Dalang.

Ingkang mêsthi nglakonana, ingkang ala ingkang bêcik, kang nonton mung ingkang nanggap, yeku aran Kyai Urip, yen damare wus mati, kabeh iku dadi suwung, tan ana apa-apa, lir Ingsun duk durung lair, têtêp suwung ora ana siji apa.

Yang membuat semua bisa bergerak, bergerak melakukan perbuatan jelek maupun baik, dari yang melihat hingga yang mengundang, yaitu Kyai Urip (Kyai Hidup), manakala pelita telah padam, semua jadi kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan Ingsun (Aku) ketika belum terlahirkan, tetap kosong tidak ada apapun juga.

Basa Kêlir iku Raga, Wayange Suksma Sujati, Dhalange Rasul Muhammad, Balencong Wahyune Urip, iku upama Widdhi, Cahyane Urip puniku, nyrambahi badanira, jaba jêro ngandhap nginggil, Wujudira Wujude Allah Kang Murba.

Layar itu sesungguhnya adalah Raga ini, Wayang sesungguhnya Suksma Sejati, Dalang sesungguhnya Rasul Muhammad, Balencong adalah Percikan Hidup, bagaikan Hyang Widdhi sendiri, Cahaya Hidup tersebut, merata didalam tubuhmu, diluar didalam diatas dan dibawah, Wujudmu tak lain adalah Wujud Allah Yang Kuasa.

Gatholoco melontarkan teka-teki kepada ketiga orang Kyai Guru. Diantara empat hal ini, manakah yang lebih tua? WAYANG, DALANG, KÊLIR (Layar)atau BALENCONG? (Pelita yang dinyalakan sepanjang malam hingga pagi, khusus untuk mengiringi sebuah pertunjukan Wayang Kulit ). (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 1)

Ahmad Ngarip (‘Arif) menjawab, bahwa KÊLIR (Layar) jelas paling tua sendiri. Karena sebelum sebuah pertunjukan Wayang kulit dimulai, KÊLIR (Layar) harus terpasang lebih dahulu. KÊLIR (Layar) akan dibentangkan segera sebelum semuanya siap sedia. KÊLIR (Layar) mutlak harus ada terlebih dulu sebelum seluruh WAYANG ditata berjajar bahkan sebelum satu persatu karakter WAYANG dimainkan. Harus ada sebelum gamêlan dibunyikan. Harus ada sebelum DALANG duduk menuturkan kisah yang hendak dibawakan. Bahkan KÊLIR (Layar) juga ada lebih dahulu sebelum BALENCONG dinyalakan. Oleh karenanya, KÊLIR (Layar) pantas dinyatakan sebagai yang paling tua. Begitu pendapat Ahmad Ngarip (‘Arif).(Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 1-2)

Lain lagi pendapat dari Abdul Jabar. Menurut dia, DALANG-lah yang pantas dianggap sebagai yang paling tua. Karena, baik KÊLIR (Layar), BALENCONG berikut pula seluruh piranti perlengkapan untuk sebuah pertunjukkan Wayang Kulit, bahkan WAYANG-nya itu sendiri-pun, yang berkuasa menata, mengatur juga menjalankan, adalah SANG DALANG. Oleh karenanya,DALANG patut dianggap lebih tua dari yang lain! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 2-3)

Abdul Manap (Manaf) memiliki jawaban sendiri. Dia menganggap WAYANG-lah yang pantas dianggap tua. Karena bagaimanapun juga, dalam sebuah pagelaran Wayang Kulit, dimanapun tempatnya dan kapan saja waktu pertunjukkan tersebut digelar, yang disebut-sebut orang banyak pastilah Pagelaran WAYANG. Bukan Pagelaran DALANG, atau Pagelaran KÊLIR (Layar) apalagi Pagelaran BALENCONG! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 4-6)

Gatholoco menyalahkan semua jawaban dari ketiga Kyai Guru. Dia menyatakan BALENCONG-lah yang paling tua. Tanpa adanya BALENCONG, tak akan dapat terlihat seluruh piranti pertunjukan yang sudah tersedia. Tanpa adanya BALENCONG, keberadaan KÊLIR (Layar), WAYANGbahkan SANG DALANG sendiri, tidak akan dapat diketahui karena semua dalam kondisi gelap gulita.

Gatholoco menyatakan lagi, bahwasanya yang dimaksudkannya dengan KÊLIR (LAYAR) tak lain adalah RAGA atau STHULA SARIIRA atau JASAD MANUSIA Sedangkan WAYANG tak lain adalah SUKSMA SEJATI atau SUKSMA SARIIRA atau NAFS MANUSIA. SANG DALANGadalah perumpamaan dari ATMA SARIIRA atau RUH. Dalam bahasa Gatholoco ATMA SARIIRA atau RUH disebut RASUL MUHAMMAD ( UTUSAN YANG TERPUJI).

BALENCONG tak lain adalah simbol PURUSHA. Simbol dari MANIFESTASI ILLAHI PERTAMAyang berkehendak meng-ada-kan seluruh ciptaan ini. Dari PURUSHA-lah KEHENDAK PENCIPTAAN MULA PERTAMA TERGELAR. Dari PURUSHA-lah seluruh MANIFESTASI ILLAHI KEDUA atau ATMA atau RUH terpancarkan kedalam BAYANGAN ILLAHI (PRAKRTI, ALAM) . Dan dari KEHENDAK PURUSHA-lah PRAKRTI terus mengembang menciptakan ciptaan-ciptaan baru!

BALENCONG-lah yang memberikan TERANG kepada DALANG. Dan DALANG memberikanKESADARAN kepada WAYANG. Sedangkan KÊLIR (LAYAR) hanya sekedar menjadi wahana terjadinya seluruh cerita yang dikisahkan.

PURUSHA-lah yang memberikan KESADARAN kepada ATMA SARIIRA atau RUH. ATMA SARIIRA atau RUH yang memberikan KESADARAN kepada SUKSMA SARIIRA atau NAFS.Sedangkan STHULA SARIIRA atau JASAD, hanya sekedar menjadi ‘tempat’ ter-realisasi-nya seluruh aktifitas tersebut.

BALENCONG (PURUSHA) adalah PERCIKAN DARI SANG HIDUP atau BRAHMAN. BALENCONG (PURUSHA) adalah juga DUPLICATE dari SANG HYANG WIDDHI atauBRAHMAN (Balencong Wahyune Urip, iku upama Widdhi : Balencong adalah Percikan Hidup, bagaikan Hyang Widdhi sendiri)!

Sedangkan GAMÊLAN dan PARA NIYAGA (PENABUH GAMÊLAN) berikut PARA PENONTONibarat OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI yang akan selalu terus menghanyutkan tingkah polah WAYANG (SUKSMA SARIIRA). Tergantung KESADARAN SANG DALANG (ATMA SARIIRA) untuk memutuskan, apakah WAYANG (SUKSMA SARIIRA) yang ada dalam genggaman tangannya akan terus terpengaruh dan terlarut oleh BUNYI GAMÊLAN (OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI) dan TEPUK SORAK PENONTON sehingga lupa memfokuskan diri kearah USAINYA PERTUNJUKAN KEHIDUPAN. Ataukah KESADARAN SANG DALANG (ATMA SARIIRA) akan mengolah pertunjukan secara apik dan tepat waktu sehingga segeraUSAI PULA SELURUH PERTUNJUKAN KEHIDUPAN yang tengah dikisahkannya.

Jika ATMA SARIIRA TELAH BANGKIT KESADARANNYA, segera Dia akan berusaha merampungkan KISAH KEHIDUPANNYA SECARA APIK. Jika ATMA SARIIRA TIADA KUNJUNG BANGKIT KESADARANNYA, maka KISAH KEHIDUPANNYA AKAN MENJADI PANJANG DAN TAK KUNJUNG USAI! ATMA SARIIRA YANG TIDAK SADAR-SADAR, akan terus asyik memainkan SUKSMA SARIIRA dan terus terlarut dalam GELIMANG OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI! ATMA SARIIRA yang semacam ini akan terus TERJERAT DALAM PROSES KELAHIRAN DAN KEMATIAN YANG BERULANG-ULANG TANPA BERKESUDAHAN! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 10)

ATMA SARIIRA sendiri terpaksa akan masih terikat oleh HUKUM ALAM. Sebuah HUKUM SEMESTA yang absolute. Sebuah HUKUM PENUH KENISCAYAAN yang mengatur seluruh jalannya cerita kehidupan ini. Sebuah HUKUM SEBAB-AKIBAT-AKSI-REAKSI. HUKUM KARMAPHALA. Selama ATMA SARIIRA masih terjerat OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI, TERJERAT DUALITAS DUNIAWI, selama itu pula ATMA SARIIRA masih akan terkena HUKUM SEBAB AKIBAT!

Gatholo mengumpamakan, bahwa DALANG -pun harus tunduk kepada ORANG YANG MENGUNDANG. YAITU ORANG YANG PUNYA HAJAT. APA KISAH YANG DIMINTA, ITU JUGA YANG HARUS DIMAINKAN. Dalam bahasa Gatholoco, ORANG YANG PUNYA HAJATdisebut KYAI SÊPI.

KYAI SÊPI tak lain adalah ALAM SEMESTA! Tak lain adalah PRAKRTI, BAYANGAN BRAHMAN! ALAM SEMESTA -lah yang mengarahkan jalannya cerita nasib manusia. ALAM SEMESTA -lah yang menumbuhkan BUAH KARMA. WALAUPUN SESUNGGUHNYA, NASIB SETIAP MANUSIA ITU YANG MERANGKAI DAN MENGUNTAINYA TAK LAIN ADALAH MANUSIANYA ITU SENDIRI. ALAM SEMESTA HANYA SEKEDAR MEREKAM DAN MENUMBUHKANNYA SEMATA!

ALAM SEMESTA sesungguhnya TANPA KESADARAN. ALAM SEMSETA ibarat sebuah MESIN SUPER CANGGIH yang terus bekerja merekam seluruh aktifitas manusia. Aktifitas yang BAIKmaupun yang BURUK. Dan pada ujungnya, menumbuhkan buah aktifitas tersebut dalam bentuk rangkaian TAKDIR bagi manusia itu sendiri! Oleh karenanya Gatholoco menggambarkan bahwasanya KYAI SÊPI itu seolah TIDAK ADA (Maksudnya SEOLAH TIDAK MELAKUKAN AKTIFITAS MEREKAM DAN MENUMBUHKAN BUAH KARMA). AKAN TETAPI KEBERADAANYA TERGELAR NYATA (Maksudnya ALAM SEMESTA INI NYATA BEKERJA MEREKAM DAN MENUMBUHKAN BUAH KARMA)! SESUNGGUHNYA DIA-PUN LANGGENG JUGA, DIA TAK BERUBAH, TAK BISA DITAMBAH DAN TAK BISA DIKURANGI. DIA TANPA KEHENDAK SENDIRI DAN TAK MEMILIKI KESADARAN SENDIRI. ALAM SEMESTA HANYALAH BAYANGAN BRAHMAN!

Diatas itu semua, ada yang lebih berkuasa. Gatholoco menyebutnya KYAI URIP atau HIDUP!KYAI URIP tak lain adalah BRAHMAN YANG MUTLAK! SUMBER ABADI KEHIDUPAN SEMESTA RAYA! INTI SEJATI SELURUH MAKHLUK! ASAL DAN TUJUAN SELURUH MAKHLUK! SUMBER MAHA ENERGI YANG TANPA PRIBADI! YANG MELAMPAUI SEGALANYA! YANG BERADA DIMANA-MANA! YANG ADALAH SEGALANYA! KEBERADAAN, KESADARAN, KEBAHAGIAAN SEJATI! KESEIMBANGAN MURNI! YANG ADALAH KEMUTLAKAN ABSOLUT!

DAN SEJATINYA, KÊLIR (STHULA SARIIRA), WAYANG (SUKSMA SARIIRA), DALANG (ATMA SARIIRA), YANG MENONTON BERIKUT YANG MENABUH GAMÊLAN (OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI), KYAI SÊPI (ALAM SEMESTA/PRAKRTI BERIKUT HUKUM KARMAPHALA-NYA) DAN BALENCONG (PURUSHA), SEMUANYA ADALAH MANIFESTASI KYAI URIP (BRAHMAN) ITU SENDIRI! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 5-6)

Gatholoco sesungguhnya hendak mengajarkan RAHASIA ILMU SEJATI kepada mereka-mereka yang masih juga terjerat konsep keber-agama-an kulit! Mereka-mereka yang terbiasa membedakan mana SAKRAL dan mana PROFAN berlebihan! Mereka-mereka yang berputar-putar pada keyakinan bahwa TUHAN tercerabut dari MANUSIA. Keyakinan bahwa TUHAN danMANUSIA adalah dua sosok pribadi berbeda. Yang satu dilangit nan jauh disana, yang satu berdiam dibumi dengan kenelangsaan sebagai budak yang siap dimainkan dan diatur-atur sekehendak hati oleh Dia yang ada diatas langit itu! Budak yang setiap saat bisa diangkat derajatnya ataupun diperhinakan tanpa ada alasan yang jelas! Budak yang harus terus taat dan manut nurut. Budak yang akan diiming-imingi Surga jika patuh dan akan diancam dengan siksaan Neraka jika tidak patuh! Konsep ke-Tuhan-an yang sangat membelenggu dan tradisional (walau diklaim paling modern) semacam ini, dikritik secara berani oleh seorang filsuf Eksistensialisme, Friedrich W. Nietzsche dalam karyanya ZARATUSTRA, bahwa SOSOK TUHAN YANG SEMACAM INILAH PENGHALANG MANUSIA MENCAPAI TINGKATAN UEBERMENCH atau Manusia Agung. Sosok Tuhan semacam ini, menurut Nietzsche SUDAH MATI ! Lantang dia meneriakkan GOTT IST TOT (TUHAN TELAH MATI) !

Nietzsche berteriak beberapa puluh tahun lalu tentang UEBERMENCH. Gatholoco berteriak empat ratus tahun lalu tentang LANANG SUJATI. Syeh Siti Jenar berteriak enam ratus tahun lalu tentang INGSUN PANGERAN SEJATI, JATINING PANGERAN MULYA. Sidharta Gautamaberteriak dua ribu lima ratus tahun yang lalu tentang BUDDHA dan Rsi Wyaasa berteriak lima ribu tahun yang lalu dalam Brahmasutra tentang AHAM BRAHMASMI. Teriakan mereka tiada beda walaupun masa kehidupan mereka terpaut rentang waktu yang jauh! Tapi mengapa masih juga tidak ada yang mendengar? Mengapa darah masih saja terus tumpah?

Gatholoco hendak mengajarkan kepada mereka-mereka yang terus menerus tercekam ketakutaan tak beralasan (Phobia) akan KUASA TANDINGAN TUHAN YANG BERNAMA IBLIS.Sehingga sering disibukkan dengan pemilahan INI DARI TUHAN, INI DARI IBLIS. INI AJARAN TUHAN, INI AJARAN IBLIS. INI SURGA TUHAN, INI SURGA IBLIS. INI UMAT TUHAN, INI UMAT IBLIS, bahkan membedakan INI AGAMA TUHAN, INI AGAMA IBLIS. (Walau diperhalus dengan ungkapan INI AGAMA LANGIT DAN INI AGAMA BUMI)!

KETAHUILAH! TIDAK ADA AJARAN DARI IBLIS, YANG ADA ADALAH AJARAN YANG BERASAL DARI EGOISME DAN KESERAKAHAN MANUSIA! ITULAH AJARAN SESAT DAN MENYESATKAN!

Gatholoco hendak mengajarkan bahwa seluruh semesta ini BERASAL DARI YANG SATU. BAHKAN BUKAN HANYA ITU SAJA, GATHOLOCO HENDAK MENGAJARKAN PULA BAHWA SESUNGGUHNYA SELURUH SEMESTA INI BERIKUT MAKHLUK YANG BERKERIAPAN DIDALAMNYA ADALAH SATU KESATUAN YANG TAK TERPISAHKAN! TAT TWAM ASI (ENGKAU ADALAH AKU JUGA)! TUNGGAL ADANYA!

Hal ini ditegaskan dalam syair ke-13 diatas. :
Cahyane Urip puniku, nyrambahi badanira, jaba jêro ngandhap nginggil, Wujudira Wujude Allah Kang Murba. (Cahaya Hidup tersebut, merata didalam tubuhmu, diluar didalam diatas dan dibawah, Wujudmu tak lain adalah Wujud Allah Yang Kuasa.)!

TAK HARUS ADA SEKUMPULAN SPESIES MAKHLUK HIDUP YANG PATUT DIMUSUHI! TUHAN TAK PERNAH MENGAJARKAN PERMUSUHAN DAN KEBENCIAN KEPADA MAKHLUK LAIN! TUHAN HANYA MENGAJARKAN KASIH! KASIH YANG TANPA PANDANG BULU! BUKAN KASIH YANG PILIH-PILIH ALIAS PILIH KASIH!

Yang patut diwaspadai adalah SUKSMA SARIIRA ini. Karena didalam SUKSMA SARIIRA ini, terdapat AHAMKARA (EMOSI NEGATIF), MANAH (PIKIRAN LIAR) dan CITTA (MEMORI-MEMORI TRAUMATIK) . Namun ada pula yang dinamakan BUDDHI (KESADARAN RELATIF). BUDDHI adalah KESADARAN ATMA yang tinggal sedikit karena terbelenggu olehAHAMKARA, MANAH DAN CITTA. Perkuat BUDDHI ini, agar tidak terpengaruh olehAHAMKARA, MANAH DAN CITTA. Jadikan BUDDHI sebagai pengendali ketiga unsur SUKSMA SARIIRA yang lain tersebut!

AHAMKARA, MANAH DAN CITTA, ITULAH SETAN YANG SESUNGGUHNYA!

Keempat unsur SUKSMA SARIIRA inilah sesungguhnya yang dimaksud oleh leluhur Jawa jaman Shiwa Buddha dengan istilah SADULUR PAPAT KALIMA PANCÊR (SAUDARA EMPAT KELIMA PUSAT), yaitu KAKANG KAWAH (BUDDHI), ADHI ARI-ARI (MANAH), GÊTIH (AHAMKARA) dan PUSÊR (CITTA) . Sedangkan PANCÊR (PUSAT) tak lain adalah ATMA SARIIRA kita!

Konsep ini dikembangkan dalam ajaran Islam Kejawen seiring keruntuhan Majapahit, dengan mengambil kosa kata Arab, untuk menggantikan kosa kata yang berbau Weda dan berbau Jawa asli, yaitu MUTMAINAH (untuk menggantikan kosa kata KAKANG KAWAH/BUDDHI),SUFIYYAH (untuk menggantikan kosa kata ADHI ARI-ARI/MANAH), AMARAH (untuk menggantikan kosa kata GÊTIH/AHAMKARA) dan LUWWAMAH (untuk menggantikan kosa kata PUSÊR/CITTA). Lantas dikenalah istilah NAPSU PATANG PRAKARA (PRIBADI EMPAT MACAM).

Kosa kata Jawa masih tetap bertahan, tapi kosa kata Weda, sudah dikikis habis dan tidak lagi dikenal oleh masyarakat Jawa pada umumnya hingga detik ini.

Pelampauan AHAMKARA, MANAH dan CITTA , mutlak diperlukan. Manakala sudah mampu kita lampaui, BUDDHI akan bersinar terang! Begitu BUDDHI telah termurnikan, makaKESADARAN akan meningkat pesat. Dan dalam proses lompatan peningkatan KESADARANini, BUDDHI itu sendiri, KESADARAN RELATIF itu sendiri, akan lenyap dalam ATMA SARIIRA. Dan ATMA SARIIRA akan memperoleh kembali KESADARAN MURNI-NYA !

ATMA SARIIRA yang telah TERJAGA TOTAL ini, sebenarnya sudah bukan lagi bisa disebutATMA. ATMA SARIIRA yang sudah MELEK SEMPURNA ini, sesungguhnya tak lain adalahBRAHMAN itu sendiri! SIDHARTA GAUTAMA, KRISHNA dan JESUS sudah mengalaminya. Lantas mengapa anda mempermasalahkan jika ada yang menyembah SIDHARTA, KRISHNAatau JESUS ?

Tinggal selangkah lagi. Manakala ATMA SARIIRA sudah lenyap dalam SAMUDERA ENERGI PURNA , manunggal total dengan BRAHMAN , maka tiada lagi terbedakan mana ATMA manaBRAHMAN. TUNGGAL ADANYA . Gatholoco menggambarkan : ………..yen damare wus mati, kabeh iku dadi suwung, tan ana apa-apa, lir Ingsun duk durung lair, têtêp suwung ora ana siji apa. (manakala pelita telah padam, semua jadi kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan Ingsun (Aku) ketika belum terlahirkan, tetap kosong tidak ada apapun juga.)

Dan yang ‘ada’ hanyalah ‘YANG ADA’ itu sendiri. Tiada lagi ‘ada’ yang lain!

(Bersambung ke bagian 7-Ulasan lanjutan bagian 5)

SERAT GATHOLOCO, diterjemahkan dan diulas oleh : Damar Shashangka, Bagian : 7 (Ulasan lanjutan bagian 5)
Bagikan
08 Mei 2010 jam 21:40
Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA

Bagian : 7 (Ulasan lanjutan bagian 5)

2. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) 17-18 :

Santri padha ambêk lintah, ora duwe mata kuping, anggêre amis kewala, cinucup nganti malênthing, ora ngrêti yen gêtih, gandane amis tur arus, kinira madumangsa, yen wus warêg mangan gêtih, amalêngkêr tan mêtu nganti sawarsa.

Santri yang berperilaku seperti lintah, tidak memiliki mata dan telinga, asalkan mencium bau amis, dihisap hingga perutnya menggelembung, tidak tahu kalau itu darah, baunya amis dan arus (padanan kata amis), dikira madu, jika sudah kenyang meminum darah, meringkuk tak keluar-keluar lagi hingga setahun.

Wêkasan kaliru tampa, tan wruh têmah ndurakani, manut kitab mêngkap-mêngkap, manut dalil tanpa misil, amung ginawe kasil, sinisil ing rasanipun, rasa nikmating ilat, lan rasane langên rêsmi, rasanira ing kawruh ora rinasa.

Pada akhirnya salah terima, tidak memahami inti sari malah berbuat dosa tanpa disadari, menuruti kata-kata kitab begitu saja, menuruti dalil tanpa tahu makna sesungguhnya, hanya dibuat untuk memperoleh keuntungan duniawi, tersilap dengan keduniawian, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa lidah, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa bersenggama, makna sejati ilmu tidak dirasakan.

Gatholoco tajam mengingatkan, bahwasanya manusia-manusia yang terjebak ‘keberagamaan kulit’ seperti yang tengah berdialog dengannya, tak ubahnya bagaikan Lintah semata. Yang tak memiliki mata dan tak memiliki telinga. Pekerjaan mereka hanya menghisap darah sesama. Pekerjaan mereka hanya membuat harmonisasi kehidupan timpang.

Mereka mengira, dengan menghisap darah, mereka telah melakukan sebuah pekerjaan besar dan benar dimata Tuhan! Mereka mengira telah menghisap madu yang manis. Mengira telah melakukan sebuah pekerjaan agung yang sudah sepatutnya, walau harus menumpahkan darah!

Begitu telah kenyang menumpahkan darah, mereka akan puas dan tiada lagi tergerak untuk menelaah, apakah yang sudah dilakukan ini memang benar dimata Tuhan? (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 17)

Mereka telah membuat dosa tanpa disadari. Menelan mentah-mentah kata-kata kitab suci tanpa dikupas lagi. Menuruti segala dalil tanpa mendalami inti sarinya. Padahal SUARA NURANImereka terus berontak untuk mengabarkan arti dan makna yang sesungguhnya!

Kesadaran mereka tentang spiritualitas, tak lebih sebatas pencapaian Kenikmatan Keduniawian semata. Kenikmatan yang konon juga ada di Surga sana. Kenikmatan yang mirip dan serupa dengan Kenikmatan Dunia. Benarkah itu semua? Jika memang demikian, mengapa harus berlama-lama menunggu nanti, toh sekarang Kenikmatan serupa juga ada disini. Sudah nyata dan didepan mata malah. Lantas mengapa harus menunggu sesuatu yang masih dijanjikan nanti jika memang esensinya serupa dan itu-itu juga? (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 18)

Kesadaran Spiritual-kah yang semacam ini? Jesus Kristus, Rabi’ah Al Adawiyyah, Jallaluddin Rumi, Al-Junaid, Ibnu Al-Araby, Ibnu Manshur Al-Hallaj, Abu Yazid Al-Bistami, Hamzah Fanshuri, Syeh Siti Jenar dan seluruh manusia illahi semacam mereka malah dipangkas habis manakala meneriakkan kebenaran sebuah makna hakiki.

Berbeda dengan manusia illahi yang turun ditanah India, keberadaan mereka masih mendapat sambutan hangat hingga kini. Adakah yang berbeda dari pesan-pesan mereka? Tidak ada! Yang berbeda adalah medan dan tempat dimana mereka turun.

Terpujilah manusia-manusia illahi yang berani meneriakkan kebenaran dimedan yang penuh dengan manusia-manusia berkesadaran rendah! Sembah sujud saya kepada manusia-manusia illahi yang semacam ini!

3. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) 27 :

Guru tiga saurira, Katrima pamuji-mami, Gatholoco asru nyêntak, Pujimu pujining Widdhi, sira ora nduweni, marang pangucap sadarum, iku ucaping Allah, yen mangkono sira maling, wani-wani kadunungan barang gêlap.

Ketiga Guru menjawab, Karena diterima doa kami, Gatholoco keras membentak, Bahkan doamu-pun adalah milik (Hyang) Widdhi! Kalian tidak punya hak untuk mengakui! Karena pengucapan kalian itu semua, itu ucapan Allah! Jikalau demikian kalian adalah maling! Telah berani ketempatan barang yang bukan milik kalian (namun kalian akui sebagai milik sendiri)!

Sekali lagi Gatholoco hendak menghancurkan dinding kesadaran sempit dari mereka yang tengah diajaknya berdialog. Gatholoco tengah memberikan letupan bagi peningkatan kesadaran mereka. Gatholoco hendak membangun kesadaran baru, bahwasanya semua yang ada didalam semesta ini tak ada yang lain selain MANIFESTASI HYANG WIDDHI atau BRAHMAN! atauALLAH!

PURUSHA adalah MANIFESTASI PERTAMA dari BRAHMAN manakala BRAHMAN tengah berkehendak untuk melakukan sebuah LILAA atau PERMAINAN ILLAHI-NYA. BRAHMAN YANG MELAMPAUI SEGALANYA, YANG TANPA PRIBADI. MEMPERSEMPIT DIRI-NYA DALAM KONDISI SUPER PERSONALITY. INILAH PURUSHA!

Bersamaan dengan proses ini, muncullah BAYANGAN BRAHMAN yang lantas dikenal dengan nama PRAKRTI. Inilah CIKAL BAKAL SELURUH UNSUR MATERIAL YANG ADA DI SEMESTA RAYA.

Dari PURUSHA memerciklah ATMA-ATMA atau RUH-RUH yang tiada terhitung.

Lantas, manakah yang bukan BRAHMAN atau ALLAH?

Manusia-manusia yang merasa dirinya berbeda dengan BRAHMAN, dengan TUHAN. Manusia-manusia yang merasa memiliki pribadi sendiri yang terpisah dengan Kepribadian Tuhan,SESUNGGUHNYA MEREKA ADALAH PENCURI. Begitu Gatholoco menyatakan!

PENCURI? Yap! Karena mereka mengklaim memiliki pribadi sendiri yang terpisah dengan Kepribadian Tuhan. Mereka tengah bermain-main dengan illusi! Dalam keyakinan mereka, pribadi mereka ini diciptakan oleh Tuhan. Mereka meyakini, Tuhan menciptakan mereka. Dan mereka berbeda dengan Sang Pencipta. Mereka punya hak pribadi. Memiliki asset sendiri. Walau menurut mereka, asset yang mereka miliki tersebut adalah pinjaman dari Tuhan.

Gatholoco menegaskan, diri kita semua ini, mulai dari ATMA SARIIRA (RUH), SUKSMA SARIIRA (NAFS), STHULA SARIIRA (JASAD) termasuk seluruh piranti indrawi (mata, telinga, hidung,dsb), berikut fungsi-fungsi inderawi (penglihatan, pendengaran, ucapan, dsb) adalah MANIFESTASI TUHAN! Bukan sesuatu yang terpisah dari-Nya. Ini semua bukan milik otonom seorang makhluk ciptaan yang disebut ‘manusia’. Jika ‘manusia’ mengklaim ini mataku, ini telingaku, ini badanku, ini penglihatanku, ini pendengaranku, ini ucapanku dsb, jelas mereka telah melakukan KLAIM PALSU! DAN ORANG YANG MENGAKUI SESUATU YANG BUKAN MILIKNYA, JELAS ADALAH SEORANG PENCURI!

Bagaimana dia bisa mengakui ini milik ‘saya’, jika sosok ‘saya’ itu sendiri sesungguhnya ‘tidak ada’? Jika sosok ‘saya’ itu sendiri sebenarnya adalah bagian Tuhan juga? Terngiangkah anda dengan kata-kata Sidharta Buddha Gautama tentang Annata (Tanpa Aku/Tanpa Saya/Kosong) ?

Dalam Pupuh III, Sinom, Syair 27 diatas bagian akhir, Gatholoco berkata keras :

……………..Gatholoco asru nyêntak, Pujimu pujining Widdhi, sira ora nduweni, marang pangucap sadarum, iku ucaping Allah, yen mangkono sira maling, wani-wani kadunungan barang gêlap. (…………………,Gatholoco keras membentak, Bahkan doamu-pun adalah milik (Hyang) Widdhi! Kalian tidak punya hak untuk mengakui! Karena pengucapan kalian itu semua, itu ucapan Allah! Jikalau demikian kalian adalah maling! Telah berani ketempatan barang yang bukan milik kalian (namun kalian akui sebagai milik sendiri)!

Coba renungkan sekali lagi!

4. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair ) 29-31 ;

Sakehing reh lakonana, yen tan manut Sun gitiki, jalaran sira wus salah, kajêdhêgan sira maling, lah iku duwek Mami, sira anggo tanpa urus, saikine balekna, ilange duk Jaman Gaib, Ingsun simpên ana satêngahing jagad.

Segala perintah-Ku laksanakan, jika tak menurut pasti Ku dera, sebab kalian telah salah, patut dipersalahkan karena maling, itu semua milik-Ku, kalian pakai dengan tidak benar, sekarang kembalikan, dulu hilang dikala Jaman Gaib, Aku simpan di tengah-tengah jagad.

Saksine si Wujud Makna, cirine rina lan wêngi, Ingsun rêbut tanpa ana, saiki lagya pinanggih, sira ingkang nyimpêni, santri padha tanpa urus, yen sira tan ngulungna, sun lapurake pulisi, ora wurung munggah ing rad pêngadilan.

Saksinya adalah si Wujud Makna (Wujud dari segala inti sari makna kitab suci), bukti (dari keteledoran kalian memakai barang-Ku dengan tidak benar) telah dicatat oleh siang dan malam, Aku cari-cari tak ketemu, sekarang tengah Aku jumpai, ternyata kalian yang menyimpannya, para santri yang tidak benar! Jika tidak kalian kembalikan, Aku laporkan polisi (hukum alam), tak urung akan naik perkara dipengadilan (semesta)!

Mêsthi sira kokum pêksa, yen wêngi turu ning buwi, lamun rina nambut karya, sabên bêngi den kandhangi, beda kalawan mami, salawase ngong tumuwuh, sadurunge tumindak, ingkang daya sêja-mami, agal alus kasar lêmbut ingsun nalar.

Pasti akan menerima hukuman, jika malam tidur didalam penjara (terkurung dalam kegelapan batin sehingga gelisah), jika siang kerja paksa (sengsara ditengah panasnya dualitas duniawi), tiap malam dikandangkan (terus terjerat dalam kegelapan batin), berbeda dengan aku, selama aku hidup, sebelum bertindak, untuk memenuhi keinginanku, kasar maupun halus pasti aku pikirkan terlebih dahulu.

Illusi manusia layak dihancurkan. Walaupun illusi itu juga Manifestasi Brahman, tapi jelas, segala macam illusi, kebodohan (awidya), ketidak murnian, keangkuhan, keserakahan dan semua yang menelikung KESADARAN SEJATI ATMA, adalah Manifestari Brahman dalam level rendah.
Semua ketidak murnian muncul dari PRAKRTI. Dan PRAKRTI hanyalah BAYANGAN BRAHMAN. DAN SEBUAH BAYANGAN, BUKANLAH YANG SEJATI. SEBUAH BAYANGAN HANYALAH ILLUSI (MAYA)!.

Sekali lagi saya tegaskan, SEGALA MACAM KETIDAK MURNIAN ADALAH BERASAL DARI PRAKRTI. DAN PRAKRTI ADALAH MANIFESTASI BRAHMAN DALAM LEVEL BAWAH! JADI JANGAN HANTAM RATA DENGAN MENYATAKAN BAIK DAN BURUK ITU SEIMBANG! HITAM DAN PUTIH ITU SELEVEL! TIDAK!

BAIK DAN BURUK, HITAM DAN PUTIH MEMANG SAMA-SAMA PERWUJUDAN BRAHMAN, MEMANG ADA DALAM SATU KESATUAN TUNGGAL. TAPI DALAM JENJANG YANG BERBEDA!

Dalam Bhagawad Gita, jelas Shrii Krishna menyatakan :

“Sifat-sifat Illahi (Daiva Sampad) adalah jalan KELEPASAN (MOKSHA), sedangkan sifat-sifat Jahat (Asura Sampad) adalah jalan menuju KETERIKATAN (LAHIR BERULANG-ULANG DIDALAM ALAM MATERIAL). Janganlah bersedih, oh Pandhawa (Putra Pandhu/ Arjuna), dirimu (karena buah karma masa lalumu), terlahir dalam sifat-sifat Illahi!” (Bhagawad Gita : 16 : 5)

Jika BAIK dan BURUK, HITAM dan PUTIH, KESADARAN dan KETIDAK SADARAN itu sama, lantas mengapa anda mempelajari KESUCIAN jika toh dalam kondisi KOTOR -pun anda sama saja dalam kondisi BERSIH? Jika BAIK dan BURUK, HITAM dan PUTIH, KESADARAN danKETIDAK SADARAN itu sama, lantas mengapa sosok semacam SHIWA, KRISHNA, RSI VYAASA, SIDHARTA BUDDHA GAUTAMA, JESUS, SYEH SITI JENAR, GATHOLOCO dan Manusia-Manusia Illahi lainnya harus berteriak-teriak untuk membebaskan KESADARAN KITAdari jerat KETIDAK MURNIAN SEBUAH ILLUSI (MAYA) ?

Jangan bermain-main dengan kata-kata. Anda akan terjebak sendiri. Pada ujungnya, anda sendiri yang akan kebingungan untuk menentukan sikap dalam menyikapi realita kehidupan ini!

ATMA telah terjebak dalam BAYANGAN BRAHMAN ! KETERJEBAKAN PADA ILLUSI (MAYA) BRAHMAN inilah yang memunculkan adanya kehidupan material. Selama keterjebakan ini terus terjadi, maka ATMA akan terus tergerus proses kehidupan material! Dia akan lahir dan mati, lahir dan mati, lahir dan mati, tanpa ada kesudahan! Jika ATMA bisa membebaskan diri dari BAYANGAN BRAHMAN, maka ATMA akan MENYATU DENGAN INTI BRAHMAN ITU SENDIRI! ATMA tidak perlu terlahirkan kedunia material kembali! InilahMOKSHA. Inilah NIRWANA. Inilah KERAJAAN ALLAH. Inilah JANNATUN FIRDAUS!

Dalam syair 29, Pupuh III diatas, Gatholoco sengaja berkata dengan MEMPERGUNAKAN KESADARAN TERTINGGINYA! Jika mereka-mereka yang tengah diajaknya berdialog tetap meyakini keterpisahan pribadinya dengan Kepribadian Brahman, berarti mereka tidak mengikuti‘PERINTAH ATAU PETUNJUK SEJATI BRAHMAN’ yang tertuang dalam intisari seluruh Kitab Suci! Jika illusi mereka tetap sulit disingkap, maka terpaksa HUKUM ALAM yang akan bekerja! Ini yang dimaksud ucapan Gatholoco dengan : ……..yen tan manut Sun gitiki,….(….jika tidak menurut pasti Ku dera…). Karena selain telah berillusi memiliki asset badan sendiri, mereka juga telah mempergunakan seluruh ‘barang klaim palsu’ tersebut dijalan ketidak murnian! Oleh karenanya, hilangkanlah illusi kalian. Hilangkanlah anggapan bahwa kalian itu berbeda dengan DIA! Kembalikan seluruh barang pengakuan itu kepada yang punya! Kembalikan KESADARAN kalian dari mengklaim memiliki asset sendiri menjadi SEMUA INI ADALAH BRAHMAN SEMATA!

Dalam syair 31, Pupuh III bagian terakhir, Gatholoco menurunkan kembali KESADARAN-NYA : ………..beda kalawan mami, salawase ngong tumuwuh, sadurunge tumindak, ingkang daya sêja-mami, agal alus kasar lêmbut ingsun nalar. (…………berbeda dengan aku, selama aku hidup, sebelum bertindak, untuk memenuhi keinginanku, kasar maupun halus pasti aku pikirkan terlebih dahulu.)

(Bersambung)

(9 Mei 2010, by Damar Shashangka)

SERAT GATHOLOCO, diterjemahkan dan diulas oleh : Damar Shashangka, Bagian : n
Kemarin jam 18:06
Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :

DAMAR SHASHANGKA

Bagian : 8

38.

Guru tiga duk miyarsa, sru nyêntak sarwi nudingi, Gatholoco sira gila, Gatholoco anauri, Ingsun gila sayêkti, yen wêruh kaya dhapurmu, wêdi bok katularan, ora duwe mata kuping, kawruhira amung jakat lawan pitrah.

Ketiga Guru begitu mendengarnya, keras membentak sembari menuding, Gatholoco kamu gila! Gatholoco menjawab, Aku memang gila, jika bertemu orang sepertimu, aku takut ketularan, tidak memiliki mata dan telinga, pengetahuan kalian hanya melulu berkisar tentang jakat pitrah (zakat fitrah) saja.

39.

Kyai Guru tiga pisan, tyasnya runtik anauri, Nyata sira anak Jalang, Gatholoco amangsuli, Iku bênêr tan sisip, bapa biyung kaki buyut, kabeh kêna ing pêjah, lamun wis tumêkeng jangji, yêkti mulih mring asale padha Ilang.

Ketiga Guru semua, dengan hati panas menyahuti, Nyata kamu anak Jalang! Gatholoco menjawab seenaknya, Ucapanmu benar tidak keliru, bapak ibu kakek dan buyut-ku, semua terkena mati, jika sudah sampai pada saatnya mati, pasti pulang keasalnya semua meng-Hilang! (Inilah sikap bijak seorang yang tercerahkan. Manakala dia dihina, maka dia akan merespon dan memaknai hinaan itu dengan makna positif. Gatholoco di caci sebagai anak Jalang, tapi Gatholoco seolah tak mendengar kata Jalang tapi malah mendengar kata Hilang. Contohlah sikap seperti ini.)

40.

Kiraku manawa sira, mêtu saking rêca wêsi, dene wujud tanpa nyawa, sira ora duwe budi, Kyai Guru nauri, samya misuh Truk biyangmu, Gatholoco angucap, Iku bangêt trima-mami, krana sira têlu pisan misuh mring wang.

Kukira mungkin kalian, lahir dari arca besi, berwujud tapi tanpa nyawa, karena terlihat kalian tidak mempunyai budi (buddhi : kesadaran), Kyai Guru menjawab, dengan mengumpat Turuk biyang-mu (Dasar terlahir dari Vagina)! Gatholoco berkata, Sangat berterima kasih aku, karena kalian bertiga mengumpati aku (dan ibuku).

41.

Sira nuduhake biyang, ingsun iki tan udani, duk lair saking wadonan, amung ingkang sun-gugoni, wong tangga kanan kering, bapa biyang ingkang ngaku, nganakake maring wang, iku ingkang sun-sungkêmi, nanging batin ingsun ora wani sumpah.

Kalian telah berani menunjukkan darimana Aku telah terlahirkan, akan tetapi Aku sendiri tidak yakin pasti, apakah benar aku terlahirkan dari vagina, hanya yang Aku jadikan pegangan, kesaksian tetangga kiri kanan, berikut bapak dan ibu yang mengakui, telah memperanakkan Aku, keduanya Aku junjung tinggi, akan tetapi didalam hati sesungguhnya Aku tidak berani bersumpah (telah terlahir dari sebuah vagina!)

42.

Iya iku bapa biyang, ingkang wêruh lair-mami, saikine sira bisa, nuduhake biyang-mami, wismane ana ngêndi, lawan sapa aranipun, amba-ciyute pira, duweke wong tuwa-mami, yen tau wêruh iku ujar ambêlasar.

(Mungkin) hanya bapak dan ibu-ku, yang mengetahui dengan pasti darimana Aku terlahirkan, akan tetapi sekarang kalian (yang baru bertemu denganku saat ini saja), telah berani menyatakan bahwa Aku terlahir dari vagina ibu, jika memang benar kalian tahu pasti, dimanakah rumah ibu-Ku, lantas siapakah namanya, serta seberapa ukuran, milik (vagina) ibu-Ku? Jika tidak bisa menjawab nyata kalian telah bersaksi palsu!

43.

Krana ingsun nora wikan, wujude Ingsun saiki, mujud dhewe tanpa lawan, Allah ora karya mami, anane raga-mami, gaweyanira Hyang Agung, duk aneng alam dunya, ana satêngahing bumi, lawan sira kala karya raganira.

(Ketahuilah) sesungguhnya Aku tidak ragu bahwa, wujud(Atma)-Ku ini, berwujud dengan sendirinya (bukan dilahirkan oleh vagina) dan tiada tandingan, Allah tidak menciptakan Aku (Maksudnya Allah saja tidak menciptakan Atma atau Ruh: Atma atau Ruh tidak diciptakan, tidak ada yang menciptakan Atma atau Ruh. Atma dan Ruh adalah percikan-Nya), (sedangkan) adanya Raga(Tubuh Fisik)-Ku, (memang) buatan Hyang Agung (Maksudnya Hyang Agung/Allah hanya menciptakan Raga atau Tubuh Fisik semata), (diciptakan) saat ada di alam dunia, ada ditengah-tengah bumi, manakala membuat raga kalian (Maksudnya dicipta ditengah ruang dan waktu relatif semesta raya).

44.

Sawindu lawan sawarsa, rolas wulan pitung ari, pêndhak pasar ratri siyang, saêjam sawidak mênit, ora kurang tan luwih, wukune mung têlung puluh, raganingsun duk daya, sarta wus wani nyampahi, wruhaningsun sanajan saiki uga.

Sawindu (siklus delapan tahunan) serta Setahun, Dua belas bulan Tujuh hari, Pêndhak Sêpasar (siklus hari dalam jumlah lima : Kliwon, Lêgi, Pahing, Pon dan Wage) Malam dan Siang, Satu jam Enam puluh menit, tak lebih dan tak kurang dari itu, Wuku-nya hanya tiga puluh (Wuku adalah perhitungan siklus tujuh harian/seminggu. Ada tiga puluh Wuku. Setiap Wuku berumur tujuh hari. Total tiga puluh Wuku memakan waktu 210 hari), (Didalam ukuran ruang dan waktu relatif duniawi seperti contoh diatas) Raga(Tubuh Fisik)-Ku memiliki bentuk (maksudnya tercipta), serta sudah berani menghina (maksudnya juga tercipta Tubuh Halus/Suksma Sariira yang menyelimuti kesadaran Atma sehingga berubah menjadi sosok makhluk yang tidak murni), ketahuilah hal ini sekarang juga.

45.

Badanku kêna ing rusak, urip-mami wangawuhi, saobah-osiking badan, Rasulullah andandani, krana ingsun kêkasih, kinarya Pangeraningsun, marang sagunging sipat, nggêsangakên saliring tunggil, iya Ingsun iya Allah ya Muhammad.

Badanku bisa rusak, (akan tetapi) Hidup (Atma)-ku abadi, seluruh keberadaan tubuh ini, Rasulullah (Atma/Ruh)-lah yang menghiasi, karena Aku (Hidup/Atma/Ruh/Rasulullah) adalah kekasih(-Nya), dianggap sebagai Tempat untuk Mengabdi (bagi Tubuh Fisik/Sthula Sariira dan Tubuh Halus/Suksma Sariira), Tempat untuk Mengabdi bagi seluruh sipat (maksudnya segala sifat yang baik maupun yang buruk dari Suksma Sariira), menghidupi segalanya dalam satu kesatuan, (sesungguhnya) Aku (Ruh/Atma) adalah juga Allah adalah juga Muhammad.

46.

Guru tiga asru mojar, Sira wani angakoni, tunggal wujud lan Pangeran, apa kuwasamu kuwi, Gatholoco nauri, Ngawruhi dadine lêbur, kalawan pêparêngan, karsane Kang Maha Suci, ingsun dhewe tan kuwasa apa-apa.

Ketiga Guru keras berkata, Kamu berani mengakui, satu kesatuan wujud dengan Tuhan, apa kekuasaanmu? Gatholoco menjawab, Menyadari menjadi dan leburnya (maksudnya menyadari sepenuhnya sepanjang kelahiran dan kematian saat terlahirkan sebagai Gatholoco saja), dengan ijin, dan kehendak Yang Maha Suci, aku sendiri tak berkuasa apa-apa. (Maksud Gatholoco, dalam kondisi Atma masih terikat oleh Suksma Sariira/Tubuh Halus dan Sthula Sariira/Tubuh Fisik, Atma hanya mampu mengetahui kelahiran dan kematiannya dalam satu siklus kehidupannya ini saja, sedangkan diluar itu, Atma belum mampu menyadari).

47.

Ragengsun wujuding Suksma, angawruhi ing Hyang Widdhi, tumindak karsanira Hyang, aweh mosik liya mami, Muhammad kang nduweni, pangucap paningalingsun, pangganda pamiyarsa, dene lesan lawan dhiri, kabeh iku kagungane Rasulullah.

Ragaku adalah wujud Suksma (kata Suksma disini yang dimaksud adalah Hyang Suksma, yang artinya Tuhan. Bukan Suksma Sariira/Tubuh Halus), jelas-jelas adalah Hyang Widdhi yang terlihat, mampu eksis atas kehendak Hyang (Widdhi) sendiri, mampu pula beraktifitas (atas kehendak-Nya juga), Muhammad (Atma/Ruh juga adalah wujud Hyang Widdhi) yang memiliki, pengucapan penglihatanku, penciuman dan pendengaranku, lesan dan pribadi ini, semua itu milik Rasulullah (Atma/Ruh). (Maksudnya baik Raga/Sthula Sariira hingga Atma – dalam bahasa Gatholoco adalah Muhammad atau Rasulullah- semua adalah perwujudan Hyang Suksma atau Hyang Widdhi atau Tuhan. Atma ini tiada beda dengan Hyang Widdhi. Maka tepatlah jika dinyatakan, seluruh pengucapan, penglihatan, penciuman, pendengaran dan sebagainya sesungguhnya adalah milik Atma.)

48.

Ingsun ora apa-apa, mung pangrasa duwek-mami, iku yen ana sihing Hyang, yen tan ana sihing Widdhi, duwekingsun mung sêpi, basa sêpi iku suwung, tan ana apa-apa, lir ingsun duk durung dadi, têtêp suwung ora wêruh siji apa.

Aku ini tidak memiliki apa-apa, hanya perasaan (merasa memiliki) saja yang menjadi miliku, itu saja jika mendapatkan kasih dari Hyang (Widdhi), jika tak mendapatkan kasih (Hyang) Widdhi, milikku hanyalah sêpi, arti kata sêpi adalah kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan aku saat belum menjadi, tetap kosong tak mengetahui apa-apa. (Maksudnya wujud manusia ini sesungguhnya adalah perwujudan Tuhan juga. Manusia itu ‘tidak ada’. Yang ada hanya ‘perasaan merasa ada dan memiliki pribadi yang terpisah dengan Tuhan’. Jika ‘illusi merasa ada dan merasa memiliki pribadi yang terpisah dengan Tuhan’ ini tersingkap, maka yang ada hanyalah KOSONG. KOSONG itulah KEABADIAN DAN KEBAHAGIAAN MILIK KITA DULU. KOSONG ITULAH TUHAN!)

49.

Abdul Jabar nulya mojar, Sira iku angakoni, wujudmu wujuding Suksma, ing mangka ragamu kuwi, kêna rusak bilahi, ora langgêng sira wutuh, Gatholoco angucap, Ingkang rusak iku bumi, kalimputan wujud-mami lan Pangeran.

Abdul Jabar lantas berkata, Kamu mengakui, wujudmu adalah wujud (Hyang) Suksma, padahal ragamu itu, bisa terkena rusak dan celaka, tidak utuh abadi selamanya, Gatholoco berkata, Yang bisa rusak itu badan yang berasal dari bumi (kata bumi hanya mewakili segala unsur alam semesta), yang terselimuti wujud-Ku (Atma) dan Tuhan (Brahman).

50.

Ingsun Ingkang Maha Mulya, tan kêna rusak bilahi, ingkang langgêng swarga mulya, Kyai Guru anauri, Yen mangkono sireki, wêruh pêsthine Hyang Agung, kang durung kalampahan, Gatholoco anauri, Wêruh pisan pêsthine mring raganingwang.

Aku Yang Maha Mulia, tak bisa rusak dan celaka, yang langgeng dan sesungguhnya surga mulia (Jannatun Firdaus, Moksha, Nirwana, Kerajaan Allah) itu sendiri, Kyai Guru menyahut, Jikalau demikian kamu ini, mengetahui takdir Hyang Agung yang belum terjadi? Gatholoco menjawab, Bahkan aku bisa membuat takdir yang bakal terjadi pada diriku.

51.

Ingsun pêsthi awakingwang, wayah iki dina iki, jêjagongan lawan sira, mêngko gawe pêsthi maning, kang durung den lakoni, kanggone mêngko lan besuk, supaya aja salah, dadi ora kurang luwih, lamun salah ngrusak buku sastra angka.

Telah aku tetapkan sendiri, pada saat ini hari ini, duduk bertemu dengan kalian semua, nanti aku akan membuat takdir lagi, yang belum terjadi, untuk hari esok dan kelak, harus hati-hati dalam membuatnya, sehingga tidak kurang dan tidak lebih (tetap dalam keseimbangan), jika salah bisa merusak kitab sastra angka. (Gatholoco sebenarnya hendak menjelaskan tentang hukum sebab akibat, dimana takdir itu yang membuat adalah kita sendiri)

52.

Kalawan ngrusak gulungan, iku bangêt wêdi-mami, wêdi manawa dinukan, marang ingkang juru-tulis, mulane ngati-ati, gawe pêsthi aja kliru, Kyai Guru angucap, Kang durung sira lakoni, bêja sarta cilakamu besuk apa.

Jika sampai merusak gulungan kitab (maksudnya melakukan perbuatan buruk sehingga merangkai takdir buruk pula bagi diri kita), itu sangat kutakutkan, takut jika sampai dimarahi, oleh juru tulis (maksudnya alam semesta, yang merekam dan mencatat segala perbuatan dan aktifitas kita), makanya aku hati-hati, membuat takdir jangan sampai keliru, Kyai Guru berkata, Yang belum kamu jalani, untung dan celakamu besok bagaimana?

53.

Aneng ngêndi kuburira, Gatholoco anauri, Kuburan wus ingsun-gawa, sabên dina urip-mami, kalawan ngudanêni, ning sawatês umuringsun, kalamun parêk ajal, sajroning rolas dina mami, lagya milih jam sarta wayahira.

Dimanakah kuburmu? Gatholoco menjawab, Kuburku telah aku bawa, setiap saat dalam kehidupanku, serta aku tahu, pada batas usiaku, jika sudah dekat ajal, dalam dua belas hari, baru memilih jam dan saatnya. (Gatholoco berkata benar. Manusia yang kesadarannya tinggi, mampu memilih hari, jam dan saat kematiannya sendiri!)

54.

Yen gawe pêsthi samangkya, papêsthene awak-mami, bokmanawa luwih kurang, susah anggoleki pêsthi, bêcike sabên lawan ari, anggawe papêsthen iku, manut sênênging driya, dadi ora kurang luwih, ora angel ora cidra ing sêmaya.

Membuat takdir itu, takdir untuk diriku sendiri, sangat sulit membuat yang seimbang (maksudnya membuat takdir yang menghasilkan keseimbangan sehingga menunjang lepas dari dualitas duniawi), sangat sulit mencari takdir (yang menunjang pelampauan dualitas tersebut), lebih baik setiap hari, dalam membuat takdir, dibuat dalam keadaan pikiran yang bahagia (pikiran positif), sehingga hasilnya kelak tidak akan lebih dan kurang (seimbang), tidak membuat kesukaran (dalam proses evolusi Atma) dan tidak membuat ingkar janji (mengingkari tujuan hidup yang sejati yaitu menyatu dengan SUMBER ABADI SEMESTA).

55.

Kyai Abdul Jabar ngucap, Pêsthine marang Hyang Widdhi, ingkang durung kalampahan, Gatholoco anauri, Iku pêsthening Widdhi, dudu pêsthi saking ingsun, Allahku sabên dina, anggawe papêsthen mami, anuruti marang kabeh karsaningwang.

Kyai Abdul Jabar berkata, (Bagaimana dengan) ketetapan Hyang Widdhi, yang belum terlaksana, Gatholoco menyahut, Itu ketetapan (Hyang) Widdhi, bukan ketetapan dari-(Atma)ku, Allah-ku setiap hari, membuat ketetapan bagiku, menuruti kepada semua kehendak-ku. (Disini jelas harus dibedakan, mana takdir yang dibuat oleh manusia untuk dirinya sendiri melalui pikiran, perkataan dan perbuatannya, dengan takdir jalannya siklus semesta raya. Jelas, takdir bagi diri sendiri kitalah yang membuat, tapi takdir jalannya siklus semesta raya, manusia tidak bisa membuatnya.)

56.

Guru tiga sarêng ngucap, Gatholoco sira iki, nyata kasurupan setan, Gatholoco anauri, Bênêr pan ora sisip, kala ingsun dereng wujud, ana ing alam samar, tumêka ing jaman mangkin, setaningsun durung pisah saking raga.

Ketiga Guru sama-sama berkata, Gatholoco kamu ini, nyata-nyata kesurupan setan! Gatholoco menjawab, Benar memang tidak salah, saat aku belum lahir, didalam alam yang samar, hingga pada jaman aku lahir (kembali sekarang), setanku belum bisa aku pisahkan dari diriku!

57.

Basa setan iku seta, asaling bibit sakalir, wujudingsun duk ing kuna, punika asale putih, lamun durung mangrêti, iya iku asal ingsun, purwa saking sudarma, tumêka kalamullahi, sayêktine ingsun asal Kama Pêthak.

Setan itu berasal dari (air) putih (sperma), bibit semua manusia, wujudnya pertama kali, berwarna putih, maka ketahuilah, itulah asal-ku, berasal dari orang tua laki-laki, hingga aku harus lebur (moksa, maka setan akan tetap ada didalam diriku), sesungguhnya aku (Tubuh fisik ini beserta setannya) berasal dari Kama Pêthak (sperma berwarna putih)!

58.

Mênêk Guru têlu sira, Kama Irêng ingkang dadi, dene buntêt tanpa nalar, Abdul Manap duk miyarsi, mojar mring Ahmad Ngarip, Abdul Jabar Yen sarujuk, wong iki pinatenan, lamun maksih awet urip, ora wurung ngrusak sarak Rasulullah.

Akan tetapi kalian ketiga Guru, Kama Irêng (sperma hitam) asal kalian (sperma yang berisi roh-roh terikat) sehingga bodoh tanpa nalar! Abdul Manap (Abdul Manaf) begitu mendengar, berkata kepada Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif), serta kepada Abdul Jabar Jika kalian setuju, kita bunuh saja orang ini! Jika masih tetap hidup, tidak urung akan merusak syari’at Rasulullah!

59.

Iku wong mbubrah agama, akarya sêpining masjid. Gatholoco asru ngucap, Den enggal nyuduk mring mami, sapisan nyuduk jisim, pindho bathang sira suduk, ya ingsun utang apa, arsa mateni mring mami, saurira Mung lêga rasaning driya.

Orang ini merusak agama, bakal membuat sepinya masjid, Gatholoco keras berkata, Segeralah tusuk Aku, pertama kamu hanya akan mampu menusuk tubuh fana ini saja, kedua kamu hanya akan mampu menusuk bangkai (tidak bakalan kalian mampu menusuk yang namanya ‘Aku’)! Berhutang apakah Aku pada kalian? Sehingga kalian hendak membunuh ‘Aku’? (sesungguhnya kalianlah yang telah banyak berhutang pada-Ku)! Terdengar jawaban, Agar puas rasa hati kami!

60.

Krana sira ngrusak sarak, Gatholoco anauri, sarak tan kêna rinusak, pinêsthi dening Hyang Widdhi, …………………………, ………………………, …………………….., iku têtêp aran janma ngrusak sarak.

Karena kamu telah merusak syari’at! Gatholoco menyahuti, Syari’at (hukum yang sesungguhnya alias hukum alam) tidak bisa dirusak! Sudah ditetapkan demikian oleh Hyang Widdhi, (belum saatnya saya terjemahkan……………….), Itulah sesungguhnya yang dinamakan manusia perusak syari’at!!

61.

Dene bangsane agama, sasênêngne wong ngaurip, sanajan agama Cina, lamun têrus lair batin, yêkti katrima ugi, Guru têlu agamamu, iku agama kopar, agamaku ingkang suci, iya iku kang aran Agama Rasa.

Semua agama, terserah kepada pribadi masing-masing, walaupun agama berasal dari Cina, apabila mantap lahir batin, pasti diterima (oleh Tuhan), agama kalian, itu agama sombong, agamaku yang suci, inilah yang disebut Agama Rasa.

62.

Têgêse Agama Rasa, nuruti rasaning ati, rasaning badan lan lesan, iku kabeh sun-turuti, rasaning lêgi gurih, pêdhês asin sêpêt kêcut, pait gêtir sadaya, sira agama punapi, saurira Agamaku Rasulullah.

Maksud dari Agama Rasa, mengamati rasa hati, rasa badan dan rasa lidah, itu semua aku amati, rasa manis gurih, pedas asin sepat kecut, pahit dan getir semuanya (Gatholoco tengah menguraikan meditasi Vipassana, yaitu melatih Kesadaran agar senantiasa awas dengan segala gejolak pikiran dan segala sensasi tubuh), sedangkan kalian agama apakah, Mereka menjawab Agamaku agama Rasulullah!

63.

Gatholoco asru ngucap, Patut sira tanpa budi, aran ra punika raras, sul usul raras kang sêpi, sul asal têgêsneki, mulane sireku kumprung, Guru tiga miyarsa, sigra kesah tanpa pamit, sakancane garundêlan urut marga.

Gatholoco keras menyahuti, Pantas kalian tanpa buddhi (kesadaran), tidak bisa mengamati rasa diri, mengamati asal usul rasa yang sepi (dari segala rasa), makanya kalian bingung, Mendengar kata-kata itu ketiga Guru, segera pergi tanpa pamit, seluruh yang bersama mereka menggerutu sepanjang jalan.

64.

Sangêt dennya nguman-uman, Ahmad Ngarip muwus aris, Abdul Jabar Abdul Manap, salawasku urip iki, aja pisan pisan panggih, kalawan wong ora urus, manusa tan wruh tata, jroning ngimpi ingsun sêngit, yen kapêthuk sun mingkar tan sudi panggya.

Sangat-sangat sakit hati, Ahmad Ngarip (Ahad ‘Arif) berkata pelan, Abdul Jabar Abdul Manap (Abdul Manaf), selama hidupku ini, jangan sekali-kali lagi bertemu lagi, dengan orang yang tidak benar, manusia yang tidak mengetahui etika (seperti Gatholoco), bahkan didalam mimpi sekalipun, jika bertemu aku akan menghindar tidak sudi bertemu!

65.

Gatholoco kang tinilar, aneng ngisoring waringin, rumasa yen mênang bantah, mangkana osiking galih, bangêt kêpati-pati, angêkul sameng tumuwuh, Sun-kira luwih manah, pangawruhe Guru santri, dene iku isih bodho kurang nalar.

Gatholoco yang ditinggal, dibawah pohon beringin, merasa jika telah menang dalam berdebat, begini kata hatinya, Sangat-sangat prihatin aku, betapa banyak manusia yang tidak sadar seperti kul (keong), aku kira sangat luas, wawasan Guru para sanri (tadi), ternyata masih bodoh kurang nalar.

66.

Durung padha durung timbang, yen tinandhing kawruh-mami, durung nganti ingsun-gêlar, kawruhku kang luwih edi, prandene anglangani, kalah tan bisa samaur, yen mangkono sun-kira, ingkang muruk tanpa budi, iku nyata setan ingkang menda janma.

Sangat-sangat tidak seimbang, apabila diukur dengan wawasan-ku, belum juga aku wedarkan, pengetahuanku yang lebih unggul, tapi pada kenyataannya, kalah tak bisa menjawab, jika demikian kesimpulanku, siapa saja yang mengajarkan ilmu tanpa buddhi (kesadaran), itu nyata-nyata setan yang menjelma sebagai manusia.

67.

Lamun wulange manusa, mêsthine pada mangrêti, mring duga lawan prayoga, aywa karêm karya sêrik, mulane kudu eling, eling marang Ingkang Asung, asung urip kamulyan, upayanên den kapanggih, yen pinanggih padhang têrang sagung nalar.

Jika benar-benar manusia, pastilah akan memahami, akan baik dan buruk, tidak suka gampang menghakimi sesama, oleh karenanya harus ingat, ingat kepada yang Maha Pemberi, yang memberikan kemuliaan hidup, carilah (Dia) hingga ketemu, jika telah ketemu akan terang benerang kesadaran ini.

68.

Yen padhang têgêse gêsang, lamun pêtêng iku mati, janma ingkang duwe nalar, aran manusa sujati yen luwih wus ngarani, agal myang alus cinakup, tan kaya Guru tiga, bodhone kêpati-pati, cupêt kawruh pêtêng nalar maknanira.

Terang itu hidup, sedangkan gelap itu mati, manusia yang mempunyai kesadaran, itulah manusia sejati, manusia yang unggul, melampaui yang kasar dan halus (dualitas duniawi), tidak seperti ketiga Guru tadi, sangat-sangat bodoh, sempit wawasan gelap kesadarannya.

69.

Gatholoco gya lumampah, têtêmbangan urut margi, kêbo bang kagok (sapi) upama, ‘sapi-san’ maning pinanggih, bibis alit ing tasik (undur-undur), ora ‘mun-dur’ bantah kawruh, pêlêm gung mawa ganda (kuweni), kawuk ingkang menda warni (slira), bêcik ingsun ‘ngênte-ni’ lan ‘ura-ura’.

Gatholoco segera beranjak, melantunkan tembang sepanjang jalan, Kerbau berwarna merah keputihan (SAPI maksudnya), ‘SAPI-san’ (sekali lagi) bertemu, binatang bibis yang hidup diatas pasir (binatang UNDUR-UNDUR), tidak akan ‘mun-DUR’ jika harus berdebat lagi, mangga besar dengan baunya yang harum (mangga KWENI), binatang kawuk yang berganti rupa (binatang SLIRA), lebih baik aku ‘ngente-NI’ (menanti) sembari ‘u-RA-u-RA’ (berdendang).

70.

Gude rambat (kara) puspa krêsna (tlasih), ‘mani-ra’ pan ‘i-sih’ wani, witing pari (dami) enthong palwa (wêlah), ora nêja ‘ka-lah ma-mi’, araning wisma paksi (susuh), ‘mung-suh’ sira guru pêngung, parikan ulêr kambang (lintah), ingsun sênêng ‘ban-tah’ ilmi, wêlut wisa (ula) tininggal atiku ‘gê-la’.

Tumbuhan Gude yang merambat (tumbuhan KARA) daun hitam (daun TLASIH), mani-RA (diriku) sungguh ‘ma-SIH’ berani, batang padi (DAMI) centhong perahu (dayung atau WÊLAH), tidak akan ‘ka-LAH ma-MI (diriku)’, nama rumah burung (SUSUH), ‘bermu-SUH-an’ dengan kalian guru bodoh, ulat yang mengambang diair (LINTAH), aku sangat suka ‘berban-TAH-an’ ilmu, belut yang berbisa (ular atau ULA) ditinggal hatiku ‘gê-LA (kecewa)’.

71.

Mendhung pêthak (mega) kunir pita (têmu), ‘muga-muga têmu’ maning, têpi wastra rinumpaka (kêmadha), banjur ‘pa-dha’ maring ngêndi, kayu rineka janmi (golek), apa ‘golek’ guru jamhur, sarkara munggeng tala (madu), arsa den ‘a-du’ lan mami, wadhung rêma (cukur) malah ‘so-kur’ yen mangkana.

Mendung berwarna putih (MEGA) kunyit merah (TÊMU), ‘semo-GA bertê-MU’ lagi, pinggir kemben yang dirias (KÊMADHA), lantas ‘pa-DHA (sama)’ kemana semua? Kayu yang dibuat seperti wujud manusia (GOLEKAN), apa mau ‘GOLEK (mencari)’ Guru terkenal? Cairan manis diatas pohon (MADU), hendak ‘di-ADU’ dengan aku, cangkulnya rambut (alat CUKUR) malah ‘syu-KUR’ jika memang begitu.

72.

Jangkrik gung wismeng kêbonan (gangsir), manira ora ‘guming-sir’, bêbasan putrane menda (cêmpe), ‘sakarê-pe’ sun-ladeni, jamang wakul (wêngku) upami, angajak apa ‘sire-ku’, duh lae putêr wisma (dara), nganggo ‘si-ra’ mêjanani, kênthang rambat (katela) sanajan rupaku ‘a-la’.

Jangkrik bertubuh besar berumah dikebun (binatang GANGSIR), diriku tidak akan ‘guming-SIR (mundur)’, anak kambing (CÊMPE), ‘sakare-PE (semaunya)’ aku layani, mahkota tempat nasi (WÊNGKU), mau mengajak apa ‘sire-KU (dirimu)’, burung Puter yang suka dipelihara (burung merpati atau DARA), sehingga ‘si-RA (kamu)’ menghinaku, buah kentang yang merambat (KÊTELA) walaupun wajahku ‘a-LA (jelek)’.

73.

Mênyawak kang sabeng toya (slira), ‘praka-ra’ mung bantah ilmi, wulu bauning kukila (êlar), kabeh ‘na-lar’ sun tan wêdi, sayêkti pintêr mami, tinimbang lan sira guru, kaca tumraping netra (têsmak), ora ‘ja-mak’ mejanani, mulwa rêngka (srikaya) yen sira luru ‘sara-ya’.

Biawak yang suka di-air (binatang SLIRA), ‘perka-RA’ tentang berdebat ilmu, bulu punggungnya burung (ÊLAR), segala ‘na-LAR’ (pengetahuan) aku tidak takut, pasti lebih pintar aku, daripada kalian para guru, kaca untuk mata (kaca mata atau TÊSMAK), ‘ora ja-MAK (tidak lumrah, sudah melampaui batas)’ penghinaan kalian, buah nangka yang gampang terbelah (buah SRIKAYA), jika kalian mencari ‘sara-YA (cara)’.

74.

Kêmadhuh rujit godhongnya (rawe), aywa suwe sun-anteni, guru ngêndi srayanira, najan jamhur luwih wasis, ingsun wani nandhingi, angayoni bantah kawruh, masa ingsun mundura, yeku karsane Hyang Widdhi, raganingsun yêktine darma kewala.

Daun kemadhuh bergerigi (RAWE), jangan ‘su-WE (lama)’ aku nantikan, guru mana yang kamu andalkan, walaupun tersohor dan pintar, aku berani menandingi, melayani berbantah ilmu, tidak akan aku mundur, karena ini semua kehendak Hyang Widdhi, diriku hanya sekedar menjalani.

75.

Gatholoco sukeng driya, rêrêpen alon lumaris, miling-miling mung priyangga, dumugi patopan mampir, manjing mring bambon linggih, ngambil klelet kang kinandhut, saglindhing dipun untal, ngrasuk badan anyêgêri, kraos gatêl astane ngukur sarira.

Gatholoco suka dihati, berdendang sembari berjalan pelan, hanya sendirian saja, sampai disebuah tempat lantas mampir, masuk kedalam tempat madat dan duduk, mengambil candu yang di bawa, segelintir langsung dimakan, merasuk badan menyegarkan, terasa gatal tangannya menggaruk tubuh.

(Bersambung ke bagian 9 Ulasan)

(14 Mei 2010, by Damar Shashangka)

Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA

PUPUH IV
Pangkur
(Kumpulan syair IV, Lagu ber-irama Pangkur)

1.

Kacarita ing Cêpêkan, pondhok agêng panggenan santri ngaji, punika sampun misuwur, kawêntar manca praja, wontên Kyai pinunjul jumênêng Guru, alim jamhur tanpa sama, kang nama Kasan Bêsari.

Diceritakan di Cêpêkan, pondok (pesantren) besar tempat para santri belajar mengaji, sudah terkenal, tersohor keluar daerah, terdapat seorang Kyai berkedudukan sebagai Guru, sangat alim tersohor tiada tandingan, yang bernama Kasan Bêsari (Hassan Bashori).

2.

Kajuwara yen ulama, mila unggul ginuron para santri, muridipun tigang atus, ing wanci bakda isak, wus salat neng langgar ngaji sadarum, Kyai Guru arsa mulang, kitab Pêkih miwah Tapsir.

Unggul diantara para ulama, maka banyak didatangi para santri, muridnya berjumlah tiga ratus orang, dikala bakda isya’, selesai bersembahyang di-Langgar (Musholla), Kyai Guru hendak mengajar, kitab Pêkih (Fiqih) dan Tapsir (Tafsir Al-Qur’an).

3.

Undha usuk warna-warna, wontên santri ingkang lagya niteni, makna lapal Kuran-ipun, ngasil-ingasil ika, samya taken-tinaken mring kancanipun, wontên ingkang sampun paham, ngapalakên kitab Sitin.

Tingkah para santri bermacam-macam, ada yang tengah serius memperhatikan, makna lapal Kuran (lafadz Al-Qur’an), apa yang dapat mereka pahami, beberapa orang tengah saling tanya dengan temannya, ada yang sudah paham (ada yang belum), lantas menghafalkan Kitab Sittin.

4.

Tanapi sagunging kitab, sasênênge santri sawiji-wiji, santri ingkang sampun putus, ing makna lapal Kuran, mêncil mêncul madoni mring Kyai Guru, maknanira lapal Kuran, angambil sagunging misil.

Serta beberapa Kitab lagi, sesuai keinginan para santri sendiri-sendiri, santri yang sudah berhasil, menghafal makna lapal Kuran (lafadz Al-Qur’an), segera mencoba mendebat Kyai Guru, untuk semakin memahami maknanya, mencari arti yang sesungguhnya.

5.

Ingkang sampun kinawuhan, kang sawêneh ana santri pradondi, ing lapal makna puniku, udrêg paben grêjêgan, santri kalih mara mêrak marang Guru, gya kasaru tamu prapta, Abdul Jabar Ahmad Ngarip.

Makna yang bisa mereka tangkap, ada juga beberapa santri yang tengah bertengkar, mengenai sedikit makna yang berhasil mereka mengerti, bertengkar rame saling ngotot, dua orang santri mendekat kehadapan (Sang) Guru, berbarengan dengan kedatangan para tamu, Abdul Jabar Ahmad Ngarip (‘Arif).

6.

Miwah Kyai Abdul Manap, sabat nênêm datan pisah tut wuri, sinauran salamipun, kang ngaji tutub kitab, tamu wau nulya minggah nglanggar gupuh, apan samya sêsalaman, jawat tangan gênti-gênti.

Berikut Kyai Abdul Manap (Manaf), enam sahabat terlihat mengikut dibelakang, telah dijawab salam yang mereka ucapkan, seluruh yang tengah mengaji segera menutup kitab (masing-masing), para tamu naik keatas Langggar (Musholla) segera, sebentar kemudian saling bersalaman, mempertemukan tangan dengan tangan berganti-gantian.

7.

Sawustru sêsalaman, sampun warata sadaya para santri, munggeng langgar tata lungguh, Kasan Bêsari mojar, Dene gati kados wontên karsanipun, pukul pintên mangkatira, saking pondhok Rêjasari.

Setelah bersalaman, merata kepada seluruh santri, masing-masing para tamu segera bersila, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Sepertinya ada hal yang sangat penting, pukul berapa tadi berangkat, dari pondhok (pesantren) Rêjasari?

8.

Angling Kyai Abdul Jabar, Bakda subuh mangkat wanci byar enjing, milahipun ngantos dalu, kêdangon wontên marga, mandhêg bantah kawon mêngsah tiyang kupur, Gatholoco namanira, dhapure mbotên mêjaji.

Menjawab Kyai Abdul Jabar, Selepas Subuh tepat pagi menjelang (kami) berangkat, tiba disini hingga malam, (sebab) terlalu lama, berhenti dijalan berbantahan ilmu dengan manusia Kupur (Kufur) dan (kami) kalah, Gatholoco namanya, orangnya sangat jelek.

9.

Punika setan katingal, anak Bêlis ambêgta wadhung linggis, pan kinarya ngrusak ngrêmuk, ing sarak Rasulullah , ingkang lêrês dipun wadhung lêmah putung, yen pokah rêbah binubrah, agami den obrak-abrik.

Orang ini adalah Setan yang mewujud, anak Iblis yang tengah membawa pedang dan linggis, yang hendak dipergunakan untuk merusak dan meremukkan, syari’at Rasulullah, yang sudah lurus hendak ditebas dengan pedang, yang sudah benar hendak dirusak, agama diobrak-abrik!

10.

Sadaya sarak tinêrak, morak-marik sirik den orak-arik, amung nekad gasruh rusuh, jinawab mung sakêcap, gulagêpan kula tan bangkit sumaur, sagung karam rinampasan, ambubrah sarak lan sirik.

Seluruh syari’at (peraturan) diterjang, kacau balau larangan dijungkir-balikkan, niatnya memang hendak membikin rusuh, satu ucapan dari mulutnya, membikin hamba gelagepan tak bisa menjawab, segala yang haram dipakainya, membuat bubrah syari’at (peraturan) dan larangannya!

11.

Wungkul akal mokal nakal, sangêt ngrengkel ngungkil nyrekal mêthakil, sakeh kawruh kabarubuh, sagung pasal kasingsal, dalil-dalil katail ing misilipun, kula mapan mung kasoran, kula nyingkring botên mlangkring.

Sangat pintar dan cerdik, sangat alot tajam (kritis) seenaknya dan semaunya, seluruh ilmu kami tertindih (oleh ilmu)nya, seluruh jawaban (kami) tiada berguna, dalil-dalil (kami) mentah maknanya (dihadapan dia), kami semua menerima kalah, kami kejarpun tak mampu kami memegang (ilmu)nya.

12.

Panggah bantah mêksa kalah, boten bêtah isin den iwi-iwi, sakeh padu dipun buru, sakeh jawab tan mênang, salin pisuh botên pasah saya rusuh, malah munggah ngarah sirah, lir maling nêja anjiling.

Memaksakan terus berdebat tetap juga kami kalah, (kami) tak bisa menahan malu manakala dicemooh, segala debat mampu dijawabnya, segala bantahan kami tiada menang, hingga kami maki-pun tetap saja kami kalah, malahan semakin lancang menginjak kepala, bagai maling yang kurang ajar (kepada pemilik barang yang dimalinginya).

13.

Kula tansah kaungkulan, pijêr kojur botên sagêd ngungkuli, kula suwun mring Hyang Agung, salami-kula gêsang, sampun ngantos kêpranggul tiyang kayeku, yen kapêthuk kula nyimpang, jejera kula sumingkir.

Kami selalu diunggulinya, senantiasa kalah tak dapat mengungguli, kami meminta kepada Hyang Agung (Tuhan), semoga selama hidup, jangan sampai bertemu lagi dengan manusia seperti itu, apabila berpapasan kami akan menghindar, jika bersebelahan kami akan menyingkir!

14.

Manah kula sampun jinja, krana saking kapok den iwi-iwi, Kasan Bêsari duk ngrungu, mring nalar kang mangkana, sanalika dennya ngontor asru bêndu, jaja bang mawinga-winga, muring-muring waja gathik.

Hati kami sudah enggan, sebab kapok terus dicemooh, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) manakala mendengarnya, akan kelakuan manusia semacam itu, seketika murka, dada bergemuruh wajah memerah, marah-marah gigi bergemeletukan!

15.

Netra andik angatirah, Kyai Kasan Bêsari ngucap bêngis, Patut kang kaya dhapurmu, santri remeh kewala, bênêr sira mantholos êndhasmu gundhul, buntu buntêt tanpa nalar, mung jakat kang sira-incih.

Mata melotot tajam, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata kasar, Pantas jika seperti kalian (kalah), para santri bodoh, memang benar kepala kalian pelontos gundhul, tapi otak kalian buntu tanpa kepintaran, hanya Jakat (Zakat Fitrah) semata yang kalian ketahui!

16.

Durung patut ginuronan, guru bodho kawruhmu mung sanyari, ora liya kabisanmu, marani anggêr wisma, kang ginawa kasang wadhah karag sêkul, bisane Ndonga Kabula, ngaji kulhu lamyakunil.

Belum pantas digurui (oleh para murid), guru bodoh ilmumu hanya sejengkal jari, tiada lain yang kalian bisa, keluar masuk rumah, sembari membawa bakul nasi (maksudnya untuk memimpin acara tahlilan atau selamatan saja dan pulang-pulang membawa makanan dari acara tersebut), bisanya hanya membaca Doa Kabula (Do’a Qabul : Do’a agar niat tuan rumah yang mengadakan acara tahlilan atau selamatan terlaksana), hanya bisa membaca Kulhu lamyakunil (Kulhu Allahu Ahad, Allahu Shomad…dst. Maksudnya, doa yang umum diketahui semua orang!)

17.

Ora padha kaya ingwang, marma gun-DHUL kasun-DHUL ing agami, mila pu-TIH surbaningsun, ti-TIH te-TEH micara, kalah iki mêsti ngambil saking biku, mila kêthu taranca-NGAN, panja-LIN ingkang kinardi.

Tidak seperti aku, ‘gun-DUL’ kepalaku karena ‘sun-DHUL’ (menggapai langit) ilmu agamaku! ‘Pu-TIH’ sorbanku, karena mulutku ‘ti-TIH te-THE’ (jelas dan lugas) menyampaikan ilmu, memakai kethu (kopiah/songkok model kuno) berbentuk ‘têranca-NGAN’ (bersusun indah) terbuat dari jalinan ‘pênja-LIN’.

18.

Keri-NGAN santri ulama, ora kewran kawruhku saLIN-saLIN, nrawang putus ngisor dhuwur, mila klambi kêba-YAK, bisa mi-YAK marang kawruh agal alus, sabuk poleng MANCA WARNA, kawruh ingsun WARNI-WARNI.

(Karena aku) ‘Keri-NGAN’ (Terkenal) diantara para santri dan ulama, bahkan tidak hanya itu ilmuku bisa ‘sa-LIN sa-LIN’ (Berganti-ganti karena saking banyaknya ilmu), jelas dan terang mulai hal yang rendah hingga yang tinggi, aku memakai busana ‘kêba-YAK’ (kebayak model untuk pakaian santri), karena aku bisa ‘mi-YAK’ (membuka) rahasia ilmu yang kasar dan ilmu yang halus (maksudnya dari ilmu yang tergampang hingga ilmu yang tersulit), berikat pinggang model Poleng (berbelang-belang) ‘BERANEKA WARNA’, karena ilmu-ku pun ‘ber-WARNA-WARNI’

19.

Ilmu Jawa Landa Cina, Turki Koja Hindhu Bênggala Kêling, kabeh iku wus kacakup, sun-simpên aneng kasang, kawruh Arab awit timur nganti lamur, kawruh Jawa tan kuciwa, dhasar ingsun bangsa Jawi.

Ilmu Jawa Belanda China, Turki Koja Hindhu Bênggala Kêling, semua sudah aku kuasai, aku simpan dalam penyimpanan yang rapi, ilmu Arab aku kuasai semenjak muda hingga mataku mulai kabur, ilmu Jawa-pun tak mengecewakan, karena dasarnya aku memang orang Jawa!

20.

Mila bêbêd sarung amba, omber jêmbar ngungkuli ingkang dakik, kabeh ilmu ingsun wêruh, nganggo tês-BEH sanyata, ka-BEH kawruh ingkang luwih saking alus, ora nana bisa mada, amadani marang mami.

Makanya aku memakai sarung yang lebar, karena ilmuku lebar dan luas melebihi semua orang yang ahli ilmu, segala ilmu aku ketahui, akupun memegang ‘tas-BEH’ (tasbih), karena ‘ka-BEH’ (semua) ilmu yang terhalus sekalipun (aku kuasai), tak ada yang bisa menghina, mencemooh kepada diriku.

21.

Mulane nganggo gam-PARAN, sa-PARAN-ku angungkuli sasami, mulane CIS têkêningsun, kumê-CIS nora cidra, anêrawang jaba jero ngisor dhuwur, upamane ingsun kalah, mungsuh janma tanpa budi.

Oleh karenanya pula aku memakai ‘gam-PARAN’ (terompah), (karena) ‘sa-PARAN-ku’ (dimanapun diriku) akan melebihi sesama, oleh karenanya ‘CIS’ (tongkat) tongkatku (Cis itu padanan kata Tongkat), ‘kumê-CIS’ (berani) tak akan mundur, ku ketahui segala hal mulai bagian luar dalam bawah hingga atas, seumpama aku sampai kalah, melawan manusia tanpa Budi (Buddhi ; Kesadaran).

22.

Sayêktine ingsun wirang, golekana saiki ana ngêndi, si Gatholoco wong kumprung, ingsun arsa uninga, mring warnane janma ingkang kurang urus, Ahmad Ngarip ujarira, Duk wau sapungkur mami.

Aku akan sangat-sangat malu, carilah sekarang dimana, si Gatholoco manusia tidak tahu aturan itu, aku ingin melihat, (bagaimana) wujud manusia yang kurang ajar tersebut, Ahmad Ngarip (‘Arif) menjawab, Sepeninggal kami tadi.

23.

Tut wingking lampah kawula, kintên-kintên dalu punika ugi, nyipêng wontên kitha Pungkur, Kasan Bêsari ngucap, Lamun mrene sun jewere kupingipun, mungsuh janma ngrusak sarak, kalah lambene sun juwing.

Sepertinya berjalan mengikuti langkah kami, kira-kira malam ini juga, tengah bermalam di kota Pungkur, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Jika ada disini akan aku jewer telinganya! Berdebat dengan manusia perusak syari’at seperti dia, jika nanti sampai dia kalah akan aku cincang mulutnya!

24.

Sun karya pangewan-ewan, Duk samana dupi sampun byar enjing, wanci bakda salat subuh, prentah mring santri tiga, Golekana Gatholoco den katêmu, têkakna mring ngarsaningwang, Santri tiga gya lumaris.

Benar-benar aku berjanji, Bersamaan dengan datangnya pagi, seusai shalat subuh, (Kyai Hassan Bashori) memberikan perintah kepada ketiga santri, Carilah Gatholoco hingga ketemu, bawa kehadapanku, Ketiga santri segera berangkat.

25.

Datan winarna ing marga, santri tiga lampahnya sampun prapti, ing pacandhon kutha Pungkur, nulya manjing ngêpakan, santri tiga pramana samya andulu, ing pacandhon wonten janma, êndhek cilik bokong canthik.

Tidak diceritakan dalam perjalanan, ketiga santri akhirnya sampai, ditempat madat kota Pungkur, langsung masuk ke-tempat madat tersebut, ketiga santri awas melihat-lihat, didalam tempat madat terdapat manusia, (berpostur) pendek pantat tepos.

26.

Tinakenan namanira, gya sumaur Yen sira takon mami, Gatholoco araningsun, santri tiga tuturnya, Katimbalan sireku mring ngarsanipun, Guruning santri Cêpêkan, Kiyai Kasan Bêsari.

Manakala ditanya siapa namanya, segera dijawab Jika kalian bertanya siapa namaku, Gatholoco namaku, Ketiga santri berujar, Kamu dipanggil untuk menghadap, Guru para santri di (pondok pesantren) Cêpêkan, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori).

27.

Kinen sareng lampah kula, Gatholoco maleleng ngiwi-iwi, gela-gelo manggut-manggut, nanging kendêl kewala, cangkêmipun macucu boten sumaur, nulya nêmbang ura-ura, larase mung anggêr muni.

Menghadap bersama dengan kami sekarang, Gatholoco acuh sembari mencibir, mempermainkan kepala manggut-manggut, akan tetapi tak bersuara, mulutnya dimonyongkan tak ada jawaban, lantas menyanyikan tembang, iramanya asal bunyi.

28.

Piyik anak manuk Dara, Pêdhet iku jarene anak sapi, Cêmpe cilik anak Wêdhus, Gudel anak Maesa, Kirik cilik iku jare anak Asu, Belo kêpêl anak jaran, Gênjik cilik anak Babi.

Anak burung Dara (Merpati) namanya Piyik, anak Sapi namanya Pêdhet, anak Wêdhus (Kambing) namanya Cêmpe, anak Maesa (Kerbau) namanya Gudel, anak Asu (Anjing) namanya Kirik, anak Jaran (Kuda) namanya Bêlo, anak Babi namanya Gênjik.

29.

Sêkar Pucang jare Mayang, sêkar Mlathi jarene sêkar Mlathi, kêmbang Gêdhang jare Jantung, yen kêmbang Klapa Manggar, dhuh lae dhuh kêmbang Mênur kêmbang Mênur, kêmbang Pacar kêmbang Pacar, kêmbang Sruni kêmbang Sruni.

Kêmbang pohon Pucang namanya Mayang, kêmbang pohon Melathi katanya kêmbang Melathi, kêmbang Gêdhang (Pisang) namanya Jantung, kalau kêmbang Klapa (Kelapa) namanya Manggar, aduh aduh kêmbang Mênur kêmbang Mênur, kêmbang Pacar kêmbang Pacar, kêmbang Sêruni kêmbang Sêruni.

30.

Santri murid kang dinuta, samya eram sadaya tyasnya gêli, kapingkêl-pingkêl gumuyu, wacana jroning driya, apa baya pancen duwe lara gêmblung, dene pijêr ura-ura, bêcik kudu diasori.

Para murid santri yang diutus, keheranan melihat tingkah Gatholoco dan geli, terpingkal-pingkal ketawa, membatin dalam hati, apa memang memiliki sakit gila, ditanya kok malah bernyanyi tidak karuan nadanya, lebih baik diambil hatinya agar menurut.

31.

Murid tiga angrêrêpa, sanjang malih sarana ngarih-arih, ingarah mung murih purun, Mangga tumuntên mangkat, mring Cêpêkan manggihana Kyai Guru, manawi den arsa-arsa, kedangon kula ngêntosi.

Ketiga murid memohon, kembali meminta dengan mengharap-harap, agar supaya bersedia, Mohon bersedia menghadap, ke (pondok pesantren) Cêpêkan bertemu Kyai Guru, siapa tahu sudah ditungggu-tunggu, kami kelamaan menanti jawaban (anda).

32.

Gatholoco klewa-klewa, sarwi ngucap Apa sira tan uning, ingsun iki lagya ewuh, lan bangêt kêtagihan, lamun sira paripaksa ngundang mring sun, kêthumu bae sun-sêlang, prêlu kanggo gadhen dhingin.

Acuh tak acuh Gatholoco, sembari berkata Apa kalian tak melihat, aku ini sedang kebingungan, dan sangat ketagihan, apabila kalian memaksa aku, kêthu (kopiah) kalian saja aku pinjam, perlunya untuk aku gadaikan.

33.

Candu rong timbang kewala, nanging jangji sira têbus pribadi, mêngko yen wus mêndêm ingsun, tumuli mangkat mrana, lamun sira ora lila kêthu iku, ingsun wêgah lunga-lunga, moh nêmoni Kyai Kaji.

Aku tukarkan candu sebanyak dua timbangan saja, akan tetapi harus berjanji kalian yang menebus sendiri nanti, jika aku sudah mabuk, baru berangkat kesana, apabila kalian tidak rela meminjamkan kêthu (kopiah) kalian, aku tidak sudi pergi, menemui Kyai Kaji (Kyai Haji).

34.

Santri tiga duk miyarsa, rêrêmbugan lawan rowange sami, lamun ora sinung kêthu, sayêkti tan lumampah, ora wurung Kyai Guru mêngko bêndu, upama ingsun wenehna, luwih bêcik den turuti.

Mendengar hal itu maka ketiga santri, saling berembug, apabila tidak diberikan kêthu, pasti tak mau beranjak pergi, ujung-ujungnya nanti Kyai Guru akan marah, lebih baik di berikan dan lebih baik dituruti.

35.

Santri duta kang satunggal, amangsuli mangkana dennya angling, wus têtela nalar kojur, iku padha kewala, kêthu mami uga anyar oleh tuku, lawase satêngah wulan, rêgane srupiyah putih.

Salah seorang santri, menjawab beginilah katanya, Sudah terlanjur memang nasib kita, semua sama saja, kêthu-ku juga masih baru beli, setengah bulan yang lalu, harganya satu rupiah perak.

36.

Kang satunggal tumut ngucap, ora beda anyare kêthu mami, lagi nganggo patang taun, mangka utang pitung wang, bayar nicil setheng setheng sabên esuk, sun-lowongi durung êsah, isih kurang limang kêthip.

Yang seorang berkata, Sama juga milikku juga masih baru, ku pakai empat tahun, padahal aku berhutang 7 Wang, menyicil 1 Setheng tiap pagi, belum juga lunas. Masih kurang 5 Kêthip. (Nilai 12 Wang sama dengan 1 Rupiah. Nilai 1 Setheng sama dengan 1⁄2 Sen. Nilai 1 Kêthip sama dengan 5 Sen, sedangkan nilai 1 Sen sama dengan Seperseratus rupiah.)

37.

Najan camah awakingwang, waton oleh alême guru mami, santri tiga samya muwus, niki kêthu kawula, tampenana Gus Nganten sampeyan pundhut, gadhekna kula sumangga, sakmana dipun tampeni.

Walau harus rugi, asal dapat pujian Guru, Ketiga santri lantas sepakat, Ini kêthu kami, terimalah manusia bagus, silakan digadaikan, Segeralah diterima.

38.

Wusnya kêthu tinampenan, santri duta malah den iwi-iwi, ngisin-isin sarwi muwus, Sireku ngêntenana, kêthu tiga dipun gantosakên candu, rong timbang cinukit ngingkrang, sinêrêt bantalan dingklik.

Setelah kêthu diterima, para santri utusan malah diejek, diperpermalukan sembari berkata, Kalian semua tunggulah. Tiga kethu ditukar candu, sebanyak dua timbangan segera diungkit, lantas dihisap (oleh Gatholoco) sembari berbantalkan kursi kecil.

39.

Wus tuwuk panyêrêtira, bêdudane nulya dipun sangkêlit, Gatholoco gya lumaku, den iring santri tiga, sadangune lumampah urut dalanggung, ngupaya sênênging driya, rêrêpen sinawung gêndhing.

Setelah puas menghisap (candu), pipa pun lantas ditaruh dipinggang, Gatholoco segera berjalan diiringi ketiga santri, sepanjang jalan, mencari senangnya hati, dengan bernyanyi dan menembang.

40.

Bismillah sun-ura-ura, sun-wangsalan Pêtis apyun (CANDU) upami, ana kêthu dadi CANDU, candu dadi gêlêngan, Patek tungkak (BUBUL) gêlêngane dadi kê-BUL, kêbule mrasuk mring badan, sumrambah dadi nyêgêri.

Bismillah aku hendak bernyanyi, bersyair ‘wangsalan’ (kata-kata yang vocal-nya berupa sandi) ‘Pêtis apyun’ (CANDU) seumpama, ada kêthu (kopiah) menjadi ‘CANDU’, candu menjadi gelintiran, ‘Patek (penyakit kulit) di telapak kaki’ (BUBUL) gelintiran menjadi ‘ke-BUL’ (Asap), asapnya merasuk badan, menyebar membuat segar.

41.

Jênang sobrah (AGÊR-AGÊR) Ancur kaca (RASA), Balung tipis munggeng pucuk dariji (KUKU), sê-GÊR dadi ro-SA mla-KU, nanging ingkang kelangan, paribasan Sabêt kuda (CÊMÊTHI) mês-THI gêtun, aranira Tirta maya (WISUHAN), mi-SUH-mi-SUH jroning batin.

‘Bubur sobrah’ (AGER-AGER) ‘Ancur (bubuk) dari pecahan kaca’ (RASA), ‘Tulang kecil berada diujung jemari’ (KUKU) ‘se-GER’ (Segar) jadi ‘ro-SA’ (Kuat) ‘luma-KU’ (berjalan), akan tetapi yang kehilangan, bagaikan ‘Alat pemukul untuk kuda’ (CEMETHI) ‘mes-THI’ (Pasti) merasa sayang, disebut ‘Air berwarna’ (WISUHAN/AIR PEMBASUH), ‘mi-SUH mi-SUH’ (Memaki-maki) didalam hati.

42.

Dhuh bakul Sotya kêncana (PARA), Sela ingkang kinarya ngasah lading (WUNGKAL), mani-RA bakal katêmu Guru santri Cêpêkan, Paksi alit kang dadya sasmiteng tamu (PRÊNJAK), Pêthel panjang tanpa sangkal (TATAH), nêja nga-JAK ban-TAH ilmi.

Wahai ‘Penjual perhiasan’ (PARA), ‘Batu yang dipakai untuk menajamkan besi’ (UNGKAL). ‘mani-RA’ (Aku) ‘ba-KAL’ (Hendak) bertemu dengan Guru para santri di Cêpêkan, ‘Burung mungil yang sering dipakai pertanda jika hendak ada tamu datang’ (burung PRÊNJAK), ‘Palu panjang’ (TATAH), hendak ‘menga-JAK’ ‘ban-TAH’ ilmu.

43.

Kadhal gung wismeng bangawan (BAJUL), Jambu ingkang isi lir mirah edi (DLIMA), sanajan guru pinun-JUL, alim jamhur ula-MA, Wadhung pari (ANI-ANI) ingsun uga wa-NI mungsuh, mrica kêcut dedompolan (WUNI), sagêndhinge sun lade-NI.

‘Kadal bertubuh besar yang tinggal disungai’ (BAJUL/Buaya), ‘Buah jambu yang bijinya bagai batu mirah’ (DLIMA/Delima), walaupun Guru ‘pinun-JUL’ (Terkenal), alim pandai dan berstatus ‘ula-MA’, ‘Cangkul padi’ (ANI-ANI) aku tetap ‘wa-NI’(Berani), ‘Merica bergerombol yang rasanya kecut’ (WUNI), apa yang diminta akan aku ‘lade-NI’ (Layani).

44.

Dumugi pondhok Cêpêkan, kacarita ing pondhok para santri, miwah sagung para guru, mulat kang lagya prapta, maksih wontên plataran ngandhap wit jêruk, Kyai Abdul Jabar ngucap, mring Kyai Kasan Bêsari.

Sesampainya di pondok (pesantren) Cêpêkan, tampaklah para santri, berikut para guru, melihat siapa yang baru datang, masih berada di pelataran tepat dibawah pohon jeruk, Kyai Abdul Jabar berkata, kepada Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori).

45.

Tiyang makaten punika, najis mêkruh tan pantês minggah mriki, Kasan Bêsari sumaur, najan mêkruh najisa, nanging iku têkane saking karêpmu, bêcik kinen munggah langgar, dimene tumuli linggih.

Manusia seperti itu, najis tak pantas naik ke (atas musholla) ini, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) menjawab, Walaupun najis, akan tetapi yang menyebabkan dia hadir disini juga kamu, lebih baik suruh naik ke Langgar (Musholla), agar supaya bisa duduk.

46.

Rêgêd ora dadi ngapa, yen wus lunga tilase disirami, Kasan Bêsari gya dhawuh, Uwong ala lungguha, kono bae ing jrambah lor wetan iku, Gatholoco sigra minggah, marang langgar mapan linggih.

Kotor-pun tak menjadi masalah, manakala sudah pergi nanti bekas dimana dia duduk disiram dengan air, (Kyai)Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Manusia jelek duduklah, disitu saja diteras (mushola) sebelah timur laut, Gatholoco segera naik, ke atas Langgar (Musholla) dan duduk.

47.

Sendheyan prênah lor wetan, bêdudane maksih dipun sangkêlit, nulya nitik karya latu, ngakêp rokok têgêsan, têgêsane sadriji kêbule mabul, mratani sajroning langgar, ambêtipun sêngak sangit.

Duduk disebelah timur laut dan bersandar, pipa masih di selipkan dipinggang, lantas menyalakan api, rokok candu disulut, rokok candu sebesar jemari tangan asapnya menyebar, merata memenuhi Langgar (Musholla), baunya sêngak (tidak enak) sangit (bau barang terbakar).

(Bersambung)

(20 Mei, by Damar Shashangka)
Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa
yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.

Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA

Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA

48.

Para santri tutup grana, wontên ingkang ngalih denira linggih, Kasan Bêsari amuwus, Sira jênêngmu sapa, wangsulane Gatholoco araningsun, Kasan Bêsari têtanya, Apa kang sira-sangkêlit.

Seluruh santri menutup hidung, bahkan ada yang pindah tempat duduk (menjauh), (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) bertanya, Siapa namamu? Menjawab yang ditanya Gatholoco namaku, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) kembali bertanya, Apa yang kamu selipkan dipinggang (itu)?

49.

Sumaur iki watangan, watangane cipta pikir kang êning, ana dene pêntholipun, iki arane cupak, prêlu kanggo mapak kawruh ingkang luput, obate candu lan bakal, ron awar-awar kinardi.

Menjawab (Gatholoco) Ini lambang dari batang, batang kesadaran yang jernih, sedangkan bulatannya, namanya CUPAK, lambang dari pucuk kesadaran yang berguna untuk MAPAK (MEMOTONG) kesadaran yang salah (rendah), ramuan yang terdiri dari candu dan, calon daun awar-awar (daun awar-awar sangat gatal).

50.

Dadi arang ingkang tawar, yen kacampuh obat kalawan mimis, ora wurung kêna bêndu, mimis glintiran madat, yen wus awas patitise damar murub, lesane pucuking ilat, sênthile napas kang lungid.

Jarang manusia yang tawar, menikmati candu yang sudah dibuat bagai mimis (mimis adalah peluru kuno, berwujud bulatan. Candu yang sudah dibuat bagai mimis maksudnya dibentuk bulatan siap untuk dinikmat), jika tidak kuat hidup bagai terkena kutuk (disudutkan dan dihakimi oleh manusia-manusia yang rendah kesadarannya), jika sudah dinikmati akan awas kesadaran ini kepada Damar Murub (Pelita Yang Menyala, maksudnya Cahaya Kebenaran Sejati), lesannya puncak lidah (ini bahasa simbolik, maksudnya suara yang sejati untuk mencari Tuhan adalah puncak Rasa. Lidah symbol Rasa. Puncak Lidah berarti Puncak Rasa. Suara sejati dari puncak rasa untuk mencari Tuhan berarti suara yang tak terbahasakan, melampaui segala suara, melampaui segala bahasa. Itulah suara Ruh), yang menggetarkan (suara tersebut) adalah Nafas Yang Misterius (Maksudnya Dia Yang Hidup Tanpa Nafas, Brahman, Sumber Semesta).

51.

Cêthute aran Dzatullah, rasa awor ngumpul dadi sawiji, manjing marang cêthutipun, rumasuk jroning badan, sumarambah kulit daging balung sungsum, tyasingsun padhang nêrawang, ora kewran kabeh pikir.

Tempat hisapnya lambang Dzatullah (Dzat Allah, Inti Allah), (Puncak) Rasa bercampur dan menyatu menjadi satu, manunggal kedalam Tempat hisap (Dzatullah), menjadi satu kesatuan dalam satu badan, menyatu pada kulit daging tulang dan sumsum, Kesadaran-pun terang benerang, tak ada lagi illusi.

Pada (Syair) 49-51, maksudnya adalah sebagai berikut : Pipa hisap yang dibawa Gatholoco adalah lambang Kesadaran (Buddhi), hiasan bulatan pada batang pipa adalah lambng Awasnya Kesadaran untuk memilah mana yang patut dipakai demi peningkatan Kesadaran itu sendiri atau tidak (Wiweka), Candu yang dicampur bakal daun Awar-Awar, lambang begitu memabukkannya spiritualitas itu bila seorang manusia telah menyelaminya. Tapi jarang yang sanggup bertahan, karena spiritualitas menuntut keteguhan dan kekuatan yang luar biasa. Godaan dari dalam diri maupun penghakiman dari manusia lain, sangat sukar untuk dilampaui. Namun jika telah merasakan mabuk spiritual, maka kecenderungan Kesadaran akan terus lekat pada Damar Murub atau Cahaya Kebenaran Sejati.
Kompas spiritualitas, bukan teks-teks kitab suci, tapi LESANE PUCUKING ILAT. LESAN berguna untuk mengeluarkan suara, PUCUKING ILAT (PUNCAK LIDAH) adalah symbol Puncak Rasa. Puncak Rasa adalah ATMA/RUH.
SUARA DARI PUNCAK RASA berarti SUARA RUH. Inilah Radar sejati penuntun kita dijalan spiritualitas. Karena SENTHILE NAPAS KANG LUNGID (Yang menggetarkan suara itu adalah NAPAS YANG MAHA GAIB). Jelas sudah, yang membuat SUARA RUH itu tak lain adalah DIA YANG HIDUP TANPA NAFAS atau BRAHMAN itu sendiri.
Pangkal pipa ditempat penghisapan adalah lambing Dzatullah (Dzat Allah, Inti Brahman), Puncak Rasa (Ruh/Atma) apabila telah menyatu dengan Pangkal pipa (Brahman), maka menyatulah dalam satu kesatuan Wujud.
Disaat itulah semua illusi akan lenyap dan KESADARAN TOTAL PARIPURNA telah kita capai lagi.

52.

Kasan Bêsari ngandika, Sira wani mapaki kawruh mami, nganggo sira wani nglêbur, mring sarak Rasulullah, apa sira nampik urip dhêmên lampus, ora wêdi manjing nraka, ora melik munggah swargi.

(Kyai) Kasan Besari (Hassan Bashori) berkata, Kamu bernai menantang ilmuku, dengan mencoba melebur, segala syari’at Rasulullah, apa kamu menolak hidup dan pilih mati? Tidak takutkah kamu masuk neraka? Tidak inginkah kamu naik surga?

53.

Gatholoco alon ngucap, Kaya apa bisane nampik milih, wus pinêsthi mring Hyang Agung, sakehing kasusahan, iku dadi duweke marang wong lampus, dene sakehing kamulyan, dadi duweke wong urip.

Gatholoco pelan menjawab, Bagaimana bisa aku mau menolak (kehidupan)? Sudah menjadi kehendak Hyang Agung, (ketahuilah sesungguhnya apa yang dimaksud hidup dan mati itu), segala ‘kesedihan dan kesusahan’ (lahir berulang-ulang didunia) itulah yang disebut ‘kematian’, sedangkan segala ‘kemuliaan’ (lepas dari rantai kelahiran dan kematian), itulah yang disebut ‘kehidupan’.

54.

Yen wong urip iku susah, mêtu saking takdirira pribadi, ingkang gawe susah iku, dene Kang Maha Mulya, sipat murah puniku kagunganipun, nanging kabeh sipat samar, ora keno tinon lair.

Pun sesungguhnya jika manusia yang hidup didunia ini terus dilanda kesusahan, sesungguhnya itu juga karena hasil perbuatan pribadinya sendiri (karmaphala), itulah yang membuat kesedihan, sedangkan Yang Maha Mulia, sifat KASIH itulah sifat-Nya, akan tetapi semua tersamarkan, tak bisa dilihat oleh mata lahir. (Maksudnya ‘mata lahir’ adalah tak bisa disadari oleh mereka yang ‘mata’ kesadarannya belum melek, belum terbuka!)

55.

Sira ingkang tanpa nalar, endah-endah ingkang sira rasani, suwarga naraka iku, mangka katon wus cêtha, sapa-sapa ingkang mulya uripipun, iku ingkang manjing swarga, sapa mlarat manjing gêni.

Dirimu yang tak punya nalar, muluk-muluk yang kamu bicarakan, Surga dan Neraka itu, sesungguhnya telah terlihat nyata, siapa saja yang mulia hidupnya didunia ini, dialah yang masuk Surga, siapa yang melarat dialah yang masuk api.

56.

Ya iku manjing naraka, Kyai Kasan Bêsari amangsuli, Suwarga naraka iku, besuk aneng akerat, Gatholoco sumaur sarwi gumuyu, Lamun besuk ora nana, anane namung saiki.

Yaitu masuk (api) Neraka, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori) menjawab, Surga dan Neraka itu, (adanya) tergelar besok diakherat! Gatholoco menjawab sembari tertawa, Kelak tidak ada, yang ada sekarang ini!

57.

Kyai Guru saurira, Nyata nakal rêmbuge janma iki, maido marang Hyang Agung, lan sarak Rasulullah, pancen wajib pinatenan dimen lampus, lamun maksih awet gêsang akarya sêpining masjid.

Kyai Guru (Hassan Bashori) berkata, Benar-benar kurang ajar ucapan manusia ini, menghujat Hyang Agung, dan syari’at Rasulullah, wajib dibunuh agar mampus, jika masih awet hidup, akan membuat semua masjid sepi.

58.

Gatholoco alon ngucap, Ora susah sira mateni mami, nganggo gaman tumbak dhuwung, saiki ingsun pêjah, Kyai Kasan Bêsari asru sumaur, Iku lagi tatanira, wong mati cangkême criwis.

Gatholoco pelan menjawab, Tidak perlu repot membunuhku, dengan senjata tombak atau keris, saat inipun aku sudah mati, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori) keras membentak, Dasar tak tahu diri, mati kok mulutnya ceriwis!

59.

Awake wutuh lir rêca, Gatholoco alon dennya nauri, Yen patine kewan iku, nganti gograge badan, mati aking ya iku patining kayu, yen ilang patining setan, ingkang kaya awak-mami.

Dan badanmu masih tegak bagai arca, Gatholoco pelan menjawab, Hewan disebut mati, jika tubuhnya hancur lebur, tumbuhan disebut mati jika sudah kering, jika setan mati hilang tak diketahui jejaknya, tapi kematian manusia sesungguhnya.

60.

Ora mujud ora ilang, mangka iku ingsun uga wus mati, kang mati iku nêpsuku, mulane kabeh salah, ingkang urip budi pikir nalar jujur, pisahe raga lan nyawa, kinarya tundhaning lair.

Tidak bisa dilihat secara fisik juga tidak hilang (wujud) manusianya, ketahuilah sesungguhnya aku ini sudah mati, yang mati nafsuku, makanya aku mampu melihat kesalahan kalian, yang hidup adalah Budi (Buddhi:Kesadaran) dan menyisakan pikiran dan nalar yang jujur, terpisahnya Raga dan Nyawa, (itu bukan kematian) itu hanya proses menuju kelahiran kembali.

61.

Iku ingkang aran Sadat, pisahira Kawula lawan Gusti, lunga pisah têgêsipun, dadi Roh Rasulullah, yen wis pisah Ragane lan Suksma iku, Rasa Pangrasa lan Cahya, panggonane ana ngêndi.

Itulah yang disebut Sahadat (Kesaksian) yang sesungguhnya (Dalam kondisi seperti ini, dimana kita telah mampu terpisah dari Badan Fana dan murni menjadi Badan Sejati, disaat seperti inilah kita akan mengetahui apa itu makna Sahadat yang Sejati), pisahnya Kawula (Hamba : Badan Maya/Fana yang berasal dari alam) dengan Gusti (Tuhan: Badan Sejati/Brahman yang berwujud Atma yang selama ini terjebak Maya), murni menjadi Roh Rasulullah (Roh Utusan Allah/Atma yang suci kembali), manakala telah berpisah Raga/Badan Fisik dan Suksma/Badan Halus, Rasa berikut Perasaan (maksudnya juga Suksma/Badan Halus) dan Cahaya (maksudnya Atma atau Badan Sejati), lantas kemanakah perginya semua itu?

62.

Kyai Guru saurira, Bênêr ingsun luluh awor lan siti, Rasa lan Pangrasa iku, kalawan Cahya Gêsang, pan kagawa iya marang Suksmanipun, kabeh munggah mring suwarga, Sang Ijrail ingkang ngirid.

Kyai Guru (Hassan Bashori), Yang benar aku (Badan Fana) hancur menjadi tanah, sedangkan Rasa berikut Perasaan (Badan Halus) beserta Cahaya Hidup (Badan Sejati), dibawa oleh (Hyang) Suksma (Tuhan), semua naik ke Surga, Sang (Malaikat) Ijrail yang mengiringi.

63.

Lamun Suksmane wong Islam, kang nêtêpi salat limang prakawis, sarta akeh pujinipun, rina wêngi tan owah, anêtêpi jakat salat pasanipun, pitrah ing dina riyaya, yen katrima ing Hyang Widdhi.

Jika Badan Halus orang Islam, yang menjalani shalat lima waktu, serta banyak beribadah, siang malam tiada goyah, memenuhi zakat shalat dan puasa, zakat fitrah menjelang hari raya, jika diterima oleh Hyang Widdhi.

64.

Kaunggahaken suwarga, krana manut parentahe Jêng Nabi, kabeh oleh-olehingsun, kang wus kasêbut sarak, yen Suksmane wong kapir ingkang tan manut, dhawuhe Jêng Rasulullah, pinanjingakên yumani.

Akan naik ke Surga, karena menuruti perintah (Kang)jêng Nabi, yaitu semua yang aku jalani ini yang disebut syari’at, tapi Badan Halus manusia kafir yang tidak menuruti, perintah (Kang)jêng Rasulullah, dimasukkan tempat siksaan (Neraka).

65.

Awit mukir mring Panutan, yen wong kapir dadi satruning Widdhi, Gatholoco asru muwus, dene Ingkang Kuwasa, nganggo nyatru marang wong kapir sadarum, lamun sira tan pracaya, maring kudrating Hyang Widdhi.

Sebab telah melawan Panutan, manusia kafir itu menjadi musuh (Hyang) Widdhi, Gatholoco keras berkata, Sangat konyol jika Yang Maha Kuasa, memusuhi manusia kafir, kamu nyata tidak mempercayai, kepada Kekuasaan (Kasih) Hyang Widdhi.

66.

Maido kuwasaning Hyang, dennya karya warnane umat Nabi, anane kapir punika, sapa kang gawe kopar, lawan maneh ingkang karya uripipun, akarya bêja cilaka, tan liya Hyang Maha Suci.

Kamulah sesungguhnya yang menghujat Hyang (Widdhi)! Membagi-bagi manusia menjadi umat Nabi (dan yang bukan umat Nabi), adanya sebutan kafir itu, siapa yang membuat? Lantas pula siapa yang menciptakan mereka, yang memberikan kemuliaan dan celaka, tiada lain juga Hyang Maha Suci.

67.

Upama Allah duweya, satru kapir murtad marang Hyang Widdhi, bêcik sadurunge wujud, tinitah aneng dunya, dadi ora duwe satru ing Hyang Agung, yen mêngkono Allahira, iku ora duwe budi.

Jikalau Allah mempunyai, musuh yang disebut kafir yang katanya murtad kepada Hyang Widdhi, sebaiknya Dia tidak usah menciptakan, dan mentitahkan (orang kafir) hidup didunia, sehingga Hyang Agung (tidak repot-repot) mempunyai musuh (yang membuat Dia marah-marah), jikalau memang demikian Allah-mu, tidak mempunyai Budi (Buddhi :Kesadaran)!

68.

Dhêmên karya kasusahan, adu-adu wong Islam lawan kapir, beda kalawan Allahku, mêpêki ing aguna, anuruti sakarepe umatipun, ora ana kapir Islam, beda-beda kang agami.

Hanya membuat pekerjaan tak berguna, mengadu orang Islam dengan orang kafir, berbeda dengan Allah-ku, penuh kebijaksanaan, memberikan kebebasan bagi manusia, tiada yang disebut kafir dan Islam, manusia diberi kebebasan memeluk agama!

69.

Têgêse aran agama, panggonane ngabêkti mring Hyang Widdhi, ing sasêbut-sêbutipun, waton têrus kewala, tanpa salin agamane langgêng têrus, sapa kang salin agama, anampik agama lami.

Yang dinamakan agama itu, sekedar wadah yang mengatur tata cara untuk menyembah Hyang Widdhi, apapun sebutan (nama agama maupun menyebut Tuhan)-nya, asal terus memantapkan diri dalam satu jalan, tiada bersalin agama dan terus mantap (pasti akan diterima), (ketahuilah) sesungguhnya siapa yang berpindah agama, menolak agama lama (yang sudah ditetapkan Hyang Widdhi bagi dia).

70.

Iku kapir aranira, krana nampik papêsthene Hyang Widdhi, agamamu iku kupur, nampik leluhurira, sasat nampik papêsthenira Hyang Agung, panyêbutmu siya-siya, anêbut namaning Widdhi.

Itulah manusia kafir, karena menolak kepastian Hyang Widdhi, dirimu itu kufur, menolak (agama) leluhur, jelas menolak kepastian Hyang Agung (yang telah menetapkan bahwa agama leluhur Jawa adalah agama yang pas bagi orang Jawa), doamu seolah sia-sia, saat kamu menyebut nama (Hyang) Widdhi (dengan bahasa asing)

71.

Sira iku bisa kandha, lamun kapir Suksmane manjing gêni, Suksmane wong Islam iku, kabeh manjing suwarga, apa sira wis tau nglakoni lampus, wêruh suwarga naraka, panggonane aneng ngêndi.

Dan lagi kamu bisa mengatakan, apabila manusia kafir Badan Halusnya masuk kedalam api (Neraka), (sedangkan) Badan Halus manusia Islam, semua naik Surga, apakah kamu sudah pernah mati, sehingga tahu Surga dan Neraka? Dimanakah tempatnya?

72.

Kasan Bêsari angucap, kang kasêbut sajroning kitab mami, Gatholoco sru gumuyu, sira santri kêparat, ngandêl marang daluwang mangsi bukumu, nurun bukune wong sabrang, dudu tinggalan naluri.

(Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) menjawab, Itulah yang disebutkan dalam kitab! Gatholoco tertawa keras. Kamu santri bodoh, mempercayai begitu saja kepada kertas dan tulisan yang kamu sebut kitab, kitab yang kamu sadur begitu saja dari kitab milik orang seberang, bukan (kitab suci) yang sudah melekat semenjak dulu (dalam dirimu).

73.

Buku têmbung cara Arab, tan ngopeni buku saking naluri, sayêktine kabisanmu, mung kitab sembarangan, sira gawa oleh-oleh lamun lampus, katur marang Gusti Allah, bali ingkang duwe maning.

Kitab yang berbahasa Arab (saja yang kamu agungkan), tidak mempelajari kitab (suci) yang sesungguhnya (yaitu Suara Ruh/Nurani), sesungguhnya wawasanmu, kamu peroleh dari kitab sembarangan, (segala kesadaran dangkalmu hasil mempelajari kitab Arab) kamu bawa sebagai oleh-oleh saat kamu mati kelak, kamu haturkan (kesadaran semacam itu) kepada Gisti Allah, kepada yang mempunyai.

74.

Bakale apa katrima, krana iku kagungane pribadi, sakehe puji dikirmu, kabeh pangucapira, iku uga kagunganira Hyang Agung, mangka sira aturêna, bali marang kang ndarbeni.

(Kesadaran) semacam itu mana mungkin diterima? Karena semua ini adalah milik-Nya, seluruh puji dan dzikir-mu, seluruh ucapanmu, itu semua milik Hyang Agung, tapi kamu malah bermaksud mengembalikan, kepada yang mempunyai (maksudnya pemahaman merasa terpisah dengan Tuhan, terpisah dengan Sumber Semesta dan merasa bahwa manusia ini eksis sendiri, bukan wujud Tuhan, adalah pemahaman konyol menurut Gatholoco. Manusia itu nisbi, manusia itu tidak ada, semua ini adalah wujud Tuhan. Lantas jika ada yang meyakini, tubuh fisik ini milik kita yang dipinjamkan oleh Tuhan, dan nanti akan kita kembalikan kepada-Nya, pemahaman semacam itu masih kurang tepat menurut Gatholoco. Tidak ada pihak yang meminjamkan atau yang dipinjami. Yang ada hanyalah TUHAN. Yang meminjamkan dan yang dipinjami, hanyalah illusi. Illusi dari hasil mempelajari kitab-kitab seberang tersebut)

75.

Apa ora nêmu dosa, iku kabeh kagungane Hyang Widdhi, kêpriye olehmu matur, Kyai Guru saurnya, Sira iku maido kitabing Rasul, Gatholoco alon ngucap, Tan pisan maido mami.

Sangat berdosa dirimu, karena ini semua adalah wujud Hyang Widdhi, bagaimana kamu hendak menghaturkan (kembali), Kyai Guru menjawab, Kamu menghina kitab Rasul, Gatholoco pelan menjawab, Bukan sekali ini aku menghina.

76.

Sawuse sira tumingal, mring unine buku daluwang mangsi, landhatên kanyatahanmu, rasane saking sastra, sarta maneh sira iku mau ngaku, besuk lamun sira pêjah, anggawa sanguning brangti.

(Dengarkan) setelah dirimu membaca, segala yang tercantum dalam kertas bertuliskan tinta yang kamu sebut kitab suci itu, nyatakan dalam dirimu sendiri (jangan hanya meyakini secara buta), intisari dari sastra (ayat) yang sudah kamu pelajari. Dan lagi kamu tadi mengaku, kelak jika kamu meninggal, kamu membawa oleh-oleh yang sangat kamu cintai. (cinta dalam bahasa Jawa adalah BRANGTA/BRANGTI atau ASMARADANA. Menyiratkan pupuh selanjutnya adalah pupuh ASMARADANA)

Bagi teman-teman yang ingin membaca SERAT GATHOLOCO mulai bagian pertama, bisa klik dan cari pada catatan saya di akun face book ini atau klik :

http://www.damar-shashangka.blogspot.com/

(Bersambung)

(06 Juni 2010, by Damar Shashangka)